Mohon tunggu...
Zaki Mubarak
Zaki Mubarak Mohon Tunggu... Dosen -

Saya adalah Pemerhati Pendidikan tinggal di Tasikmalaya.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Full Day School, Gerbang Sekularisme?

13 Agustus 2017   07:23 Diperbarui: 13 Agustus 2017   11:05 1128
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Dalam sebuah seminar guru-guru Pendidikan Agama Islam (PAI), saya bertanya tentang siapa yang paling berperan mendidik agama. Sebagaimana kita tahu bahwa di negeri ini ada begitu banyak lembaga yang memiliki peran pendidikan keagamaan. Ada pendidikan formal yang diwakili oleh PAI, ada pendidikan Madrasah Diniyah (Madin), ada Pendidikan Taman Al Qur'an (TPA/TPQ), ada program Magrib mengaji, ada Pesantren Kalong, ada Pesantren Mukim, dan tentu saja ada pendidikan oleh keluarga di rumah.

Pertanyaan mendasar saya adalah, "Lembaga mana yang paling memberikan konstribusi tinggi Ibu Bapak dalam mengetahui agama? Lembaga mana yang membuat ibu bisa sholat? Lembaga mana yang membuat Bapak bisa membaca Al Qur'an?" Jawabannya serempak kira-kira 85% lebih "Madin". 15% nya ada yang menjawab keluarga, pesantren dan lainnya. Tidak ada terdengar satu pun mereka yang menyebutkan lembaga sekolah. Padahal, mereka adalah guru PAI di sekolah. Guru yang bertanggung jawab atas pendidikan agama siswanya.

Berkaca dalam kasus ini, ternyata secara faktual Madin memiliki posisi strategis dalam pendidikan keagamaan kita. Ia mengajarkan pengetahuan agama yang bukan hanya konseptual, tetapi prosedural, faktual, metakognitif melalui pendekatan praktis dan sosiologis. Nah, bila saja Fuldays School (FDS) dengan landasan permen 23 tentang lima hari sekolah, maka dapat dipastikan bisa "membunuh" Madin yang berperan tadi. Lantas, apakah ini menjadi sebuah gerbang sekuarisme?

Madin dan Pendidikan Agama

Secara historis, Madin dibangun oleh kepentingan ulama untuk menyebarkan Islam secara efektif. Melalui lembaga ini, ajaran Islam yang sangat kompleks dapat secara bertahap diajarkan dari generasi ke generasi. Ilmu yang dibangun tidak terlalu tinggi namun sangat penting dalam praktik ibadah. Dalam relasinya dengan sekolah formal, Madin adalah mitra yang sangat penting dalam memperkaya pemahaman dan keterampilan beragama.

Secara manajerial, Madin tidak kaku sekaku sekolah formal. Ia lahir dari semangat beragama para ulama yang membangun jaringan keagamaan luas melalui pesantren. Ia tidak berorientasi materialistis seperti kebanyakan lembaga pendidikan saat ini. Ia hanya memiliki visi untuk mewariskan ilmu dan amal keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. Ia tidak berpikir untuk menyusun administrasi pendidikan yang menjelimet ala pendidikan modern, begitu juga tidak terlalu pusing dengan aturan pemerintah yang strukturalis. Ia hanya ingin masyarakat tahu dan bisa tentang beragama. Itu saja.

Secara sosiologis, Madin memiliki akar yang kuat di masyarakat. Bukan hanya sejarah yang begitu panjang, tipologi mayoritas masyarakat Indonesia yang "ndeso" juga memberikan posisi madin yang kuat dan berperan. Masyarakat ndeso inilah yang sangat antusias menjadikan Madin sebagai bagian tak terpisahkan dalam dunia pendidikan anak. Integrasi pendidikan formal yang menjadi kewajiban pemerintah ditambali dengan pendidikan agama melalui madin yang menjadi kewajiban individu. Klop sudah masyarakat desa dalam mendidik anaknya; ada dimensi duniawinya begitupun dimensi ukhrowinya.

Secara nasionalis, Madin tidak bisa diremehkan dalam perannya untuk negara. Madin adalah bagian tak terpisahkan dalam dunia kepesantrenan. Ia lahir dari lahir pesantren yang menitipkan para alumninya untuk berkewajiban menyebarkan agama melalui Madin. Mereka ikut serta dalam membela negara tanpa pamrih (semisal resolusi jihad 10 Nopember). Mereka tidak dibayar negara untuk perjuangannya. Mereka pun tidak menuntut menjadi pahlawan untuk sebagai pahalanya. Mereka sangat paham arti sebuah pancasila sebagai ideologi negara. Mereka pun sangat toleran dan mewariskan nilai-nilai kemanusian dalam pendidikannya. Jadi tidak ada yang salah dalam Madin.

Sekularisme Kehidupan

Sekuler dalam definisi sederhana adalah memisahkan urusan agama dengan negara. Agama dipandang sebagai urusan individu dan sangat pribadi tidak boleh dibawa kepada urusan negara yang sangat umum. Kepentingan agama tidak memiliki kaitan langsung dengan kepentingan umum yang diurus oleh negara. Bila pendidikan itu adalah urusan negara, maka agama tidak usah untuk masuk di dalamnya.

Kasus sekulerisasi negara-negara Barat dalam pendidikan bisa menjadi contoh konkrit. Di USA, misalnya, agama tidak diajarkan di sekolah pemerintahan (Public School). Bila ingin belajar pengetahuan umum dengan diintegrasikan dengan pendidikan agama, maka harus memilih sekolah swasta yang berbasis keagamaan semisal Catholic School. Serupa dengan USA, di Australia pun demikian. Pendidikan agama diganti dengan pendidikan moral. Pendidikan agama sangat pribadi dan negara tidak berkepentingan dalam mengurus hal yang sifatnya pribadi itu. Hal ini berbeda dengan Inggris yang masih mengandalkan Kristen Anglikan sebagai Agama resmi negara dan wajib diajarkan di sekolah umum.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun