Mohon tunggu...
Yuniandono Achmad
Yuniandono Achmad Mohon Tunggu... Dosen - Dreams dan Dare (to) Die

Cita-cita dan harapan, itu yang membuat hidup sampai saat ini

Selanjutnya

Tutup

Raket Pilihan

Pasca Sudirman Cup, Next: Thomas/ Uber 2020

29 Mei 2019   09:51 Diperbarui: 29 Mei 2019   13:15 305
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
sumber foto: https://bola.kompas.com/

MASIH ada rasa sesal mungkin di benak badminton lover pribumi setelah kegagalan tim Sudirman Cup kemarin. Nyesek saat semi-final kalah melawan Jepang 1-3. Bagi saya -sebagai penghibur- mungkin rasanya tidak seberapa dibanding orang-orang Jepang yang timnya kalah 0-3 di partai puncak. Bayangkan, Jepang sebagai unggulan pertama takluk di tangan ruan rumah. Padahal mereka dream team karena tunggal putra, tunggal putri, dan ganda putrinya peringkat satu dunia semua.

Tapi bisa jadi bagi mereka juga tak mengapa, karena mungkin Jepang akan lebih fokus ke Olimpiade 2020 ketika mereka menjadi tuan rumah. Kalau kita? Olympic pasti, tapi ada juga yang urgen: Thomas Cup. Tim putra kita jauh lebih kuat probabilitasnya dalam meraih Thomas dibanding tim putri kita dalam merebut Uber. Mungkin ramalan saya, di tingkat dunia bahkan, Jepang melihat komposisi pemain saat ini -bisa dipastikan akan mempertahankan piala Uber 2020 nanti.

Mengapa urgen untuk merebut Thomas? Kita punya stok pemain putra melimpah, merata, dan berkualitas. Kita lihat di tunggal ada Antony SInisuka Ginting, Jonathan Christie, Shesar Hiren R., dan barangkali Ihsan Maulana Mustofa. Masih ada satu lagi pemain "spesialis" beregu yaitu Firman Abdul Kholik.

Sedangkan di ganda putra, era ini termasuk "melimpah" stoknya. Dari mulai pasangan nomor satu dunia: Marcus Gideon/ Kevin Sukomuljo, pasangan lintas zaman: Hendra Setiawan / Mohammad Ahsan, dan yunior tapi sudah masuk 5 (lima) besar dunia yakni Fajar Alfian/ Muhammad Rian Ardianto. Selain itu masih ada Berry Angriawan/ Hardianto.

Dengan stok pemain semacam itu, pantaslah kita optimis. Kalau memang benar-benar Thomas Cup sebagai target, maka perencanaan musti dimulai dari sekarang.

Kita sangat perlu untuk optimis, karena Negara lain memiliki beberapa kendala yang termasuk rumit. Tentunya dibandingkan kita, artinya kita lebih OK karena modal berharga.

Misalnya Jepang. Jepang bisa jadi menjadi negara kandidat terkuat untuk menggagalkan ambisi kita. Mereka punya ganda yang merata, dan tunggal pertama nomer satu dunia. Tunggal kedua, sebut saja Kanta Tsuneyama, mungkin memang tidak sekuat Kento, namun bisa menyulitkan Jojo dan atau Sesar Hiren mengingat rekor pertemuan. Artinya Jepang tidak memiliki pemain tunggal yang sip sebagai pelapis Kento Momota.

Kemudian berikutnya negara Tiongkok, jelas mereka juga akan merepotkan. Tetapi CHN tidak memiliki pemain tunggal ketiga dan ganda kedua yang mumpuni. Ditambah faktor usia Chen Long yang menambah beban, sehingga sering kalah. Negara lain lagi seperti Denmark, jelas hanya mengandalkan tunggal pertama (Victor Axelsen) dan tunggal keduanya (Antonsen), seterusnya -termasuk ganda pertama dan kedua- mereka minim stok pemain yang mumpuni.

Negara sesama Asean (yaitu Thailand dan Malaysia) memiliki kendala yang hampir sama. Cuma bedanya Thai kurang pemain ganda, sedang Malay kurang pemain tunggal. Permasalahan Thailand tersebut mirip dengan negara Asia Selatan -yaitu India- yang terhitung melimpah pemain tunggalnya.

Pertanyaannya: Adakah kendala bagi tim kita, apa sajakah itu? Menurut hemat saya setidaknya ada beberapa kendala, salah satunya terkait peak performance. Yaitu berlangsungnya Olimpiade Tokyo 2020 yang momennya hanya selang bulanan. Beberapa kali kita mengalami peak performance yang kurang pas. Misalnya tahun 1992, kita gagal dalam Thomas Cup (kalah melawan Malaysia), namun kita berjaya dalam merebut medali olimpiade Barcelona 1992 -dengan 2 emas, 2 perak, 1 perunggu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Raket Selengkapnya
Lihat Raket Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun