Novel

Jejak Berbicara

4 Desember 2018   10:23 Diperbarui: 4 Desember 2018   15:09 247 0 0

Bagian 1

  Entah.Tampaknya diriku sudah banyak berubah. Semenjak menjadi pengangguran. Selesai masa kerja kontrakku dari salah satu pabrik dibidang manufacture tableware. Sebelum-sebelumnya memang pernah kumenganggur juga. Tetapi baru kali ini pemikiranku agak sedikit meluap-luap. Dilingkungan tempatku tinggal, diperadaban tempatku bergaul. Barang siapa tidak bekerja dipabrik, ya disebut penganggur. Memang suatu hal yang logis, jika berpendapat seperti itu. Bekerja dipabrik memang kegiatan yang paling aktif setiap harinya dan mendapatkan penghasilan jelas setiap bulannya. Terkadang aku kecewa dan kesal. Karna tidak dapat menebak, soal melamar pekerjaan itu, tidak bisa dijawab sulit dan juga tidak bisa dijawab mudah. Biar kuperkenalkan diri dulu kepada semua. Namaku Muhammad Zean Ara. Umurku 23 tahun. Masih muda kelahiran tahun 1995. Panggil saja Zean, karna orang-orang pun begitu memanggilnya. Ini pertamaku menulis. Bukan sedang berada di dalam ruangan. Dibawah pohon rindang pun juga tidak, apalagi ditempat-tempat yang mendukung. Tulisan pertamaku ini terketik di aplikasi handphone yang bernama Note. Ditempat area parkir khusus orang-orang yang mempunyai kesibukan urusan kantor. Suasana pagi itu, tepat pukul tujuh lewat dua puluh menit waktu indonesia barat. Kerongkonganku telah tergoda oleh pedagang kopi asongan yang melintas dari pandanganku. Pak. Pak. Kopi. Dengan raut wajah yang tersenyum persis wajah kesenangan pada pagi hari. Pesan kopi apa Om. Jika pagi, aku memang senang sekali bila disampingku terdapat secangkir kopi hitam. Setiap adukan aku berharap dalam andai. Agar pula kerongkongan ini disempurnakan olehnya dan disempurnakannya juga pagi yg nikmat ini. Pak. Aku pesan kopi hitam. Satu. Bapak itu layak seperti Barista, penyuguh kopi dan pengantar kehangatan dipagi yang indah ini. Silahkan. Om. Setelah aku membayarnya dengan seharga dua ribu rupiah. Bapak itu langsung pamit minta diri ingin pergi berkeliling lagi. Terimakasih pak. Gumamku. Kau pasti tidak sengaja lewat sini.

  Seminggu, sebelum masa kerja kontrakku berakhir. Pikiran ini jadi tidak Stabil. Apalagi mengenai pekerjaan, tiba-tiba membledak begitu saja. Ada saja Schedule tambahan kerja dari Boss

  Pagi pertama, yang akan temu pada berakhirnya kontrak dalam seminggu. Sungguh menguras pikiran dan energi. Aku sudah dijadwal untuk pergi keluar kota mengambil bahan baku yang sudah di Order oleh bagian Purchasing. Jadwal dadakan itu membuatku menghela nafas, padahal aku sudah pernah berangkat sebelumnya. Seharusnya memang bergantian dengan yang lain. Dengan hati yang rela mengikuti perintah dari Boss. Senyum kecil dalam kekecewaan yang aku sembunyikan itu semoga tidak diketahuinya. Setelah mendapatkan perintah tersebut, aku mendengar seseorang telah memanggilku, dari balik lemari khusus arsip Document.  Zean. Zean. Rupanya Ibu Ajeng yang telah memanggilku. Ia sedang menyantap sarapan paginya. Iya, Bu. Aku menghampirinya. Sambil mengunyah sarapannya itu, Ibu Ajeng melanjutkan apa yang hendak ingin ia bicarakan:

" Zean, kamu seminggu lagi habis kontrak yah? ".

" Iya Bu, aku sebentar lagi habis kontrak ".

" Kamu gausah capek-capek kerjanya ya zean. Nanti biar Ibu yang coba Handle ".

" Sebelumnya terima kasih Bu, tapi ini tanggung jawabku. Ibu selalu baik sama aku ".

" Begitulah Boss kita, kita harus sigap ".

" Kamu sudah sarapan zean? Kamu pasti gasiap bekal yah mau ke cikarang ".

" Aku sudah sarapan Bu dirumah. Aku juga bawa uang lebih ko Bu. Nanti beli di Warung Nasi ".

  Begitulah Ibu Ajeng, selain Team pada tempatku bekerja. Beliau juga menjadi sosok pengganti Ibuku, disaat aku sedang tidak bersama Ibu dirumah. Penuh kasih dan perhatian. Nama lengkap Ibu Ajeng adalah Ajeng Purnama Ningsih. Ibu Ajeng berumur 48 tahun. Mempunyai satu orang anak laki-laki dari pernikahannya dengan Pak Wisnu Nurmantyo. Pak Wisnu adalah seorang pemimpin. Mempunyai jabatan sebagai kepala bagian dipabrik tempatku bekerja. Beliau berumur 53 tahun. Pak Wisnu adalah sosok yang tegas dan berani beragumen jika yang dipikirnya itu benar. Menjadikannya sosok yang berani dan tegas. Totalitas pada pekerjaannya jangan dipertanyakan lagi. Terkadang juga ia lupa pada umurnya yang pasti. Selalu berjiwa muda dan dikenal dekat dengan para anak buahnya. 

  Langit sore hari saat itu sungguh gelap, ingin hujan rupanya. Perjalananku sehabis pulang dari luar kota itu hanya tinggal berjarak dua ratus meter lagi. Kulihat para karyawan pabrik dari kejauhan sudah mulai bermenceran untuk pulang kerumahnya masing-masing.

(Bersambung)