Mohon tunggu...
Yusuf Nur
Yusuf Nur Mohon Tunggu... IAIN Surakarta

Rental Mobil + driver area solo

Selanjutnya

Tutup

Hukum

Produk Non-Makanan Perlu Sertifikasi Halal?

28 Februari 2021   11:44 Diperbarui: 28 Februari 2021   11:52 98 1 0 Mohon Tunggu...

Pengertian makanan halal ada beberapa pendapat, halal berasal dari bahasa Arab yaitu membolehkan, memecahkan, membebaskan. Secara etimologi halal diartikan sebagai segala sesuatu yang apabila dilakukan tidak mendapat hukuman atau dosa, dengan kata lain halal dapat diartikan sebagai perbuatan atau segala sesuatu yang diperbolehkan dalam syariah agama Islam. Selain itu halal bisa juga diartikan sebagai segala sesuatu makanan yang dapat dikonsumsi oleh manusia dan diperbolehkan dalam syariat Islam. Di dalam Al-Qur'an, Allah memberikan petunjuk tentang makanan halal dan syarat-syarat makanan halal, selain itu juga disebutkan makanan haram yang dilarang oleh Islam. Menurut Departemen Agama menyebutkan bahwa makanan halal adalah barang yang dimaksudkan untuk dimakan dan diminum manusia dan serta bahan yang digunakannya adalah halal. (umma.id)


Semua makanan yang diproduksi di Indonesia harus memiliki sertifikasi halal MUI. Sedangkan pemerintah melalui Undang-Undang Nomor 33 tahun 2014 tentang jaminan produk makanan dan minuman untuk memiliki sertifikat halal mulai tanggal 17 Oktober 2019 dan dilakukan secara bertahap. Tahap pertama, kewajiban ini diberlakukan pada produk makanan, minuman, dan kosmetik. Kemudian kewajiban sertifikasi halal berikutnya akan diberlakukan untuk produk selain makanan dan minuman. Tujuan diberlakukannya kewajiban sertifikasi ini adalah untuk memberikan kenyamanan, keamanan, keselamatan, dan kepastian ketersediaan produk halal bagi masyarakat dalam mengonsumsi dan menggunakan produk tersebut. MUI tidak hanyasekedar makanan dan minuman, tapi produk-produk lain seperti pakaian, detergen, alat masak, bahkan barang elektronik. Sertifikasi halal ini menuai komentar bagi masyarakat Indonesia, karena dinilai sebagai tren bisnis atau kapitalisasi agama. (tribunnews.com)


Irma, warga Cianjur, Jawa Barat adalah seorang pemilik kulkas berlogo halal. ia mengatakan baru tahu kulkas itu berlogo halal saat barang itu dikirim dari toko ke rumahnya. Ia sangat heran barang elektronik berlogo halal, karena menurutnya yang harus bersertifikat halal adalah makanan, minuman, kosmetik.

Kulkas berlogo halal dimaksudkan agar bahan baku pembuatannya dan juga proses produksinya memenuhi syarat halal dari MUI. Wakil Direktur LPPOM MUI, Sumunar Jati, mengatakan tidak ada ketentuan yang mengharuskan barang elektronik untuk mendapat sertifikasi halal. namun, LPPOM MUI juga tidak bisa menolak permintaan sertifikasi tersebut. Sumunar mengatakan, analisis terhadap halal atau tidaknya kulkas bisa dilakukan karena ada bagian yang berasal dari plastik yang mana plastik menggunakan emulsifier yang bisa berasal dari yang tidak halal dan berpotensi bersentuhan dengan makanan yang disimpan. (bbc.com)


Sertifikasi halal yang saat ini berlaku ada dua macam, ada yang mandatori atau wajib dan ada yang bersifat volunteri atau sukarela. Untuk produk makanan bersifat mandatori atau wajib, sedangkan non makanan bersifat volunteri atau sukarela. Yang terpenting dalam sertifikasi ini adalah memberikan akses yang jelas tentang berbagai produk yang akan dibelinya, seperti contohnya tercantumnya label halal pada suatu produk tersebut. Sehingga konsumen bebas menentukan pilihan terhadap produk makanan maupun non makanan. (watyunink.com)


PT Atalla Indonesia saat ini adalah satu-satunya pabrikan kacamata di Indonesia yang sudah memiliki sertifikat halal sebelum masuk ke penahapan kewajiban serttifikasi halal. Kewajiban sertifikasi halal pada kacamata baru akan dimulai tanggal 17 Oktober2021 hingga 17 Oktober 2026. PT Atalla sudah terintegrasi mulai dari pembuatan bingkai hingga lensa dan aksesorisnya, sertifikasi ini untuk mendukung program pemerintah untuk industri kesehatan halal 2024. Selain itu, juga untuk mendukung perusahaan mencapai visi ingin menjadikan diri sebagai basis utama industri kacamata dunia yang telah mengimplementasikan teknologi 4.0. PT Atalla juga terus berusaha meningkatkan sumber daya manusia dalam berinovasi dan memproduksi kacamata berbasis teknologi. (tribunnews.com)


PP JPH menjamin produk yang tidak halal dan tidak lolos sertifikasi halal tetap bisa dipasarkan, tetapi dengan mencamtumkan logo atau simbol tertentu. Namun logo ini sedang dalam proses finalisasi. Pengamat Islam Moderat, Neng Dara Affah mengatakan pelabelan tersbeut membuat segregasi masyarakat, khususnya antara umat Islam dan non Islam. Mengingat negara Indonesia bukan semua muslim dan bukan negara Islam juga. (bbc.com)


Bagi umat Islam penggunaan produk halal adalah wajib. Untuk itu pemerintah sudah mengatur tentang kewajiban adanya sertifikasi halal. Meskipun sertifikasi halal terhadap produk non makanan masih menuai komentar bagi masyarakat Indonesia, tetapi bagi perusahaan suatu produk non makanan bisa menjadi usaha agar dapat menarik konsumen. Terlebih Indonesia adalah negara yang mayoritas penduduk muslim.

VIDEO PILIHAN