Mohon tunggu...
Mutiara Nur Rahman
Mutiara Nur Rahman Mohon Tunggu... Sharing is Caring

Bismillah. Aku layaknya karung dosa yang mencoba mengurai sejumput asa

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Bahaya Pornografi pada Anak

28 Oktober 2020   04:01 Diperbarui: 28 Oktober 2020   04:08 31 3 0 Mohon Tunggu...

Bismillahirrahmanirrahim


Zaman wis akhir. Pulang dengan Busway duduk berdampingan dengan tiga anak. Di keramaian bis mereka bermain saling pegang bagian sensitif atas dan bawah. Sambil tertawa kecil mereka menganggap itu bercanda dan wajar. Paparan pornografi yang berkelanjutan melalui Handphone (HP) atau gawai dan Internet dalam permainan, tayangan serta sarana sarana lain menjadi penyebab pergeseran nilai dan pergulatan pribadi. Apa yang yang terjadi tak perlu disesali, semua adalah korban kerusakan zaman. Namun masih ada harapan pada masa depan anak anak. Kertas putih yang coretannya masih dapat dicegah atau dihapus.



Pornografi adalah bencana yang perlu ditanggulangi, Pakar psikologi Elly Risman mengatakan anak usia 2-10 tahun yang terpapar pornografi dapat mengakibatkan kerusakan otak yang terletak persisnya di alis kanan atas yang biasa disebut Pre Frontal Cortex (PFC). Bagian otak tersebut merupakan otak yang berfungsi  mulia yang hanya dimiliki oleh manusia. Fungsinya mengatur akhlak dan budi pekerti seseorang untuk berperilaku sesuai etika dan moral yang berlaku dalam agama dan masyarakat.



Ahli Bedah Otak dari AS, Dr. Donald Hilton Jr, mengatakan bahwa pornografi sesungguhnya merupakan penyakit dan merusak otak. Dampak kerusakan otak yang dialami orang yang terpapar pornografi adalah sampai seperti orang terkena kecelakaan mobil. Saat seseorang terpapar gambar-gambar pornografi lewat mata ke otaknya, terjadi perubahan struktur dan fisiologi atau fungsi otak. Bila kecanduan narkoba mampu merusak tiga bagian otak, akses pornografi berkelanjutan (kecanduan) mampu merusak lima bagian otak.


Dr. Mark Kastelmen penulis buku "The Drugs of The Millenium" memberi nama pornografi sebagai visual crack cocain atau narkoba lewat mata (NARKOLEMA). Bagian otak yang paling dirusak adalah pre frontal cortex (PFC). Dampaknya dapat menggangu fungsi perencanaan, mengendalikan hawa nafsu dan emosi, mengambil keputusan dan berbagai peran eksekutif otak sebagai pengendali impuls-impuls.



Orang yang kecanduan pornografi terancam mengganggu keseimbangan hormon diantaranya dopamin, neuropiniphrin, serotonin, oksitosin. Saat terjadi kecanduan terjadi banjir hormon-hormon bahagia membuat fly. Jika hormon tersebut terus menerus dieksploitasi. Lama-kelamaan terjadi defisit. Tubuh tidak bisa memproduksi sendiri  dan terjadi ketidakseimbangan kimiawi otak dan bagian otak depan atau Pre Frontal Cortex akan menyusut. Akibatnya berpengaruh pada emosi bahkan kejiwaan.



Jika hal yang mengerikan tersebut terjadi pada orang dewasa, maka dampak yang terjadi pada anak-anak mengancam masa depan mereka.



Pengaruh negatif  pornografi memang sulit dihindari, Kalau dulu seperti racun yang hanya terkena jika memakannya. Saat ini pornografi seperti virus yang bisa menjangkiti, memperbanyak diri dan menginfeksi siapa saja apalagi anak. Jika memang telah terinfeksi dan ketergantungan, segera putuskan dengan Terapi seperti pada Yayasan Klinik Kita dan Buah Hati Asuhan Bunda Elly Risman, dll. Selalu ada harapan untuk lepas dari ketergantungan.



Terutama anak-anak karena masih mudah dididik dan dinasehati.
Ada lembaran baru dalam buku kehidupan anak-anak. Kita bisa berusaha untuk mencegah keburukan tersebut tidak terjadi pada anak-anak seperti dengan:



1.Mengajarkan nilai-nilai agama sedini mungkin. Bentengi anak dengan tauhid bahwa Allah melihat segala yang kita semua sebagai mahluk lakukan.


2.Kenalkan mereka tentang aurat yang boleh dan tidak boleh dilihat dan diperlihatkan pada orang lain. Ajarkan anak bagian tubuh yang menjadi hak privasinya dan tidak boleh disentuh oleh diri sendiri dan orang lain tanpa kepentingan, seperti membersihkan diri.


3.Sebagai orang tua kita tidak boleh gagap teknologi. Antisipasi dan batasi akses mereka dengan dunia digital dari segi durasi. Kak Sinyo Egie menyampaikan batas anak usia 2 tahun ke bawah maksimal terpapar elektronika dalam bentuk apapun adalah 2 jam perminggu. Sementara anak 2 tahun ke atas maksimal terpapar elektronika dalam bentuk apapun maksimal 2 jam sehari.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN