Mohon tunggu...
zaldy chan
zaldy chan Mohon Tunggu... Administrasi - ASN (Apapun Sing penting Nulis)

cintaku tersisa sedikit. tapi cukup untuk seumur hidupmu

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Artikel Utama

Tergerus Zaman, Mungkinkah Bahasa Ibu "Terjebak" dalam Gengsi?

21 Februari 2021   15:13 Diperbarui: 21 Februari 2021   20:02 950
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
ilustrasi ibu dan Anak (sumber gambar: pixabay.com)

Siapa yang bertanggung jawab? Beberapa alternatif sesungguhnya pernah ditawarkan. Lingkungan dan keluarga bertanggung jawab di lingkaran awal. Kemudian, lembaga pendidikan bisa membuat pembiasaan penggunaah bahasa daerah. Jadi, tak hanya "English Day" atau "Yaumul Lughah al 'araby" tapi juga semisal "Sedino Boso Jowo", "Susudaan" dan seterusnya.

Susahnya. Dalam kurikulum, keberadaan yang beraroma kedaerahan, masih diletakkan pada posisi muatan lokal (mulok) bukan wajib. Padahal, semua sepakat dengan kalimat "wajib" melestarikan budaya bangsa. Tumpang tindih antara kenyataan dan harapan, kan?

ilustrasi bahasa Gaul yang digunakan anak muda saat ini (sumber gambar: detik.com)
ilustrasi bahasa Gaul yang digunakan anak muda saat ini (sumber gambar: detik.com)
Bahasa Ibu dan Bahasa Indonesia versus Bahasa Gaul

"Bahasa daerah hanya dimengerti sebagian orang, Bro! Maka, gunakanlah bahasa Indonesia."

Aih. Aku pun sepakat dengan ujaran itu. Bahwa bahasa Indonesia menjadi solusi paling logis untuk mengatasi perbedaan makna jika berkomunikasi dan berinteraksi dengan bahasa ibu.

Namun, seberapa kuat menggunakan dan mempertahankan hal itu dalam keseharian. Apalagi jika berhadapan dengan anak muda? Tak hanya bahasa asing, namun juga "jajahan" bahasa gaul. Aku cerita pengalamanku, ya?

"Uni, kita jalan, yuk?"

"Lagi mager, Yah!"

"Aih. Ayah jalan dengan Kakak aja!"

"Ciyeee! Ayah baper?"

Begitulah! Pilihan kata dalam komunikasi sekarang, susah ditebak! Karena memiliki anak jelang remaja, sebagai ayah aku musti cepat beradaptasi dalam berkomunikasi, biar tak salah-salah mengerti.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bahasa Selengkapnya
Lihat Bahasa Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun