Mohon tunggu...
Dr. Yupiter Gulo
Dr. Yupiter Gulo Mohon Tunggu... Dosen - Dosen, peneliti, instruktur dan penulis

|Belajar, Mengajar dan Menulis mengantar Pikiran dan Hati selalu Baru dan Segar|

Selanjutnya

Tutup

Inovasi Pilihan

Strategi Mengelola Berita Hoax di Media Sosial

3 Agustus 2018   23:21 Diperbarui: 4 Agustus 2018   00:26 1605
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
http://www.academicindonesia.com

Oleh karena itu, maka sikap pertama yang harus diluruskan tentang Berita Hoax adalah harus benar bahwa berita berkonten negative itu menjadi bawaan dari sebuah perubahan kehidupan. Sehingga tidak perlu dilawan tetapi seharusnya dikelola dengan benar agar efek negatifnya dapat dikelola untuk tidak membawa kerusakan ditengah-tengah kehidupan masyarakt.

Berita Hoax harus "dirangkul" dan dikelola secara benar agar menjadi sarana yang lebih efektif untuk memberikan makna hidup yang lebih baik kedepan.

Mengelola berita hoax berarti mengelola manusia yang menyebarkan berita hoax itu. The man behind the news. Manusialah yang ada dibelakang berita bohong dan negative itu. Bukan siluman dan bukan hantu-blau juga. Tetapi sungguh-sungguh manusia utuh yang memiliki secara lengkap panca indra.

Bila menilik perkiraan orang Indonesia yang memiliki akun internet sebanyak sekitar 1346 juta, dan ini adalah yang potensial memiliki akun social media, yang juga sangat mungkin terlibat dalam akun berita hoax, maka pertanyaannya adalah seberapa banyak atau seberapa %kah yang menyebarkan berita hoax itu?

Hasil-hasil percakapan dengan sejumlah komunitas menunjukkan bahwa pada umumnya masyarakat yang memiliki pendidikan terendah tidak memahami dengan baik dampak dari berita hoax itu ketimbang masyarakat yang berpendidikan tinggi. Mereka yang memiliki pendidikan menengah keatas yang sangat memahami akibat dari berita hoax. Dan disimpulkan bahwa justru yang memahami dampak berita hoax itulah yang tidaj terlalu besar jumlahnya.

Dua kelompok extrim yang potensial menyebarkan berita hoax. Dan yang paling besar dan banyak adalah mereka yang berpendidikan rendah sekali, tetapi tidak mengerti dampaknya.

Oleh karenanya, maka edukasi, literasi dan pemberdayaan yang harus dilakukan adalah kepada kelompok pengguna akun social media yang berpendidikan rendah. Sebab mereka begitu mudah menyebarkan berita-berita yang tidak benar. Sementara mereka yang berpendidikan tinggi relative mampu mengolah berita dengan dampaknya. Sehingga jumlahnya sangatlah tidak signifikan sebagai penyebar berita hoax secara massif.

Jalur Pendidikan dan Agama

Mengelola berita hoax secara efektif hanya melalui jalur pendidikan dan agama. Keduanyanya bisa bersinergi secara baik dan efektif. Itu sebabnya, kedua lembaga yang terkait, Mendikbud dan Menag harus melakukan kolaborasi yang strategis untuk melawan berita hoax ini.

Melalui jalur pendidikan mulai dari Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi, yang menjadi ujung tombak adalah guru-guru dan dosen, akan mudah menjadi fasilitatior dan mediator untuk merubah mindset mahasiswa dan siswa agar melawaan hoax. 

Lingkatan sekoah in bisa berimbas kelingkungan yang lebih luas, didalam keluarga, lingkungan mereka dan sebagainya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Inovasi Selengkapnya
Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun