Mohon tunggu...
Zainal Hartoyo
Zainal Hartoyo Mohon Tunggu... Dosen pada salah satu perguruan tinggi di Jambi

Diberi kepercayaan sebagai Pengelola Mutu dan Akreditasi Instansi

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Harapan Kampus pada Mendikbud Baru

15 November 2019   07:08 Diperbarui: 15 November 2019   07:09 0 0 0 Mohon Tunggu...

Program studi yang belum terakreditasi  itu sangat banyak. Di kampus-kampus di seluruh negeri. Itu dulu. Dulu sekali.

Pemerintah membuat aturan. Akreditasi itu wajib. Tidak terakreditasi siap-siap kena teguran. Bahkan program studi  bisa ditutup.

Waktu berlalu. Kini jumlah program studi yang tidak terakreditasi menurun drastis. Namun, jumlah yang lain meningkat yakni terakreditasi minimal. Akreditasi yang paling rendah.

Sudah lumayan memang daripada tidak terakreditasi.

Yang terakreditasi unggul dan baik juga meningkat banyak. Peningkatannya sangat luar biasa. Namun, ada juga status akreditasinya berbanding terbalik dengan kualitas yang sesungguhnya dari program studi tersebut.

Ada yang curiga. Muncul kabar angin. Katanya banyak yang mengakali supaya program studi terakreditasi baik atau unggul.

Selain kabar angin itu, tuntutan perkembangan teknologi yang katanya teknologi 4.0 menjadi dasar pertimbangan BAN-PT untuk meninjau ulang instrumen akreditasi yang mereka gunakan.

Mencul instrumen akreditasi baru. Dulu 7 standar, yang baru 9 kriteria. Bukan standar atau kriterianya saja yang berubah, tetapi semuanya.

Kampus-kampus merespon. Belajar instrumen yang baru. Semakin dipelajari semakin ketahuan sulit dan rumitnya. Akhirnya, bingung.

Sebanarnya bukan bertambahnya kriteria yang menjadi persoalnya. Instrument baru ini kabarnya sulit diakali. Hal yang diases bukan hanya dokumen, tetapi juga proses.

Ahli-ahli BAN-PT didatangkan ke kampus-kampus untuk mengkaji instrumen yang baru. Banyak anggaran melayang. Masih bingung juga. Masih meraba-raba.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x