Mohon tunggu...
Yustinus Sapto Hardjanto
Yustinus Sapto Hardjanto Mohon Tunggu...

Pekerja akar rumput, gemar menulis dan mendokumentasikan berbagai peristiwa dengan kamera video. Pembelajar di Universitas Gang 11 (UNGGAS)

Selanjutnya

Tutup

Olahraga

Albert Camus, Belajar dan Berutang Pada Sepakbola

10 Mei 2013   17:55 Diperbarui: 24 Juni 2015   13:47 445 0 1 Mohon Tunggu...

Terlahir sebagai anak laki-laki di desa menjadikan sepakbola akrab dengan kehidupan saya semenjak kecil. Bola pertama adalah gulungan klaras (daun pisang kering) yang diikat dengan tali dari pelepah pisang yang telah kering. Kemudian bola plastik yang tak lama pecah karena menjadi tumpuan aduan kaki. Bola yang robek itu kemudian dimasuki rumput-rumput kering dan bagian yang robek dijahit hingga bola bisa dipakai kembali.

Ketika memasuki sekolah dasar baru saya dan teman-teman mengenal bola kaki yang terbuat dari kulit. Bola yang bisa dipompa jika mulai kempes. Lama-lama kelamaan kulit luar yang halus mengelupas, hingga tersisa kulit dalam yang berbulu-bulu, kekuatan kulit juga tidak merata lagi sehingga bola tak lagi benar-benar bulat. Bermain tanpa sepatu terkadang membuat jari kaki sakit karena salah menendang.

Permainan bola adalah permainan lintas desa, terkadang saya dan teman-teman ngeluruk pergi ke lapangan desa sebelah untuk menantang anak-anak dari desa sebelah bertanding, bermain bola bersama. Permainan yang kemudian sering berakhir dengan kericuhan dan perkelahian kecil yang mudah untuk dilupakan.

Ketika beralih ke daerah yang lebih dekat ke perkotaan, ketersediaan lapangan menjadi terbatas. Di Kutoarjo saya dan teman-teman dari kelompok desa Kidul Sepur sering berkelahi untuk berebut lapangan dengan anak-anak dari kelompok desa Lor Sepur. Perkelahian dengan saling melempar batu yang banyak di sekitar jalur rel kereta api antara Kutoarjo – Yogyakarta. Rel kereta api menjadi batas demarkasi, untuk saling melontarkan pecahan batu yang tajam itu. Perkelahian biasa berhenti jika kereta mulai hilir mudik.

Setelah SMA saya tak lagi memainkan bola, beralih menjadi penikmat tontonan sepakbola. Saat Persma Manado masuk di divisi utama, saya kerap menonton secara langsung di tribun stadion Klabat Wanea, Manado. Menonton sepakbola secara langsung di stadion sungguh terasa seru, bisa mengekpresikan diri secara bebas, berteriak, bersorak dan berseru sesuka hati.

Sayang seiring dengan waktu, perjalanan sepakbola Indonesia justru semakin memburuk. PSSI sebagai badan tertinggi persepakbolaan di Indonesia tak lepas dari kisruh yang datang silih berganti. Perbincangan sepakbola bukan lagi soal gocekan di lapangan melainkan debat yang berkepanjangan di ruang-ruang pertemuan atau konggres. Menjadi tidak menarik menyaksikan laga tim-tim yang bergabung dalam liga utama, kalau ingat betapa buruknya kinerja pemegang kebijakan dan kekuasaan dalam dunia sepakbola Indonesia. Sepakbola Indonesia bukanlah olahraa dan industri melainkan politik.

Sebagai sebuah permainan olahraga sekaligus seni, ada banyak hal yang bisa dipelajari dari sepakbola. Sepakbola memadukan unsur keahlian individu untuk kemudian diramu menjadi sebuah kekuatan tim, kekuatan kolektif untuk mencapai tujuan bersama yaitu gol di gawang lawan.

Albert Camus seorang filsuf yang terkenal dengan pemikiran absurbditasnya bahkan mengatakan “ Dalam hal keutamaan dan tanggungjawab akan tugas saya belajar dan berhutang budi pada sepakbola”.Sebuah pengakuan yang barangkali ganjil karena banyak orang tak mengira jika Albert Camus akan mengatakan hal itu. Keutamaan dan tanggungjawab para pemain bola sebagai sebuah tim adalah memasukkan goal ke gawang lawan. Meski mempunyai kedudukan masing-masing, para pemain akan merangkai kerjasama untuk mengalirkan bola dari kaki-ke kaki hingga berakhir dengan tembakan menuju gawang lawan.

Sebagaimana Albert Camus dari sepakbola saya bisa belajar bahwa percuma saja kehadiran seorang pemain hebat apabila tidak ada sokongan umpan matang dari teman-temannya untuk kemudian dikonversi menjadi goal. Kumpulan pemain hebat juga tak berarti apa-apa tanpa ketaatan pada seorang pelatih. Pelatih yang barangkali permainan bolanya tak akan sebaik para pemainnya. Namun ditangan pelatih ini strategi diracik, pola pertahanan dan penyerangan ditentukan. Pelatih adalah seseorang yang mampu mendayagunakan sumberdaya sehingga menjadi sebuah tim dengan kekuatan dan keterpaduan untuk mampu mengalahkan lawan.

Maka tak tentu sebuah tim yang terdiri dari para pemain hebat, dengan gaji yang hebat pula akan selalu menjadi tim yang menakutkan, yang mampu mengalahkan lawan-lawannya. Proyek-proyek pembangunan sebuah tim yang memakan banyak biaya tidak dengan cepat mampu mengangkat tim secara instan sehingga menjadi kekuatan yang menakutkan.

Meski tak bisa dipungkiri bahwa kini sepakbola adalah sebuah industri yang melibatkan perputaran modal yang besar, namun modal uang bukanlah menjadi faktor utama untuk menentukan keberhasilan tim di lapangan, modal barangkali bisa mendongkrak tim dari sisi bisnis, tapi dari sisi prestasi tetap saja kinerja pelatih dan pemain yang menentukannya.

Sepakbola yang berhasil adalah sepakbola yang menghormati absolutisme keputusan wasit. Pemain, pelatih, pemilik klub dan para pengemarnya belajar untuk menerima apapun putusan wasit. Meski dalam rekaman menunjukkan bahwa keputusan hakim salah atau kurang tepat namun itu tak menggugurkan keputusan yang telah diambil di lapangan. Apabila goal sudah diputus sah oleh wasit maka tetap sah, meski sebelumnya ada sebuah pelanggaran namun tidak terlihat atau tak ditentukan sebagai pelanggaran oleh wasit.

Para pemain bisa saja protes, panas dan tidak suka pada keputusan wasit, namun tak boleh bertindak berlebihan apalagi sampai mencela dan mengintimidasi wasit. Kekisruhan sepakbola di Indonesia misalnya tak lepas dari rendahnya ketaatan pada wasit, kurangnya rasa hormat pada wasit. Maka kerap terjadi wasit dipukuli oleh pemain yang marah dan kecewa. Sebuah sikap yang sungguh tidak terhormat dalam olahraga sepakbola.

Banyak keutamaan dan tanggungjawab yang bisa dipelajari dari sepakbola, pelajaran yang bukan hanya bisa diterapkan dalam olahraga saja melainkan juga dalam hidup sehari-hari, dalam kehidupan politik dan manajemen usaha. Sepakbola meski terlihat konyol karena di lapangan ada 22 orang mengejar-ngejar bola yang sama namun merupakan olahraga yang paling populer di masyarakat, olahraga yang mungkin paling banyak dilakukan atau dimainkan oleh masyarakat sedunia. Maka wajar jika kemudian dalam olahraga banyak terkandung pelajaran-pelajaran yang berguna untuk masyarakat agar semakin memanusiawikan dirinya.

Sayangnya di negeri kita, para pengelola sepakbola terutama PSSI tak mampu mengambil pelajaran dari permainan sepakbola, permainan yang menjadi tanggungjawab kerja mereka. Bahwa pengurus atau jajaran teras PSSI itu mencintai sepakbola dan bahkan beberapa menyatakan  berani mati untuk sepakbola namun tanpa semangat dan kesediaan untuk belajar keutamaan dan tanggungjawab dari sepakbola, niscaya dunia persepakbolaan Indonesia akan tetap dihiasi kesedihan dan kepedihan.

Pondok Wiraguna, 10 Mei 2013

@yustinus_esha

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x