Mohon tunggu...
Yupiter Gulo
Yupiter Gulo Mohon Tunggu... Belajar ilmu ekonomi, menekuni area manajemen. Fokus keuangan-investasi-pasar modal, HRM dan Strategic Management. Competence CRP, Finance Analis, WPPE, HRA berbasis Research. Menulis buku ajar, artikel dan jurnal. Mengajar dan belajar membuat pikiran dan hati selalu

|Belajar. Mengajar dan Menulis Mengantar Pikiran dan Hati Selalu Baru dan Muda|

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan

Kemarahan Jokowi, Bukti Kompetensi Plt Dirut PLN Dipertanyakan

5 Agustus 2019   20:44 Diperbarui: 6 Agustus 2019   05:50 0 4 4 Mohon Tunggu...
Kemarahan Jokowi, Bukti Kompetensi Plt Dirut PLN Dipertanyakan
https://nasional.kompas.com

"Apakah tidak dihitung, apakah tidak dikalkulasi kalau akan ada kejadian-kejadian sehingga kita tahu sebelumnya. Kok tahu-tahu drop," ujar Jokowi.

Kutipan kata-kata dari Presiden Jokowi diatas menjelaskan begitu lugas, tegas bahwa sesungguhnya manajemen PLN di bawah Direktur Utamanya memang "tidak becus" dan tidak profesional sama sakali, dan akibatnya sungguh fatal dan merusak pamor, wibawa seorang Jokowi sebagai kepala negera republik ini.

Kalimat pendek Jokowi, tetapi berisi kata-kata pedas bagi seorang CEO, seorang Direktur Utama sebuah BUMN besar di negara ini, dengan seakan begitu entengnya mengatakan ini kesalahan teknis belaka. Jangan seorang Jokowi yang presiden, rakyat jelatapun pasti marah mendengar penjelasan dari seorang Dirut PLN.

Secara manajerial, kemarahan Jokowi sangat pada tepatnya untuk di lampiaskan kepada seorang yang dipercayakan sebuah tanggung jawab besar bagi kepentingan seluruh kepentingan bangsa ini:

Satu, apakah tidak dilakukan perhitungan yang cermat tentang kondisi PLN ?

Sebuah pertanyaan manajerial yang semua orang paham, bahwa seharusnya pihak Manajemen PLN memiliki data yang akurat tentang kondisi teknis, ekonomis dan sebagainya tentang PLN ini. Dan dengan kejadian yang seperti mendadak begini, dipastikan bahwa Pimpinan PLN tidak pernah melakukan perhitungan atau kalkulasi seperti yang Jokowi kesalkan.

Lha, kalau sudah melakukan hitung menghitung, harusnya semua kemungkinan terburuk bisa diantisipasi agar tidak terjadi. Nah, bayangkan saja, hampir semua padam dan tidak berfungsi.

Manajemen yang buruk adalah merasa semua baik-baik saja tanpa ada penegcekan yang akurat yang terus menerus, sehingga bisa dilakukan pencegahan.

Kedua, "...apakah tidak dikalkulasi, untuk antisipasi kejadian sebelumnya..".

Manajemen PLN sama sekali tidak memiliki kepekaan atau sensitifitas yang tinggi terhadap masalah-masalah kritis dalam mengelola semua operasi. Artinya, dipastikan bahwa penerapan manajemen risikonya "nyaris tidak berfungsi".

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x