Anonimiyus
Anonimiyus Desain Grafis

pejuang kebetulan

Selanjutnya

Tutup

Bola

Mencari Pelatih yang Tepat untuk Persib

15 November 2017   08:16 Diperbarui: 15 November 2017   08:39 906 1 0
 Mencari Pelatih yang Tepat untuk Persib
dokumen pribadi


Terlihat Pak Haji termenung di sudut, matanya sembab, gurat kesedihan terlihat dari wajahnya yang kian menua, bukan karena dia sedang terkena hukuman Komisi Disiplin, bukan juga karena dia tidak boleh melakukan kegiatan yang berhubungan dengan sepakbola selama 6 bulan kedepan.

Dia lebih memikirkan masa depan tim yang telah menjadi keluarga besar selama hampir seumur hidupnya. Dia masih tidak percaya bahwa tim yang tahun 2014 lalu berada di puncak, kini malah berada jauh di kedalaman, cobaan ini terlalu berat bagi seluruh manajemen PERSIB.

Sebatang rokok garpit dia hisap dalam-dalam, terasa hambar, segelas kopi yang dia teguk terasa pahit, " Bi, ari Ieu kopi di gulaan teu?", tegurnya pada Bi Enok pemilik warung.

"Astagfirullah, aduh maap saya teh lupa, belum saya kasih gula Pak Haji" Bi Enok memukul kepalanya sendiri pake coet, "aduh!" katanya, lantas mengambil gelas kopi pak Haji untuk dia kasih gula.

Sementara itu seorang pria paruh baya mengenakan jas abu-abu musim dingin sebetis, dengan syal panjang warna biru masuk kedalam warung, kemudian tanpa disuruh, dia duduk di samping pak haji yang sedang tersenyum pahit melihat polah bi Enok yang Denok.

"Assalamualaikum..."

"Wa'alaikum salam... eh wan, kapan datang dari Inggris?", seketika wajah sedih pak Haji berubah gembira melihat kedatangan sohib misteriusnya. Kejutan!.

"Sehat ji, kumaha PERSIB teh?, cenah kalaut gening musim ini mah..." sebuah pertanyaan yang menohok tanpa babibu lansung terlontar dari mulut sahabatnya tanpa tendeng aling-aling. Pa haji hanya tersenyum getir persis orangtua yang ditanya hasil raport anaknya yang jeblok oleh teman sejawat di acara arisan bulanan.

"Ahahaha, nya kitu we... wan, tahu sendirikan kamu juga, teu ngaruh aya anak buah ente ge, enya si Esien...", jawab pak Haji sambil membetulkan topi koboynya yang miring, " eh Bi, bikin kopi satu lagi, buat kang wawan", Pak haji mengacungkan jari telunjuknya kearah bi Enok.

 "Oke"  Bi Enok sigap membalas dengan mengacungkan jempolnya. "gorenganna moal pa haji?, aeh gening ieu mah hose morinyo, de special wan tea pa Haji... betul?", bi Enok tiba-tiba menjerit histeris tidak percaya ada pelatih dunia, seorang pelatih Mancester United di warung kopinya.

"Hus, biasa we atuh ceu, panggil saja saya wawan, supaya lebih akrab", Jose Mourinho, tersenyum bangga melihat bi Enok ajrag-ajragan seperti ABG melihat Li Min Ho artis korea kesayangannya.

"Kok Wawan?", bi Enok berhenti meloncat sambil mengernyitkan keningnya bingung.

"Kan The Special One (baca:"de sepesial wan"), jadi singkatannya wawan aja biar gampang", kata mang Jose sambil noel bujur bi Enok genit. Bi Enok manggut-manggut tangannya menepis tangan genit pelatih dunia itu, suasana terasa lebih akrab dan berwarna, kegalauan pak Haji sedikit terobati, setidaknya kedatangan kang Wawan memberikan semangat baru untuknya, di hati timbul sebuah asa yang selama ini hilang.

Lobi-lobi bisnis di warung kopi bi enok-pun terjadi secara hening namun tetap menegangkan, sesekali pa Haji menggaruk kumisnya yang lebat, bi enok tidak mau ikut campur, dia jongjong nonton acara dangdut akademi di TV 14 inc miliknya. Sejenak kang Jose manggut manggut sambil nyeruput kopi panas yang tersaji di meja, diselingi cacamuilan makan goreng Hui.

"jadi Kumaha wan?" pa haji menutup persentasi, matanya menatap wajah Jose yang sudah keriput namun masih saja terlihat gagah, kumis Pa Haji gerak-gerak tanda semangat yang membara.

Jose Morinho terdiam sesaat, dia membaca dokumen di hadapannya, surat kontrak selama dua tahun kedepan, dengan nilai kontrak yang cukup menjanjikan. Setelang mempertimbangkan akhirnya Mourinho tersenyum.

"Jadi gini ji, terus terang PERSIB sih oke buat saya, sudah dari dulu saya hayang menglatih kleub ieu teh, masalah gajih keur sayah mah nomer dua, asli ini mah, nu penting musim depan PERSIB kembali Juara dan bisa membanggakan bobotoh..." Jose menepuk pundak Pak Haji mantap, Pak Haji manggut matanya berkaca karena terharu.

"Moal Istikhoroh heula wan?" Ujar Pak Haji sambil nyusut lehonya,

"Insya Allah ana sudah yakin, Kieu-kieu ge kan saya teh orang Garut ji, sono oge hayang balik, rindu bakso, nasi goreng, sate, pais gurame, jeung Neng Oom". Jose mengutarakan panineungannya.

"Em Yu kumaha wan?",

"Tenang ji, Em Yu mah masalah gampang kontrak saya tidak akan di perpanjanjang demi PERSIB, sakalian saya dek ngarekrut si IBRA jeung si POGBA, sugan daekeun, ah pasti daraekeun ketang maranehanna mah asal bisa mengrumput jeung si FEBRI cenah, ngefans pisan tah budak dua eta ka si BOW teh". Jawab Jose sambil melirik bi Enok yang sedang asyik bergoyang pinggul mengikuti irama musik kontestan di atas panggung dangdut akademia, Jose menelan ludah, kemudian mengheot.

"Buka dikit Jose...!" teriak The Special One penuh reflek, teriakan itu membuat bi enok kaget lalu pura pura mengaji, (hadeuh jauh pisannya....).

***


Angin sore berhembus kencang, lembayung menguning menghias senja, ada segudang asa di musim mendatang, yang lalu akan menjadi masa lalu meski pahit tapi menjadi pengalaman yang sangat berharga untuk PERSIB.

Pak Haji kembali menghisap rokok, menghembuskan asapnya ringan, asap itu kemudian menghilang di telan udara, Jose Mourinho A.K.A "de sepesial wan"alias wawan sudah pamit, dia akan menyesaikan beberapa urusannya di Mancester sambil menunggu liga Indonesia musim depan dimulai.

Anonimiyus 14/10/2017