Nur Lailatuz Zahra
Nur Lailatuz Zahra

ūüćä Bachelor of Nutrition ūüćä

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Menghargai Petani dengan ''Mengurangi'' Konsumsi Beras

6 Desember 2017   22:56 Diperbarui: 6 Desember 2017   23:22 1958 7 7
Menghargai Petani dengan ''Mengurangi'' Konsumsi Beras
Dokumen Pribadi

"We have to think before we eat,satu biji beras butuh proses yang panjang hingga bisa sampai di piring makan kita" satu kalimat berharga dari Bapak Arif Mujahidin selaku Communications Director Danone Indonesia yang menginspirasi saya untuk menghargai hal-hal kecil, termasuk satu biji beras. Kalimat tersebut mendorong saya untuk menuliskan perjalanan panjang satu butir beras tersebut.

Mencoba Merasakan Lelahnya Menjadi Seorang Petani

Pagi itu kami melihat mentari pagi perlahan menampakkan sinarnya, seakan mengintip kesibukan warga desa di pagi hari. Ayam berkokok, sepeda motor mulai berlalu-lalang, kanak-kanak tertawa berlarian, ibu-ibu sibuk menjemur, dan bapak-bapak duduk santai menunggu sambil menyeruput  secangkir kopi. Suasana yang selalu saya rindukan ketika menjalankan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di salah satu desa di Kabupaten Jepara.

Sebagai salah satu sentra pertanian yang terletak di dataran tinggi, hamparan sawah hijau kuning bak permadani yang menghiasi sepanjang jalan menuju desa.  Hari itu, si mbahdengan seperangkat perkakasnya siap untuk pergi ke sawah. Senyum tulus mengiasi wajahnya yang tetap teduh meski sudah melewati banyak cobaan hidup. Beliau mengajak kami mampir ke sawah, membantu proses perontokkan padi.

Perontokan padi sendiri merupakan salah satu tahapan dari proses penanganan pasca panen padi. Tahapan ini merupakan hal yang umum bahwa ketika tanaman sudah layak panen akan dirontokkan atau dipisahkan dari batang atau tangkai tempat bijinya tumbuh. Begitu pula padi yang sudah layak panen akan dilakukan pemisahan bulir-bulir padi dengan jeraminya (tangkai padi). Tahapan perontokkan padi ini hanya satu dari sekian banyak tahapan lainnya, namun tentunya tidak mudah. Mengarit padi saja telah sukses membuat kami keringatan dan kelelahan. Tak terbayang betapa panjang dan penuh perjuangan proses satu benih padi menjadi beras.

Menghargai Perjalanan Panjang Satu Butir Beras

 Nyatanya proses tersebut hanyalah salah satu dari proses panjang dalam menanam padi.  Sebelum menanam padi, ternyata ada banyak hal yang perlu dipersiapkan. Diantaranya yaitu membersihkan lahan dari rumput liar, gulma, dan jerami, membuat pematang sawah, membajak dan menggaruk tanah, serta pemberian pupuk. Pembajakan tanah dilakukan sekitar 20-30 hari sebelum menanam.

Tahapan selanjutnya adalah seleksi benih, tahapan ini bertujuan untuk mendapatkan benih unggul yang kiranya dapat bertahan dan menjadi beras layak jual. Seleksi benih dilakukan dengan merendam benih padi dalam larutan air garam, benih yang tenggelam akan diambil dan ditanam. Meski terdengar simple,tahapan ini memakan waktu 3 hari, yang terdiri dari 2 hari perendaman dan 1 hari untuk penirisan. Benih yang terpilih belum sepenuhnya bisa ditanam, bayi-bayi padi ini perlu disemaiterlebih dahulu. Benih padi disebar secara merata pada bedengan rendah. Setelah berumur dua sampai tiga minggu, benih siap untuk ditanam.

Singkat cerita, padi ditanam kemudian dirawat selama 4-5 bulan. Setelah siap dipanen, secara tradisional padi diarit kemudian dirontokkan.  Butir-butir padi yang sudah rontok kemudian disebut gabah. Gabah ini perlu dijemur agar kadar airnya berkurang. Pengeringan gabah menggunakan sinar matahari memerlukan waktu yang berbeda-beda tergantung kondisi cuaca, saat cuaca tidak terlalu panas membutuhkan waktu 3-4 hari. Akhirnya, gabah siap digiling dan dikategorikan sesuai dengan karakteristik masing-masing.

Berpikir Dua Ratus Kali Sebelum Membuang Makanan


Sepanjang jalan kenangan, dapat diambil kesimpulan bahwa lamanya proses satu benih padi menjadi satu butir beras kurang lebih adalah 200 hari. Setelah mengetahui betapa lama dan melelahkannya proses penanaman padi, sudah sepatutnya kita menghargai kerja keras petani selama 200 hari tersebut. Salah satunya adalah dengan tidak 'membuang' atau 'menyisakan' nasi.

Saya berkesempatan untuk berbincang dengan sosok wanita muda dengan semangat yang membara, Mbak Syir Asih Amanati dari Greeneration Foundation.  Beliau dan organisasinya bergerak pada bidang persampahan dan terlibat dalam program Indonesia Bebas Sampah 2020. Sangat miris melihat fakta bahwa ternyata 1.3 miliar ton makanan yang diproduksi di dunia terbuang setiap tahunnya. Dari sampah makanan tersebut, apabila -nya bisa terselamatkan hal tersebut bisa memberi makan sebanyak 870 juta orang kelaparan.

Selain merugikan dari sisi sosial, ternyata sampah makanan juga merugikan dari sisi ekonomi. Berdasarkan data yang dipublikasikan pada website bergerak.bebassampah.id; jumlah kerugian akibat sampah makanan di negara berkembang mencapai US$ 310.000.000.000. Oleh karena itu, Mbak Syir Asih berpesan untuk mengelola sumber daya yang dimiliki sebijak mungkin, termasuk makanan.  Ketika ditanya manakah yang lebih efektif mendaur ulang sampah atau mengurangi sampah? Beliau menjawab mengurangi sampah. Karena pengurangan sampah adalah langkah awal, sedangkan daur ulang tidak bisa dilakukan untuk semua jenis sampah. Kalaupun bisa, memerlukan waktu yang lama.

Cara Mengurangi Sampah Makanan

Sumber : bergerak.bebassampah.id
Sumber : bergerak.bebassampah.id
Kunci dalam mengurangi sampah makanan sebenarnya sederhana, yaitu merencanakan jumlah dan jenis makanan yang akan dikonsumsi sesuai kebutuhan. Baik itu di rumah, di restoran, atau pun di tempat makan prasmanan sebaiknya kita tidak terpancing hawa nafsu alias lapar mata. Kemudian apabila makanan akan disimpan maka perhatikan lama dan cara penyimpanan. Selain itu, sisa makanan yang masih dapat diolah sebaiknya diolah dengan segera atau dimanfaatkan menjadi pupuk kompos.

Greeneration Foundation juga fokus untuk mendorong dan menginisiasi diterapkannya pola hidup bersih dan sehat pada masyarakat Indonesia dalam mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals). Bukan hanya membiasakan membuang sampah pada tempatnya,  Mbak Syir Asih dan Organisasinya berharap masyarakat Indonesia bisa 'meletakkan' sampah pada tempatnya. Ini artinya setiap sampah ditempatkan/dipilah sesuai dengan manfaat yang dapat diperoleh. "Kalau ada perilaku ramah lingkungan, maka akan ada lingkungan yang ramah untuk kita"pesan beliau.

Konsumsi Makanan Sesuai Kebutuhan

Cara lain menghargai perjalanan sebutir beras adalah dengan mengonsumsinya sesuai dengan yang tubuh kita butuhkan. Agar tidak ada sampah makanan dan tidak pula terjadi hal yang tidak diinginkan pada kesehatan tubuh kita. Misalnya kekurangan asupan gizi atau justru terkena obesitas akibat terlalu banyak dan sering mengonsumsi nasi. Pertanyaannya adalah, seberapa banyak konsumsi yang sesuai dengan kebutuhan itu?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2