Mohon tunggu...
Dr. Yupiter Gulo
Dr. Yupiter Gulo Mohon Tunggu... Dosen - Dosen, peneliti, instruktur dan penulis

|Belajar, Mengajar dan Menulis mengantar Pikiran dan Hati selalu Baru dan Segar|

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Rekonsiliasi Pasca-Pemilu dan Politik "Dagang Sapi"

25 April 2019   07:37 Diperbarui: 25 April 2019   14:14 263
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
http://style.tribunnews.com/2016/11/01/ini-kata-prabowo-saat-jokowi-naik-kuda-putih-di-bogor?page=all

Politik itu penuh dengan misteri, teka-teki, isyarat, pantomin, bahasa tubuh yang kadang mudah ditebak arti dan maksudnya, tetapi lebih banyak yang sulit diterka. Dan lebih hebohnya lagi, yang paling dominan adalah wilayah abu-abunya.

Nah, kalau sudah berada di wilayah yang abu-abu maka segala sesuatu bisa saja terjadi. Termasuk yang semula tidak dipikirkan akan muncul dalam wilayah yang abu-abu.  Atau yang semula sudah dirancangkan dengan rapi dan mantab, semuanya bisa hilang dan bubar setelah berada dalam gray-area ini.

Grey area ini boleh disebutkan sebagai tempat jumpanya para pemain politik, atau katakanlah "para politikus", dalam tanda kutip karena banyak orang yang merasa jadi politikus kalau sudah berada dalam arena abu-abu itu, walaupun dia baru saja lahir kemarin dalam pinggiran dunia politik, untuk membahasa segala sesuatunya yang berkaitan dengan pencapaian kepentingan masing-masing dan kalau bisa kepentingan bersama.

Ada banyak kode dan simbol-simbol yang digunakan oleh para pemain politik dalam wilayah yang abu-abu. Kode itupun muncul dengan sendirinya dalam interaksi yang kadang tak jelas apa yang sedang dipikirkan dan dibicarakan. 

Disana akan ada diskusi yang dinamika naik dan turun, dalam durasi waktu yang tak jelas, saking tak jelasnya pertemuan bubar begitu saja untuk diteruskan kapan kapan dan ditempat mana saja.

Kecuali satu hal, yaitu "kepentingan", kepentingan pribadi yang utama, lalu meningkat kepada kepentingan kelompok, naik lagi kepentingan partai, kepentingan masyarakat dan naik terus hingga kepentingan negara dan bangsa. Ini urutan tak boleh jumping. Artinya kalau kepentingan pribadinya sudah terjawab baru melangkah dia kepentingan yang lebih tinggi.

Itu sebabnya, tidak semua orang mampu memasuki wilayah politik di arena yang serba abu-abu ini, karena disana Anda tidak akan menemukan formulasi baku tentang apa saja. Semuanya bisa diatur sesuai dengan pencapaian kepentingan.

Kembali kepada arena pasca pemilu serentak 2019, yang setelah kegaduhan dan gonjang ganjing semingguan tentang hasil hitung cepat dari lembaga survei dengan QC mereka, dan juga exit poll dari masing-masing kelompom capres, lalu muncul kebutuhan untuk rekonsiliasi.

Waow..rekonsiliasi sesungguhnya sebuah situasi yang kritis dari sejumlah kelompok yang bertikai keras sehingga kalau dibiarkan maka akan muncul  keadaan yang cenderung chaos. Tapi, apakah betul situasinya sekarang seperti itu?

Tapi, baiklah kita lihat dinamikanya. Yaitu karena kedua capres sudah saling mengklaim kemenangan berdasarkan hasil QC dan Exit Poll, maka ketegangan komunikasi nampak menguasai ruang publik kedua belah pihak, dan terus menerus saling membelain dengan alasan dan penalaran masing-masing.

Tidak bisa dipungkiri bahwa dinamika hasil  perhitungan yang sedang berjalan cenderung kemenangan ada di pihak Capres 01, Capres Petahana, Jokowi dan Amin. Dari semua dinamika yang ada, Capres 02 sungguh menyadari itu, sehingga sebelum hasil Real Count dari KPU keluar, maka berbagai manuver, action, dan sejumlah dinamika dilakukan dalam menempatkan posisi bargaining yang semakin kuat ketika hasil akhir diumumkan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Analisis Selengkapnya
Lihat Analisis Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun