Mohon tunggu...
Yusi Kurniati
Yusi Kurniati Mohon Tunggu... Penulis dan penikmat sastra

Penulis novel Pacar Dunia Maya, Kumpulan cerpen Sepenggal Kisah, dan kontributor dalam 35 antologi. Alumnus S2 Pendidikan Bahasa Universitas Negeri Jakarta.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen: Gara-gara Pilkades

22 September 2020   12:00 Diperbarui: 23 September 2020   17:10 221 27 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cerpen: Gara-gara Pilkades
ilustrasi pemilihan ketua. (sumber: KOMPAS/DIDIE SW)

Namaku Tresno, umurku delapan tahun. Aku duduk di kelas dua SDN Pelita Harapan. Satu-satunya Sekolah Dasar yang ada di desaku. Itu rumahku, rumah pertama dari gerbang desa. Seperti biasanya pagi ini aku akan berangkat ke sekolah.

"Ayo Tresno panggil Mamasmu dulu, sarapan sudah siap." Ibuku memanggil dari dapur. Aroma tempe goreng tercium menggoda selera makan.

"Iya Bu." Aku menyahut singkat lalu beranjak ke kamar kakak semata wayangku yang juga adalah kamarku. Kami memang berbagi kamar. Mamas terlihat sedang merapikan seragam putih birunya ketika aku memanggilnya untuk sarapan bersama.

Suasana pagi di rumah mungilku selalu seperti ini. Aku dan Mamas bangun pagi pukul lima setiap harinya. Mamas membantu bapak membersihkan halaman dan menyiapkan motornya. 

Bapak bekerja di pabrik gula. Sebenarnya bapakku lulusan SMA dan bisa mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih baik jika saja beliau mau hijrah ke kota. Tapi beliau enggan meninggalkan tanah kelahirannya ini. Maka beliau rela kerja banting tulang di pabrik demi kelangsungan hidup keluarga kecilnya. 

Sementara ibu sejak jam empat subuh sudah sibuk menyiapkan lauk-pauk yang akan dijualnya berkeliling desa. Untuk membantu perekonomian keluarga, ibu berjualan nasi uduk setiap paginya. Hasilnya cukup untuk makan sehari-hari.

Setiap pagi bapak pergi ke pabrik dengan mengendarai motor peninggalan almarhum kakek. Aku dibonceng di belakang. Sementara Mamas bersekolah ke desa sebelah dengan mengendarai sepeda bututnya. Sepeda itu dia dapat ketika memenangkan lomba cerdas cermat tingkat kabupaten. Mamasku memang berotak encer.

Siang ini seperti biasanya aku pulang sekolah dengan berjalan kaki bersama teman-teman. Jarak sekolah dan rumahku memang tidak terlalu jauh. Kami terpaku sejenak ketika melewati balai desa.

"Lah itu kan foto bapakmu, No," celetuk Yono. Aku memandang sebuah poster di balai desa itu. Ada beberapa foto terpampang di sana, termasuk foto bapak.

"Ada foto bapakku juga." Basuki menunjuk foto bapaknya.

"Kenapa foto bapak kita ada di balai desa ya, No?" tanya Basuki padaku.

"Ndak tahu ya, Bas," ucapku sambil memandangi tulisan yang terpampang di atas foto bapakku, bapak Basuki, dan Pak Tukiran.

P-I, pi, L, pil. K-A, ka, D-E, de, S, des. PIL-KA-DES. Kami mengeja tulisan itu bersama-sama seraya mengerutkan kening.

"Pilkades itu apa, No?" Yono kembali menanyaiku. Aku menggeleng, begitu pula dengan Basuki.

"Mungkin bapakmu dan bapaknya Basuki mau dijadikan artis, No." Yono kembali berseloroh. Kami tertawa dan pulang ke rumah dengan satu pertanyaan yang akan kami tanyakan pada orangtua kami masing-masing: apa itu pilkades?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
22 September 2020