Zia Mukhlis
Zia Mukhlis Mahasiswa

Mahasiswa Universitas Al-Azhar- Pelajar Islam Indonesia- Forum Lingkar Pena- Komunitas Pelajar Aktif- Pikiran Yang Dipenakan

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Andaikan Habib Rizieq adalah Socrates maka Rocky Gerung adalah Diogenes

11 Januari 2019   22:17 Diperbarui: 16 Januari 2019   22:02 930 8 6
Andaikan Habib Rizieq adalah Socrates maka Rocky Gerung adalah Diogenes
tangkapan layar pribadi

Hari ini dan hari-hari sebelum ini kita sebagai penonton pentas politik tentu menyaksikan bagaimana kemeriahan, konflik dan kekonyolan yang sedang terpentaskan dihadapan kita. Serang dan saling menyerang selalu terjadi antara tokoh ini dan tokoh itu. Lapor demi lapor juga acap terjadi seolah tugas polisi hanya mengurus sentimen para elite.  Dari sentimen-sentimen itu berakhir dengan kegaduhan hingga masing-masing lupa dengan kewajiban yang seharusnya. Entah sampai kapan kita akan menyaksikan episode konflik ini, rasanya setiap episode adalah konflik, disangka konflik-konflik sebelumnya adalah klimaks, tapi kemudian datang lagi konflik baru. Jemu juga penonton dibuatnya.

Sang sutradara tak perlu memperkenalkan peran para pemainnya di credititle nanti, penonton dengan sendirinya bisa menilai siapa yang antagonis dan siapa yang protagonis. Dan ternyata semakin kesini alur ceritanya semakin menarik dengan muncul tokoh-tokoh baru yang unik dengan pesonanya sendiri.

Awalnya penonton sudah muak bin bosan dengan alur yang berulang-ulag dan datar, tiba-tiba muncul tokoh baru yang membuat alur cerita lebih meriah bahkan acap bikin ketawa penonton pecah.

Tokoh baru ini seperti pahwalan yang membawa cahaya dari kekelapan konflik yang bertele-tele. Sikapnya agak bebas hingga bisa masuk kemana saja, ucapannya ceplas-ceplos tapi benar, dan ocehannya selalu bikin orang terpikal tapi setelah itu orang merenung dari ocehannya tersebut. Siapakah dia?

Sekarang kita kembali ke masa Sebelum Masehi (SM), yakni era Yunani Kuno. Era yang tak jauh berbeda dengan kita hari ini, masyarakat sibuk dengan pencariannya masing-masing, tak peduli tentang hakikat dirinya, dan lebih memilih mengikuti alur yang ada.

Lalu muncullah seseorang yang bernama Socrates. Seorang filosof dan guru yang sangat dihormati. Setiap kalamnya adalah kebijakan, pribadinya luhur dan rendah hati.

Saking rendah hatinya saat dipuji oleh temannya Oracle delphi, "anda adalah orang paling bijak", iapun pergi untuk membuktikan bahwa ia bukanlah seorang yang bijak.

Ia pergi berdiskusi dengan orang-orang besar di masyarakat untuk membuktikan bahwa ia hanyalah orang bodoh. Walaupun alhasil yang menang dalam diskusi adalah Socrates namun tetap ia merasa orang paling bodoh.

Hingga keluarlah sesuatu dari lisannya Socrates yang hingga hari ini dikutip oleh banyak orang,"satu-satunya yang aku tahu adalah bahwa aku tidak tahu apa-apa".

Socrates adalah orang bijaksana yang diakui oleh masyarakat Yunani Kuno. Ia tak pernah mengajarkan dan mendiktekan orang lain, ia hanya bertanya dan membuat orang lain berpikir akan hakikat dirinya dan kehidupan ini. Hingga lawan bicaranya merasa tercerahkan oleh pikirannya sendiri, padahal yang mengarahkannya adalah Socrates.

Namun sayangnya hubungan Socrates dengan elite politik tidak harmonis, ia dituduh telah meracuni pikiran anak-anak muda. Hingga akhirnya ia diberi racun dan mati.

Salahkah Socrates hingga ia diracun? Semua orang sepakat bahwa Socrates adalah orang bijak, namun ternyata elite politik anti dengan pikirannya yang membuat orang berpikir tersebut alias mencerahkan. Namun begitulah orang yang menyerukan kebaikan, akhirnya selalu tragis dan kita mengenangnya sebagai pahlawan.

Tapi ternyata di zaman itu masih ada orang bijaksana lainnya. Plato menyebutnya Si Socrates yang gila. Ya, ia memiliki misi yang sama seperti Socrates mencerahkan pikiran-pikiran masyarakat tapi dengan gayanya yang konyol, alias lucu, makanya Plato memanggilnya Socrates yang gila. Siapakah dia? Kita panggil dia, Diogenes.

Diogenes adalah filosof yang hidup sezaman dengan Plato. Kedua tokoh besar ini sangat kontras, mulai dari cara berpikir hingga hubungan dengan elite politik. Jika Plato memiliki murid yang hebat seperti Aristotales yang dekat dengan elite politik, maka Diogenes sangat tidak tertarik dengan elite politik. Bukti kedekatan Aristotales dengan elite adalah dengan pernahnya ia menjadi guru dari pahlawan agung Alexander The Great.

Sedangkan Diogenes disalah satu kisahnya dengan Alexander; Syahdan, suatu hari Alexander berkunjung ke gubuknya Diogenes. Alexander mengatakan,"sebutkan apa permintaanmu akan ku kabulkan. Jika kau ingin tahta, uang dan apapun akan ku kabulkan, Diogenes?", Diogenes kebetulan waktu itu sedang berjemur dibawah terik matahari, dengan jengkel ia menjawab, "cukup anda minggir yang mulia, saya ingin menikmati cahaya matahari".

Itulah potongan kisah Diogenes dengan Alexander The Great sang penguasa sepertiga dunia yang membuat kita geleng-geleng kepala

 Namun begitulah Diogenes ia tak peduli dengan jabatan elite sedikitpun. Pernah juga suatu hari Diogenes memberi suatu kajian, tapi tak ada seorangpun yang mendengarkannya.

Maka ia pun menari-nari sambil bersiul, sontak orang-orangpun mengerumuni dirinya. Diogenespun berhenti dan berkata, "kalian orang-orang idiot. Kalian tidak tertarik dengan kajian kebijaksanaan, tapi tertarik dengan hal konyol".

www.ancientpages.com
www.ancientpages.com
Kira-kira siapakah Socrates hari ini, dan siapakah Diogenes hari ini?

Seolah Socrates hari ini adalah Habib Rizieq Shihab, kenapa demikian? Sebab seolah ia hari ini keluar dari gelangga pertempuran layaknya Socrates yang diracuni. Dengan berdomisilinya ia hari ini di Arab Saudi serta terbatasnya pergerakannya untuk memimpin umat membuatnya seperti Socrates yang mendapatkan pertentangan dari elite politik.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2