Mohon tunggu...
Yuniandono Achmad
Yuniandono Achmad Mohon Tunggu... Dosen - Dreams dan Dare (to) Die

Cita-cita dan harapan, itu yang membuat hidup sampai saat ini

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Jokowi Bertemu PM Australia Kok Lebih Viral (?)

30 Juli 2022   23:48 Diperbarui: 31 Juli 2022   12:19 257
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Judul selengkapnya artikel ini adalah: Mengapa momen Presiden Joko Widodo menjamu atau menerima Perdana Menteri (PM) Australia, Antony Albanese, lebih viral dibandingkan dengan peristiwa jamuan pemimpin negara lainnya? Pembaca kompasiana yang budiman, sejak bulan April 2022 Presiden Jokowi menerima ketibaan para pemimpin dunia, dan semua dijamu di istana Bogor.

Dalam catatan saya beberapa momen jamuan tersebut, terutama di tahun 2022, adalah sebagai berikut.

Pertama pada akhir Maret 2022 yaitu tanggal 31, Presiden Jokowi menyambut kedatangan PM Papua Nugini, James Marape. Kedua di bulan April, tepatnya tanggal 29, di Istana Bogor menerima kunjungan resmi Perdana Menteri Jepang Kishida Fumio. 

Ketiga di hari Senin, 6 Juni 2022, Presiden Joko Widodo menerima kunjungan kenegaraan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat. Keempat bulan Juni, tanggal 16, Istana Bogor menerima kunjungan Presiden Republik Federal Jerman, Frank-Walter Steinmeier. Kelima, Presiden Joko Widodo menerima kunjungan kehormatan Presiden Timor Leste Jose Ramos Horta di Istana Bogor, Selasa 19 Juli 2022 pagi.

Dengan metode komparatif -atau membandingbandingkan- saya melihat berita di media sosial, laman internet, dan berita di koran. Gambar presiden Jokowi dengan PM Australia mister Albanese lebih jadi headline, yaitu momen mereka berdua mengendarai sepeda kayuh dari bambu.

Pengetahuan saya di bidang khasanah diplomasi atau hubungan internasional tentunya terbatas. Namun dari surfing media terutama mengoogling pengetahuan diplomasi kontemporer saya mendapat satu kata kunci, yaitu "entertaint diplomacy" atau diplomasi yang menghibur.

Momen Jokowi -- Albanese memenuhi kriteria entertaint diplomacy tersebut. Terutama saat Jokowi dan Albanese menaiki sepeda kayuh dari bambu.

Pertistiwa tersebut memenuhi kriteria soft power, public diplomacy, dan nation branding. Dalam sebuah kompetisi internasional antara negara dewasa ini, kekuatan yang lunak atau soft power akan lebih mengemuka. 

Naik sepeda antara kedua pemimpin dunia merupakan pengejawantahan diplomasi publik bahwa keduanya adalah orang biasa yang hobi bersepeda. Indonesia juga mencoba mengintervensi budaya popular -ketika masa pandemi banyak orang gemar sepedaan- dengan memasukkan produk lokal yakni sepeda bambu. Itulah nation branding yang barangkali hanya ada di bumi pertiwi.

Memang terjadi evolusi kebijakan luar negeri dan lebih khusus lagi peran dan tipe perangkat lunak non-negara. Kebijakan tersebut menjadi karakteristik diplomasi pada abad kedua puluh satu. Intinya upaya promosi kepentingan keamanan nasional dengan berfokus pada 3 (tiga) konsep: soft power, diplomasi publik, dan nation branding. 

Diplomasi lunak berciri pada budaya pop (hiburan, olahraga, infotainment, tradisi nasional, dan selebriti) untuk mempromosikan citra suatu negara dengan menyelaraskannya agar sesuai tujuan kebijakan luar negeri. Perihal entertaint atau hiburan menjadi bagian penting dari diplomasi publik negara mana pun, yang awalnya dimulai dari kemunculan televisi. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun