Muhammad Asep Zaelani
Muhammad Asep Zaelani karyawan swasta

Pekerja Sosial, Praktisi CSR/Community Development, Gusdurian

Selanjutnya

Tutup

Bisnis Artikel Utama

Sedikit Membedah Strategi Marketing Es Krim Aice

6 Juli 2018   15:48 Diperbarui: 8 Juli 2018   18:49 2629 6 4
Sedikit Membedah Strategi Marketing Es Krim Aice
tribunnews.com

Strategi marketing yang dipilih oleh produsen es krim Aice menurut saya cukup menarik. Mereka memilih jalan yang berbeda dengan strategi marketing yang dilakukan oleh para pemain lama di bisnis ini. Wall's dan Campina sebagai dua pemain besar bisnis es krim di Indonesia harus mulai waspada dengan kehadiran Aice. Kalau salah mengantisipasi, bukan tidak mungkin pasar yang mereka kuasai selama ini akan mulai tergerus oleh kehadiran es krim Aice.

Sejak pertama hadir di Indonesia pada 2015, Aice memperoleh peningkatan penjualan sampai 260 persen dari tahun 2016 hingga 2017.

Angka penjualan tersebut diprediksikan akan terus mengalami peningkatan seiring dengan semakin gencarnya marketing perusahaan ini bekerja.

Untuk mendukung pertumbuhan, di tahun 2018 pihak Aice membangun pabrik baru yang berlokasi di Jawa Timur. Pabrik baru ini merupakan pabrik yang kedua setelah pabrik pertama yang dibangun di Cibitung, Bekasi, Jawa Barat.

Lalu apa saja saja strategi marketing yang dilakukan oleh Aice hingga berpotensi menggoyang pasar para pemain lama?

Selain memasang iklan konvensional lewat media cetak dan elektronik, Aice cukup rajin menjadi sponsor berbagai kegiatan.

Yang terbaru, mereka menjadi salah satu sponsor perhelatan Asian Games 2018 yang akan berlangsung di Jakarta dan Palembang.

Mereka juga biasa menggunakan jasa para para selebriti untuk menjadi buzzer dan mengendorse produk-produk Aice di medsos.

Jaringan distribusi mereka juga sangat kuat dan mampu menjangkau daerah-daerah yang selama ini tidak pernah dilirik oleh pemain lama. Saat ini Aice memiliki lebih kurang 80.000 outlet di seluruh Indonesia.

Aice tidak menggandeng supermarket atau mini market yang ada di kota sebagai prioritas mitra penjualan.

Mereka justru menggandeng toko-toko kelontong dan warung-warung kecil yang lokasinya strategis berada di tengah pemukiman padat penduduk atau dekat dengan sekolah. Dengan demikian konsumen bisa lebih dekat untuk mendapatkan produknya.

Untuk menjadi reseller, Aice juga menerapkan aturan yang cukup mudah dan murah.

Calon mitra hanya perlu mendaftar dengan persyaratan mempunyai lokasi warung yang strategis dan daya listrik yang memadai.

Bermodal uang sebesar 500.000 rupiah saja, mitra sudah bisa mendapatkan pinjaman freezer dan produk-produk Aice. Dengan modal yang sangat ringan tersebut tentu sangat menarik minat banyak orang.

Terlebih Aice juga memakai sistem 'jual-putus' pada setiap penjualan produk-produk es krimnya. Artinya, mitra hanya berkewajiban membayar produk-produk es krim yang laku terjual.

Dibandingkan dengan harga produk sejenis yang ditawarkan oleh produsen lain, harga yang ditawarkan Aice untuk setiap produknya juga sangat kompetitif.

Saat ini ada 35 varian es krim yang ditawarkan Aice dengan rentang harga 2.000 sampai dengan 10.000 rupiah saja. Selisih harga jual dari pabrik ke reseller 1.000 sampai dengan 1.700 rupiah