Mohon tunggu...
Yupiter Gulo
Yupiter Gulo Mohon Tunggu... Belajar, Mengajar dan Menulis mengantar Pikiran dan Hati selalu Baru dan Segar

|Belajar, Mengajar dan Menulis mengantar Pikiran dan Hati selalu Baru dan Segar|

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Penjara Itu Menghancurkanmu, Keluarlah!

22 Maret 2021   07:11 Diperbarui: 22 Maret 2021   08:51 781 7 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Penjara Itu Menghancurkanmu, Keluarlah!
thedreamcatch.com

Keliru bila Anda berpikir bahwa hidup itu masih panjang. Hidup itu hanya sekali dan tidak akan pernah kembali. Mau tidak mau, suka atau tidak senang, hidupmu akan terus saja bergerak kedepan. Jadi, jangan pernah menghabiskan hari-hari hidup Anda di dalam penjara kebencian dan dendam membara tiada akhir. Segera keluar dari penjara itu!

Penjara kebencian dan dendam jauh lebih dahsyat daya rusaknya ketimbang penjara di Cipinang maupun penjara di Salemba. Karena diri sendirilah yang menciptakannya sedemikian rupa sehingga menjadi determinasi atau pembatasan untuk bertumbuh, berkembang, berprestasi dan berproduktifitas. Artinya, bila mau mencapai prestasi puncak, maka selesaikan semua pembatas dalam diri sendiri. Rontokan semua tembok penjara psikis yang ada untuk mendapatkan sebuah kekebasan tiada batas.

Tidak bisa memaafkan, benci dan akhirnya dendam merupakan faktor perusak pertumbuhan seseorang secara pribadi. Banyak yang memahami dan menyadarinya, tetapi jauh lebih banyak orang yang tidak menyadari dan tentu tidak pernah akan bisa keluar dari penjara itu. Akibatnya, hidup menjadi tidak damai, tidak sejahtera dan mungkin tidak pernah mampu mengeksplorasi kemampuan tertinggi dalam hidupnya.

Penjara yang dimaksudkan ini menunjuk pada relasi antar sesama manusia. Betul, hubungan sosial yang harus dimiliki dan dihadapi dan tentu saja dikelola oleh siapa saja yang merasa makhluk sosial. Benci dan dendam serta saling memaafkan menjadi urusan ketidakmampuan mengelola hubungan dengan orang lain. Padahal, perbedaan dan benturan relasi memang harus terjadi untuk mencapai sebuah keseimbangan yang dibutuhkan, sehingga harusnya benci dan dendam itu tidak perlu dipelihara sampai turun temurun.

Keluarlah segera dari penjara kebencian dan dendam itu. Semakin cepat kelur maka hidup akan semakin cepat baik dan damai, serta peluang mencapai prestasi puncak pun akan semakin besar. Sebaliknya, memelihara penjara kebencian hanya akan mempendek hidup yang sia sia belaka.

Intinya adalah perjuangan untuk memiliki sikpa hidup mudah mengampuni dan memaafkan orang lain sebagai pintu menjebol penjara kebencian itu. Ada 4 langkah kunci sebagai pesan dan nasehat bijak bagi siapa saja yang hendak keluar dari penjara kebencian dan dendam itu :

Langkah-1. Sadar bahwa Anda tidak sempurna.

Ini langakh kunci pertama, miliki kesadaran penuh tiada batas bahwa sesungguhnya di dunia ini tidak ada satu orang pun yang sempurna. Seyiap orang memiliki kelemahan dan kelebihan. Bahkan kelemahan bisa sangat banyak, pun kelebihan banyak. Jadi, tidak ada alasan bagi siapapun untuk tidak memaafkan orang lain, karena sangat mungkin diri sendiri juga melakukan kesalahan yang sama.

Langkah pertama ini hendak menegaskan bahwa orang terus benci dan dendam itu merasa dirinya paling sempurna dibandingkan orang lain sehingga dia menuntut balas dari orang lain itu. Tidak mengapa kalau orang lain itu memahami seperti demikian. Tetapi menjadi konyol ketika orang lain tidak memahami bahwa dirinya sedang dibenci dan didendami oleh seseorang.  

Logikanya demikian, saat membenci seseorang, tidak bisa dihindari bahwa Anda cenderung hilang perspektif terhadap orang itu. Kebencian, kepahitan, dan sakit hati membuat seseorang akan berhenti memandang orang lain sesama nya manusia. Bisa saja jadi, bahwa Anda memperlakukan mereka bagai binatang atau makhluk lain. Padahal kenyataan bicara lain, sebab semua orang ada di perahu yang sama, kita semua sama saja. 

Sang Pengkotbah berpesan bahwa "Sungguhnya, di bumi tidak ada orang yang saleh: yang berbuat baik dan tak pernah berbuat dosa". Kita semua tidak sempurna.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN