Mohon tunggu...
Zabidi Mutiullah
Zabidi Mutiullah Mohon Tunggu... Wiraswasta - Concern pada soal-soal etika

Sebaik-baik manusia, adalah yang bermanfaat bagi orang lain

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Perayaan Tahun Baru Hijriyah Itu Syiar, Mengapa Tidak Boleh?

2 Agustus 2022   13:44 Diperbarui: 2 Agustus 2022   14:12 147 8 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Presiden Jokowi Beri Sambutan Saat Tahun Baru Islam. Foto Dok. SuaraSulsel.id, By Sekretariat Presiden

Sebagaimana agama-agama lain, Islam juga punya hari raya. Setahun dua kali. Yaitu Hari Raya Idul Fitrih dan Hari Raya Idul Adha. Idul Fitrih terjadi saat umat islam tuntas melaksanankan ibadah puasa ramadhan selama satu bulan penuh. Sementara Idul Adha, terjadi setelah umat islam selesai menunaikan ibadah haji. Idul Adha dikenal juga dengan sebutan Idul Qurban. Karena saat itu, banyak disembelih hewan kurban.

Di Indonesia atau mungkin sebagian negara lain, juga dikenal kegiatan Perayaan Hari-hari Besar Islam. Biasa disingkat PHBI. Beberapa yang sudah tak asing ditelinga adalah Maulid Nabi Muhammad SAW, Isrok Mikroj, Nuzulul Qur'an dan Malam Nisfu Sya'ban. Bentuk kegiatannya berupa pengajian, khotmil quran, berbagai lomba dan sebagainya. Khusus Nisfu Sya'ban, umat islam ngaji surat yasin tiga kali. Lalu ditutup doa kepada Allah. Isi doa, permohonan panjang umur yang barokah, murah rejeki yang halal serta dikuatkan iman dan islam hingga akhir hayat.

Perlu dipahami, ada perbedaan mendasar antara Hari Raya Islam dibanding PHBI. Bedanya, terletak pada tujuan atau niat diantara keduanya. Hari Raya Idul Fitrih misalnya. Dilaksanakan untuk tujuan bergembira, setelah umat islam sukses berperang melawan nafsu ruhani dan jasmani. Sukses lawan nafsu ruhani, artinya berhasil menahan hati atau pikiran tidak ngerasani orang, berpikir jorok, su'dzon, tidak berhubungan suami istri pada siang hari dan sejenisnya. Sukses perang secara jasmani, mampu tidak makan dan minum saat waktu siang full selama 30 hari. Tepatnya, setelah terdengat adzan subuh hingga nanti datang waktu maghrib.

Sementara itu, tujuan dilaksanakannya Hari Raya Idul Adha, juga untuk bergembira. Alasannya, karena sukses mewujudkan ketaatan kepada Allah SWT, melalui ibadah haji dan berkurban. Sekedar penjelasan singkat, Hari Raya Idul Adha terjadi tepat pada tanggal 10 Dzulhijah. Sama persis seperti waktu pelaksanaan ibadah haji. Sebab itu, umat islam yang sedang berhaji, pasti berhari raya Idul Adha di Mekkah. Bukan dinegara asal. Pada sisi lain, Idul Adha juga bersinggungan dengan sejarah pengorbanan seorang anak bernama Ismail oleh seorang bapak bernama Ibrahim yang bergelar Nabi. Ketika itu, Allah SWT memberi perintah kepada Nabi Ibrahim, agar menyembelih putranya yang bernama Ismal . Nabi Ibrahim taat pada perintah tersebut. Dan justru karena sikap taat itulah, Ismail kecil yang kelak juga menjadi nabi, selamat dari penggalan pedang Nabi Ibrahim. Allah berkehendak mengganti posisi Ismail dengan seekor domba.

Sekarang, apa tujuan atau niat dilaksanakannya PHBI termasuk Tahun Baru Hijriyah..? PHBI dilaksanakan tak lain untuk tujuan dakwah dan syiar islam. Menyampaikan kepada publik, bahwa islam punya identitas. Agar sukses diketahui, identitas tersebut tentu harus dideklarasikan. Tidak bisa kalau hanya sekedar diam. Ya semacam pengumuman gitu. Baik lewat pernyataan atau kegiatan. Seperti pawai obor, seminar, berbagai jenis lomba dan sebagainya. Pokoknya apapun yang mengundang keramaian dan mendatangkan publikasi. Dengan demikian, Islam terlihat sangat eksis.

Meskipun tidak ada dalil yang secara khusus menerangkan tentang PHBI, namun sunnah Nabi SAW dan atsar para sahabat cukup menggambarkan betapa umat islam bisa melakukan perayaan yang berhubungan dengan islam. Contoh, untuk mengingat hari lahir, Nabi SAW merayakannya dengan cara puasa sunnah hari senin. Mengapa hari senin, ya karena beliau lahir tepat pada hari tersebut. Bukan selasa, rabu atau lainnya.

Nabi SAW juga tak lupa merayakan datangnya awal tahun. Beliau melakukannya dengan cara berdoa. Dikutip dari NU Online, doa yang dipanjatkan Nabi SAW tiap awal tahun bunyinya demikian, "Tuhanku, Kau yang Abadi, Qadim, dan Awal. Atas karunia-Mu yang besar dan kemurahan-Mu yang mulia, Kau menjadi pintu harapan. Tahun baru ini sudah tiba. Aku berlindung kepada-Mu dari bujukan Iblis dan para walinya di tahun ini. Aku pun mengharap pertolongan-Mu dalam mengatasi nafsu yang kerap mendorongku berlaku jahat. Kepada-Mu, aku memohon bimbingan agar aktivitas keseharian mendekatkanku pada rahmat-Mu. Wahai Tuhan Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan".

Doa Nabi SAW tersebut diteruskan oleh para sahabat. Sehingga menjadi salah satu atsar dalam ajaran islam. Jadi, melakukan perayaan atas satu momentum islami, sebenarnya sudah ada sejak Nabi SAW. Yang kemudian juga diwariskan kepada para sahabat dalam bentuk atsar. Kita sebagai umat islam yang hidup dijaman sekarang, tentu punya tanggung jawab untuk meneruskan tradisi perayaan itu. Dengan cara, pertama berdoa sebagaimana doa Rusul SAW diatas. Kedua, juga sekaligus melakukan syiar atau dakwah agama.

Menurut saya, syiar dan dakwah dalam bentuk perayaan bagus. Termasuk di dalamnya Perayaan Tahun Baru Hijriah. Mengapa, karena dengan perayaan itu publikasi terhadap identitas islam akan berjalan terus menerus. Berkesinambungan tidak akan pernah putus hingga akhir zaman. Coba bayangkan, jika tidak ada perayaan Tahun Baru Hijriyah. Lama-lama, gaung tentang kalender milik islam yang bernama hijriyah itu akan habis. Jangankan nanti, sekarang saja, terutama anak-anak muda dan juga sebagian yang sudah dewasa, kadang tidak tahu apa itu yang namanya Kalender Hijriyah. Mereka lebih kenal tahun Masehi. Apalagi kalau perayaan Tahun Baru Hijriyah dilarang. Kelak bakal terhapus itu kalender dari sejarah Islam. Naudzubillah...

Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan