Yupiter Gulo
Yupiter Gulo Dosen

|Belajar. Mengajar dan Menulis Mengantar Pikiran dan Hati Selalu Baru dan Muda|

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Ketika Kubu Prabowo Terdesak, Putus Asa dan Naif

15 Mei 2019   16:54 Diperbarui: 16 Mei 2019   10:22 2395 11 14
Ketika Kubu Prabowo Terdesak, Putus Asa dan Naif
http://wartakota.tribunnews.com/2019/05/15/prabowo-tolak-hasil-penghitungan-kpu-tkn-jokowi-harusnya-prabowo-sandi-malu-pada-rakyat

 

Sudah bisa di duga apa yang akan terjadi menjelang Rabu 22 Mei 2019, ketika KPU akan mengumumkan hasil-hasil yang di capai dalam pesta demokrasi yang terkenal terumit di dunia saat ini, yaitu  Pemilu serentak Pilpres dan Pileg 2019-2024 yang menelan biaya ratusan triliun rupiah, bahkan menelan korban jiwa lebih 500 orang dan ribuan petugas KPPS terkapar sakit.

Peserta dalam kontestasi akbar sekali 5 tahun ini akan menunggu dengan was-was, harap-harap cemas, hati dan pikiran naik-turun, bahkan tensi darah dan semua penyakit bisa saja kambuh seketika. 

Terutama para kandidat yang merasa perolehan suaranya tidak menjanjikan untuk menang akan menjadi "siksaan psikologis" tersendiri ketimbang mereka yang merasa lolos menjadi sang pemenang baik anggota Legislatif maupun Capres.

Hari-hari dan detik-detik menjelang tanggal 22 Mei 2019 seakan menjadi "lonceng kematian" bagi yang kalah. Apalagi kalau selama persiapan hingga saat perhitungan suara berjalan telah mengeluarkan sumber daya yang luar biasa, uang yang tidak sedikit, tenaga, waktu, dan tim kerjanya masing-masing ini semua seakan menjadi kesia-siaan belaka.

Nampaknya betul, bahwa saat KPU nanti akan mengumumkan hasil akhirnya maka betul-betul itu menjadi lonceng kehidupan yang menandakan kekalahan atau sebagai pemenang.

Nampaknya, itulah yang sangat terasa ketika berlangsungnya acara akbar dari Kubu Prabowo - Sandi dan Tim BPN-nya di Hotel Grand Sahid Jaya, Selasa 14 Mei 2019 di Jakarta, dengan acara bertajuk "Mengungkap Fakta-Fakta Kecurangan Pilpres 2019", yang video sekitar 1,5 jam panjangnya telah beredar luas di sosial media dan youtube.

Dan hari ini menjadi  hot issues pemberitaan tentang sikap dari kubu Prabowo yang menolak hasil Pilpres yang curang sejak saat kampanye hingga proses perhitungan dilakukan oleh KPU. Dan lebih seru lagi, kubu Capres 02 ini menyatakan sikap dengan tegas tidak akan mengajukan tuntutan hukum melalui MK atas semua kecurangan yang mereka temukan.

Sikap yang dipertontonkan oleh kubu Prabowo dengan BPN nya, menjelaskan 3 hal  penting yaitu merasa terdesak, merasa putus asa, dan menjadi naif atau  kekanak-kanakan bahkan ngambek. Sebab, susah sekali untuk mengidentifikasi hal-hal sebaliknya dari ketiga sikap diatas.

Merasa Terdesak

Betulkan kubu Prabowo-Sandi merasa terdesak saat ini? Orang yang berada dalam situasi terdesak akan memperlihatkan perilaku yang berbeda dengan orang yang tidak terdesak, dan bahkan cenderung perilakunya agresif dan menyimpang bila tidak mampu mengendalikan diri.

Tinggal satu minggu lagi menuju hari H pengumuman hasil Pemilu, dan itu artinya kesempatan bagi Kubu Capres 02 tinggal sejengkal untuk memperjuangkan agar menjadi pemenang dalam kontestasi Pilpres ini.  Oleh karenanya maka segala upaya, berbagai cara, bermacam strategi akan dilakukan demi target mewujudkan mimpi menjadi RI-1 2019-2024. Hal ini sesuatu yang wajar saja dialami oleh siapapun kalau sedang terdesak dan mendesak.

Keadaan terdesak ini tidak bisa dihilangkan dalam lingkungan BPN Prabowo-Sandi, dan utamanya parpol-parpol yang menggantungkan antara mati hidupnya demi kemenangan bagi Capres 02. Kepentingannya bukan hanya sekedar memenangkan Prabowo saja, tetapi kepentingan Parpol pendukung 5 tahun yang akan datang. Perkiraan jumlah konstituen sebesar sekitar 45%, sesungguhnya bukan jumlah yang sedikit sebagai bukti bahwa didukung dengan setia. Sebutkan saja angka 69 jutaan dari 155 jutaan pemilih dalam Pemilu 2019 ini. Sebuah angka yang besar

Kalau benar-benar kalah, maka mimpi 5 tahun kedepan bahkan lebih lama akan tinggal menjadi mimpi saja dan gigi jari selama itu. Inilah sesungguhnya yang membuat suasana ketegangan betul-betul hadir di tengah-tengah BPN.

Dan karenanya, setiap menit terasa sangat mahal untuk melakukan apa saja yang dianggap mampu mendekatkan mimpi-mimpi bersama itu terwujud pada tanggal 22 Mei 2019.

Namun secara psikologis, semakin merasa terdesak maka sangat mungkin semua yang dilakukan cenderung selalu menyimpang dan salah, kalau perlu hukum dan peraturapun di lawan, dan tatanan kesopanan sebagai calon orang nomor satu di negeri inipun menjadi sirna belaka.

Merasa Putus Asa

Keputusasaan menjadi warna dan suasana psikologis dan kebatinan yang sangat mencekam ditengah-tengah kubu BPN. Tidak ada harapan lagi untuk bisa mengantar Prabowo dan Sandi untuk bersanding di pelaminan kursi Presiden dan Wakil Presiden periode 2019-2024.

Publik semua faham tentang keputusasaan ini, karena sejak selesai hari pencoblosan, saat hasil-hasil Quik Count dari sebagian besar Lembaga Survei menempatkan Capres 01 sebagai Pemenang, dengan posisi antara sekitar 56% versus 44%. Walaupun kemudian hasil QC ini menjadi kontroversi yang menyita perhatian publik berhari-hari karena pada saat yang sama Capres 02 juga mengeluarkan QC-nya atau Exit Pool yang meyakinkan Prabowo menang pada angka sekitar 62%.

Merasa putus asa karena perkembangan hasil Real Count dari KPU dari hari ke hari memperlihatkan hasil yang hampir sama dengan QC lembaga survei. Bahkan cenderung lebih tinggi sedikit dengan kemenangan sementara ada di Capres 01, hingga hari ini Rabu 15 Mei 2019, posisi 56,21% untuk Capres 01 versus 43,79% untuk Capres 02, dengan 83,24% suara di rekapitulasi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2