Mohon tunggu...
Zarro Akbarur Rizky
Zarro Akbarur Rizky Mohon Tunggu... Mahasiswa - Jomblo

Kakimu bukan akar,melangkahlah #fiersabesari

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Ruang Ilusi

10 Agustus 2022   06:58 Diperbarui: 10 Agustus 2022   06:59 49 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Perlahan aku melangkahkan kakiku. Seperti kubah yang berlapis rumput safana. Hanya barisan bukit-bukit hijau yang hampa tanpa pohon. Tak dapat kulihat secuil jejak pemukiman. Aku haus, lapar, badanku teramat lusuh. Entahlah, aku lupa atas apa yang sudah terjadi kepadaku. Mengapa bisa sampai di tempat yang terpencil ini. Bukankah sebelumnya sedang bersenang-senang di atas Bukit, berlari, memacu adrenalin. Ah pening sekali kepalaku ini. Tak dapat kuingat lebih jauh mengenai masa masa sebelum tersesat di tempat yang aneh tiada penghujungnya ini.

Aku berjalan ke bawah, turuni jengkal demi jengkal. Meski terseok perlahan merasakan betapa perih luka di kakiku. Anehnya tak kulihat setitik darah yang mengalir. Mungkin luka dalam yang kuderita. Bahkan aku tak bisa menemukan letak bukit di mana aku berada sebelumnya. Aku melihat ke berbagai arah. Hempasan angin yang membelai lembut. "Sudah cukup! Aku mulai muak dengan barisan bukit ini! Mengapa sulit sekali aku keluar dan menemukan kehidupan dari tempat aneh yang pernah kutemui. Aku lelah, ingin pulang. Tempat ini tak ada bagus-bagusnya. Konyol! Keluarkan aku dari sini!" Ocehanku menggema di Bukit Safana. Memantulkan suara, merambatkan bunyi melalui udara kemudian perlahan masuk ke dalam lubang telingaku. Tak kuhiraukan letih tubuhku ini. Hanya satu tujuanku, aku harus bebas dari sini, di saat tenaga yang tersisa hanya setetes saja. Aku terus menerus menghardik diriku sendiri. "Perempuan macam apa kau! Untuk berjalan melewati tempat ini saja tidak kuat." Tiba-tiba mataku seperti tersihir untuk segera menutup, terlelap dalam kenyamanan rumput, terbuai oleh mesranya angin.

"Sudahlah, nak! Tidak perlu kau teruskan hobimu yang tidak jelas itu. Jangan lanjutkan kegiatanmu yang selalu pergi menemui alam. Alam tak seindah yang kau lihat, nak! Lebih baik kau tekuni dan fokus ke pekerjaanmu. Itu lebih aman dan menjanjikan." Kalimat sepanjang itu hanya kubalas dengan senyuman. Aku sudah kenyang dengan kalimat seperti itu. Ibu tak henti-hentinya mengingatkan dan melarangku untuk menekuni hobiku. "Sudahlah, bu. Tak perlu teruskan menasehati Dayinta. Dayinta sudah besar jadi tahu mana yang baik dan mana yang buruk!" Ibu tidak pernah paham dengan keinginanku. Terlintas dalam pikirku bahwa ibu tidak menginginkan aku bahagia

Duniaku begitu berwarna saat berada di luar rumah, bebas melakukan apa yang kumau, aku suka dangan kegiatan alam terbuka, saparti sudah kecanduan dengan adrenaIin-adrenalin yang tercipta ketika aku berada di Alam terbuka

Mataku masih begitu berat, kubuka perlahan. Mengerdip beberapa kali untuk mencari fokus mataku, dan aku bisa melihat dengan jelas tanpa ada bayangan yang kabur saat kutatap. "Di mana lagi ini? bukankah tadi aku berada di tengah-tengah barisan bukit yang begitu aneh? Tunggu! Sepertinya aku mengenal tempat ini. Ini kamarku, kamar yang selalu kurindukan kehangatannya." Aku bangkit dari ranjangku. "Kenapa kakiku terasa tak sakit lagi? Badanku terasa begitu ringan." Kumelangkah menuju meja belajarku. Terdapat foto bersama temanku ketika pendakian ke Gunung Arjuna 16 Agustus 2014. "Bukankah foto itu pada tahun 2016? Lantas mengapa menjadi 2014? Aneh sekali," Ini sangat membingungkan.

Kudengar sayup-sayup suara. Ku ikuti suara yang berada di luar kamar, Tunggu, tunggu dulu, ada yang aneh Aku bisa menembus pintu kamarku! "Ya Tuhan, apalagi ini?," belum hilang rasa penasaranku terhadap .

Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan