zaldy chan
zaldy chan Administrasi

cintaku tersisa sedikit. tapi cukup untuk seumur hidupmu

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup Pilihan

Berani Sesudah Salah

26 April 2019   11:30 Diperbarui: 26 April 2019   14:44 317 31 18
Berani Sesudah Salah
Sumber: pixabay.com

Peraturan pertama, senior selalu benar. Peraturan kedua, jika ada kesalahan lihat peraturan pertama. 

Pernah dengar, kan? Kode etik ajaib ini, acapkali berseliweran di perbincangan para junior jika kesal terhadap senior. Tapi tak punya "keberanian" melawan. Tentu saja, senior pernah atau bisa berbuat salah. Kan, manusia? Nah, makhluk manis yang bernama manusia pasti pernah membuat kesalahan, tah? Sepakat?

Hanya terkadang, manusia yang disebut senior, semisal penguasa negara, pimpinan perusahaan, atasan di tempat kerja atau orang tua di rumah. Ada kecenderungan sungkan mengakui kesalahan. Apalagi kepada manusia yang dianggap "berderajat" lebih rendah dalam hal pengetahuan, pengalaman, kekayaan atau kekuasaan.

Kesalahan fatal dan kasat mata sekalipun, sedapat mungkin ditutup-tutupi. Bahkan dengan membuat kesalahan yang baru lagi! Susahnya, hal itu akan menjadi "tiruan" para junior, jika nanti naik pangkat menjadi senior. Ahaaay...

Ini, ada dua contoh sederhana. Pernah berpesan pada anak "Bilangin, Ayah lagi tidur...", ketika ada seseorang menelpon atau akan bertamu? Misal yang lain, saat suami menelpon ingin tahu keberadaan anak dan istri, karena sudah maghrib belum pulang ke rumah. Istri menyuruh si anak menjawab, "Bilang masih di jalan. Sebentar lagi sampai rumah!", Padahal saat itu, Sang Istri dan Anak masih menikmati semangkok bakso?

Kenapa tidak berusaha jujur saja? Akan ada berbagai dalih dan alasan, juga sebab melakukan hal itu, ya? Namun "Dua kesalahan" kecil yang dianggap tak penting itu, berdampak besar mengurangi kepercayaan dan nilai kejujuran anak kepada orang tua, kan? Bahkan menjadi "pupuk" bagi anak. Siap-siap saja, dan jangan ngamuk-ngamuk bin mencak-mencak. Jika suatu saat, anak pun akan lakukan hal itu, dan orang tua yang jadi korbannya! Hiks...

Sumber: pixabay.com
Sumber: pixabay.com

"Mendidik kepintaran di otak anak saja dan tidak pada moralnya, dapat menjadi ancaman pada masyarakat di kemudian hari" [Theodore Rooselvelt]         

Bukti dan dampak quote diatas, bisa dilihat dari contoh dengan maraknya kasus korupsi. Ketika kepercayaan dan kejujuran menjadi barang mahal, padahal itu musti ditanamkan sejak kanak-kanak. Namun, bila dalam keseharian anak-anak terbiasa dalam ketidakjujuran. Nuraninya bakal tumpul dan tak merasa bersalah jika melakukan atau mengatakan kebohongan. Gawat, kan?

Menurut Patt dan Steve Sasso, yang terpenting itu membentuk "karakter yang baik". Setiap manusia memiliki hati nurani sebagai elemen dari karakter yang baik. Yaitu mendengarkan hati nurani dan menerapkan nilai-nilai moral dalam setiap tindakan. Meskipun manusia tak selalu mengikuti hati nuraninya. Maka dibutuhkan integritas dan keberanian untuk melakukan apa yang benar dalam situasi apapun.

Karakter itu, meliputi pengetahuan dan kepedulian akan kebenaran, serta melakukan hal-hal yang benar. Bahkan ketika menghadapi tekanan atau godaan. Masih menurut Patt dan Steve Sasso, ada tiga "C" yang membentuk karakter seseorang.

Pertama, Consience (hati nurani/kesadaran). Hati nurani, bisa diistilahkan dengan suara hati, suara bathin atau kata hati. Jika dimaknai secara luas, hati nurani adalah kesadaran moral, yang tumbuh dalam diri manusia serta mempengaruhi tingkah laku seseorang.

Hati nurani, erat kaitannya dengan kesadaran diri. Dalam artian, seseorang yang memiliki hati nurani, berarti dia memiliki kesadaran membedakan antara tindakan yang benar dan yang salah. Dan ini bersifat intuitif (pemahaman sesuatu tanpa penalaran rasional). Aih, jadi teoritis gini, ya? Haha..

Kedua, Compassion (Kepedulian Diri /Empati), rasa peduli atau empati terhadap penderitaan atau kesulitan pada orang lain atau diri sendiri. Biasa disebut juga dengan "Peka". Terus, bagaimana cara mencari tahu kita peka?

Jika, merasa tersentuh oleh penderitaan orang lain, menyadari kesulitannya. Dan kemudian menanggapi secara memadai bahkan timbul hasrat ingin membantu. Bukan sekedar tangisan bombay! Atau menyadari bahwa penderitaan, kegagalan dan ketidaksempurnaan adalah bagian dari pengalaman manusia. Bila kita sudah begitu, selamat! Artinya termasuk orang yang peka. Ahaaay...

Ketiga, Courage (Keberanian). Keberanian disini bukan semisal memiliki nyali melakukan bunggee jumping, atau jadi matador dalam arena adu banteng. Tapi keberanian untuk melakukan sesuatu menurut nilai-nilai yang baik, meskipun di bawah tekanan, godaan atau bahkan saat tidak sedang dilihat orang lain.

Fleming H Revel, menyatakan keberanian adalah "kemauan untuk tetap berdiri di tempatmu". Keberanian bukan bermakna bahwa selalu menjadi yang terbaik, atau tak persis dianggap kita lebih tangguh dari lawan atau orang lain. Tapi berani berdiri di hadapan mereka, apapun keadaannya. Winston Churchil malah secara sederhana mendefinisikan keberanian sebagai "sebuah tindakan dalam kebenaran". Tuh, kan?     

Sumber: pixabay.com
Sumber: pixabay.com

Jika memiliki ketiga "C" ini, kukira takkan lagi ada kesalahan kecil yang tak perlu, atau pembiaran  kebohongan yang disengaja, seperti contoh di atas tadi, kan? Dan, kita bisa dianggap manusia yang berkarakter. Walau sebagai manusia, tak luput dari kesalahan. Namun "dituntut" untuk menumbuhkan sisi kemanusian dengan berbuat baik, mengakui kesalahan, dan memaafkan kesalahan sesama.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2