Mohon tunggu...
Dr. Yupiter Gulo
Dr. Yupiter Gulo Mohon Tunggu... Dosen - Dosen, peneliti, instruktur dan penulis

|Belajar, Mengajar dan Menulis mengantar Pikiran dan Hati selalu Baru dan Segar|

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Ketika Prabowo Menghadapi Kecolongan Demi Kecolongan

6 Juni 2019   22:20 Diperbarui: 7 Juni 2019   08:11 2658
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sebagai contoh yang signifikan adalah awal tahun 2019 tentang ditemukannya beberapa kontener berisi surat suara yang sudah di coblos yang dihembuskan oleh anggota koalsi. Dan pada akhirnya polisi bisa mengungkap habis tentang isu hoaks yang sama sekali tidak benar itu.

https://megapolitan.kompas.com/read/2019/04/11/18074551/kpu-sudah-curiga-soal-7-kontainer-surat-suara-tercoblos-adalah-hoaks?page=all
https://megapolitan.kompas.com/read/2019/04/11/18074551/kpu-sudah-curiga-soal-7-kontainer-surat-suara-tercoblos-adalah-hoaks?page=all
Bila diangkat kembali isu hoaks di tahun 2018 tentu publik ingat bagaimana kasus hoaks Ratna Sarumpaet tentang yang menghebohkan itu karena melibatkan semua petinggi partai dan petinggi koalisi Capres 02. Isu hoaks ini yang akhirnya menyeret Ratna Sarumpaet ke tahanan dan sejumlah terkait.

Kecolongan inipun harusnya tidak perlu terjadi, karena hanya menggerogoti kredibilitas yang dimiliki oleh Prabowo-Sandi menuju saat Pilpres April 2019.

Keenam, kecolongan yang sangat menyakiti terjadi diawal proses pen-Capresan dan Cawapres, yang dikenal dengan isu "jenderal kardus" yang dilontarkan oleh salah seorang petinggi salah partai koalisi Prabowo. Isu jenderal kardus ini, sangat kental dengan proses Prabowo memilih Cawapresnya, yang semula publik tidak menduga akan jatuh ke Sandiga Uno sebagai pasangan Prabowo.

http://makassar.tribunnews.com/2019/03/05/prabowo-subianto-diam-saja-disebut-jenderal-kardus-oleh-andi-arief-malah-gini-ke-anak-buah-sby
http://makassar.tribunnews.com/2019/03/05/prabowo-subianto-diam-saja-disebut-jenderal-kardus-oleh-andi-arief-malah-gini-ke-anak-buah-sby
Mengapa ini menjadi kecolongan, karena alasan pemilihan Sandi sebagai pasangannya, sangat kental dengan isu aliran dana sebagai bargainning yang dibangun untuk kepentingan kelompok koalisi.

Kejadian ini dibaca sangat jelas oleh publik tentang pertimbangan yang sangat tidak matang dari seorang Prabowo untuk memilih pasangannya. Dan tentu saja ikut mempengaruhi kredibilitas yang harus diusung selama proses Pilpres.

Ketujuh, perayaan lebaran tanggal 5 dan 6 Juni 2019 oleh publik menunggu dan berharap Prabowo aka nada pertemuan dengan Capres 01, Jokowi tetapi hingga saat ini tidak ada. Walaupun santer terdengar sebelumnya akan ada pertemuan setelah Prabowo kembali ke tanah air.

Publik membaca ini sebagai sebuah kecolongan bagi Prabowo kalau mau resonance dinamika politik kedepan menjadi agenda untuk peranan penting dari partai koalisi yang masih setia bersatu dalam Koalisi Adil Makmur.

https://nasional.kompas.com/read/2019/06/05/22144921/moeldoko-sebut-pertemuan-jokowi-dan-prabowo-hanya-tinggal-tunggu-waktu
https://nasional.kompas.com/read/2019/06/05/22144921/moeldoko-sebut-pertemuan-jokowi-dan-prabowo-hanya-tinggal-tunggu-waktu
Tentu saja publik masih berusaha menunggu arah dari dinamika yang akan dikelola oleh Prabowo setelah masa libur lebaran selesai dan segera memasuki masa-masa persidangan perselisihan gugatan hasil Pilpres di Mahkamah Konstitusi.

Tentu saja bila dirunut kembali kebelakang, masih ada kecolongan lain yang dialami oleh seorang Prabowo sehingga perolehan suara pada Pilpres 17 April yang lalu masih kalah tertinggal ketimbang Jokowi yang berada pada sekitar 55% sekian.

Apakah masih akan ada lagi kecolongan yang akan terjadi sesudah ini oleh Prabowo dan kubu BPNnya? Bisa saja ada dan bisa juga tidak ada. Secara statistik, kalau sejumlah kecolongan ini ada maka kemungkinan besar akan muncul kecolongan baru.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Analisis Selengkapnya
Lihat Analisis Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun