Zia Mukhlis
Zia Mukhlis Mahasiswa

Mahasiswa Universitas Al-Azhar- Pelajar Islam Indonesia- Forum Lingkar Pena- Komunitas Pelajar Aktif- Pikiran Yang Dipenakan

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup Artikel Utama

Inilah Budaya Orang Mesir yang Bikin Kamu Takjub

11 Februari 2018   15:12 Diperbarui: 13 Februari 2018   14:01 2476 6 4
Inilah Budaya Orang Mesir yang Bikin Kamu Takjub
Foto: islamic-arts.org

Saat berbicara tentang budaya tentu kita takkan bisa lepas dari yang namanya masyarakat, karena masyarakat tersebutlah yang menciptakan budaya. di zaman now yang sudah banyak terpengaruh dengan arus globalisasi dan lahirnya generasi yang milenial banyak memberikan dampak yang negatif terhadap budaya suatu bangsa, bahkan dunia sekalipun. 

Contohnya saja kita di Indonesia betapa besarnya pengaruh globalisasi terhadap kebiasaan kita (budaya), dulu kita dikenal sebagai bangsa yang suka bergotong royong dalam berbagai aktivitas, namun sekarang istilah 'gotong royong' tersebut sangat tabu kita dengar untuk zaman ini, karena kita disibukkan dengan aktivitas kita sendiri-sendiri, memikirkan diri sendiri hingga lupa berkenalan dengan tetangga sebelah. 

Belum lagi gadget yang melanda semua umur, budaya mager (malas gerak) menjadi tren baru bagi anak muda. semua ini berefek kepada hubungan kita dengan sesama, timbulnya budaya cuek, gak peduli, loe loe gue gue, ngapain ngurusin hidup orang mendingan urusin diri loe sendiri de el el.

Nah yang menariknya walaupun arus globalisasi dan generasi milenial telah lahir tapi itu semua gak berpengaruh terhadap masyarakat Mesir, mereka tetap kokoh dengan kebiasaan (budaya) positif mereka,hingga seolah-olah mereka terjaga dari pengaruh negatif tersebut. mungkin karena berkah negeri para Nabi ya?

Yuk kita simak apa saja budaya masyarakat Mesir yang akan bikin kamu takjub bahkan sampai membuat imanmu terpacu loh!

Pertama, "Ramah", watak asli dari penduduk padang pasir ini sebenarnya keras dan tempramen lo, negeri yang panas dan jarang hujan mempengaruhi kepribadian mereka, biasanya karena masalah sepele mereka bisa langsung adu mulut dan marah-marah, tapi kalo udah sama wafidin, begitu mereka menyebut 'warga asing', mereka ramahnya minta ampun.

Memang sesama mereka mereka agak keras mungkin itu hal yang biasa bagi mereka tapi ketika mereka bermuamalah dengan wafidin tak ada manusia yang lebih ramah dari mereka, apalagi jika sama orang Indonesia, mereka sangat senang sekali dengan kita yang bersifat sopan dan beradab.

Ada banyak dosen dan guru di kampus yang suka dengan sikap mahasiswa dari Indonesia karena kesopanannya, beda dengan sebagian mahasiswa yang kurang sopan dan semaunya saja. keramahan masyarakat mesir ini akan berubah menjadi cinta dan kasih sayang jika kita pandai mengambil hati mereka orang Mesir.

Pernah suatu kali pengalaman penulis dengan dengan orang Mesir, ketika itu kami hendak akan menyewa salah satu rumah orang Mesir, penulis yang waktu itu sudah tau akan watak orang Mesir yang suka dipuji dan diperlakuakan lebih sopan maka penulis puji sewajarnya si tuan rumah diperlakukan ia secara sangat sopan.

Ternyata mengena di hatinya hingga yang biasanya sewa rumah itu ada uang jaminannya kali itu penulis dilepaskannya dari jaminan tersebut, bahkan ada teman penulis yang juga orang Mesir ikut menemani terkejut juga, "baru sekali ini ada sewa rumah yang tanpa jaminan!", ujar teman penulis orang mesir tadi,.

Bukan hanya itu, fasilitas rumah juga dilengkapi oleh tuan rumah tadi, seperti listrik yang sempat bermasalah langsung ia yang turun tangan, mesin cuci dan penghangat air juga akan ia siapkan untuk kami yang akan menempati rumahnya. luar biasa.

Kedua, "suka menasehati", ini pengalaman teman penulis yang kala itu ia menjadi imam di salah satu mesjid di Mesir, saat itu kami hendak akan shalat maka biasanya mahasiswalah yang diminta menjadi imam, majulah teman penulis ini.

Saat itu adalah shalat maghrib bacaan surat yang ia baca sangat ringkas sehingga banyak jamaah yang masbuk olehnya, usai sholat mendekat seorang bapak kepada teman saya dan membisikkan sesuatu, tampak dari raut muka teman saya ia tersenyum malu. 

Di pintu luar langsung teman saya yang jadi imam tadi terkagum-kagum menceritakan si bapak yang menasehatinya karena bacaannya terlalu ringkas sehingga banyak jamaah yang masbuk(terlambat).

"Begitu halus dan berani si bapak menasehati saya, andaikan budaya seperti ini ada di Indonesia betapa gembiranya saya, sayang di Indonesia jika kita melakukan kesalahan seperti tadi mungkin akan langsung di sindir atau digunjingin ya?" Ujar teman saya tadi.

Ketiga, "tidak pendendam", masyarakat Mesir adalah masyarakat yang pemberani bahkan anak kecil sekalipun, berapa sering ditanya oleh anak-anak Mesir 'siapa namamu?', 'apa kabar?' dan bahkan di awal-awal dulu ada anak kecil yang kepoin saya tapi saya kala itu masih baru tak paham dengan apa yang disampaikannya.

Tapi ia tetap sabar bertanya dengan saya, saya sendiri tak sabar ingin pergi darinya, bisa-bisanya ia sabar bicara dengan orang yang tak paham dengan apa yang ia bicarakan. nah sikap berani tersebut membuat mereka berani menasehati siapapun, jika nampak siapapun tersalah, yang lain akan dengan senang hati menasehati.

Namun jika membandingkan dengan di Indonesia, ketika ada orang yang menasehati kita, rasanya ada dongkol dan berubah raut muka, tapi beda dengan masyarakat Mesir, mereka terima nasehat tersebut dengan lapang hati dan tanpa dendam, luar biasa.

Keempat, "Cinta Nabi", di atas telah kita sebutkan bahwa watak mereka yang tinggal di negeri yang panas dan padang pasir ini adalah keras, acap terjadi perseteruan dan adu mulut karena perkara kecil, pernah suatu ketika penulis menyaksikan pertengkaran dan itu membuat orang-orang berkumpul termasuk penulis.

Tiba disana disaat sedang puncak-puncaknya emosi mereka yang berseteru meledak datanglah seseorang dengan mengatakan 'shollu 'alannabi'(shalawat kepada Nabi Muhammad) dengan seketika mereka yang berseteru tadi bersholawat dan langsung emosi mereka meredam dan mereka saling berpelukan, subhanallah, masalah selesai dengan shalawat!. penah juga suatu ketika penulis hendak membeli keperluan di sebuah toko, setelah bayar maka penulis langsung pergi.

Tiba-tiba dari belakang ada yang memanggil-manggil 'Muhammad...Yaa Muhammad', sontak saya menoleh kebelakang, ternyata si penjaga toko memanggil saya karena saya lupa mengambil uang kembalian, karena kecintaan mereka kepada Nabi Muhammad mereka memanggil orang yang tak mereka kenal dengan nama Muhammad sekaligus menghormati orang yang tak dikenal, subhanallah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2