Yuniandono Achmad
Yuniandono Achmad Dosen

Cita-cita dan harapan, itu yang membuat hidup sampai saat ini

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Mas Kesot Bercukur Lagi

16 Mei 2019   16:12 Diperbarui: 19 Mei 2019   17:07 160 0 1
Mas Kesot Bercukur Lagi
cukur-1614158192-5cdd27477506571eed397dc6.jpg

                                                                 "Mas ....mas Kesot ....bangun mas. Ayo sahur ...sahur Mas, " setengah berteriak si istri membangunkan Kesot dini hari itu. Mungkin istri Kesot merasa suaminya susah dibangunkan -sehingga pakai guncangan agak keras. Puasa lagi, puasa lagi. Kesot setengah menggerutu, kayaknya sang istri tidak tahu kalau dirinya baru satu jam tidur.

                                                                 Ini hari pertama puasa. Masih capek semalam ngisi di TIM lalu ngobrol dengan Budi pria bertato itu, kemudian cewek pemelihara anjing jalanan, dan kawan kawannya. Mereka memanggilku "embah", mungkin karena aku dianggap mumpuni soal fiqih. Dan yang pasti lebih tua daripada mereka.

                                                                 Bangun sahur, weleh weleh puasa lagi. Rasanya baru kemarin. Yaahhh semoga segera berakhir ramadhan ini. Salah satu ibadah yang terberat menurut Kesot. Padahal Kesot tidak banyak banyak juga makannya. Dibanding lek lek'an untuk sema'an Quran dan ibadah sholat malam, puasa paling memberatkanku, pikir Kesot. Tapi sebentar, pikir Kesot, aku tadi mimpi apa ya. Sepertinya sama dengan kemarin. Aku mimpi cukur. Ya rambutku yang sebahu ini dicukur, katanya biar rapi -kata si tukangnya. "Inget umur mbah," ada anak anak ABG milenial mengujariku.

                                                                     Cuman kadang mimpi bercukur ini apakah cukur rambut atau cukur kumis ya. Walah yang namanya mimpi. Setengah sadar setengah kagak. Malah kadang dicampur "tindihen" orang jawa bilang. Itu, itu yang disebut "sleep paralysis" versi wong Barat. Semacam kelumpuhan tidur, yang terjadi saat seseorang berada dalam fase REM (rapid eye movements).

                                                                       "Cepetan dimakan, mas .... Sebentar lagi imsak. Mas Kesot biasanya ngaji dulu tho di mushola, sebelum subuh. Ayo mas," sang istri menyadarkan lamunannya. Kesot mulai memakan hidangan di meja. Anak-anaknya tidak pada kumpul, sepertinya mereka telah selesai sahur.

Mimpi cukur. Lagi lagi mimpi yang sama. Apakah ini firasat -atau hanya bunga tidur semata. Ah udahlah siap siap jadi makmum masjid, biar anak anak asuhku yang jadi imamnya.

**

"Mas.... mas Kesot .... Ono opo iki mas .... Kok njenengan dilaporne pulisi..." istri Kesot berlari sambil berteriak.

"Iyo mbak, ora opo opo kok ....," kata Kesot menenangkan. Dia biasa menyebut istrinya dengan "mbak". Usia yang terpaut jauh, dan reputasinya selama ini sebagai sinden nomor wahid di kampung Kadipiro, membuat Kesot berperan lebih ngemong ke istrinya. Bagaimana susahnya dulu mengajak calon istrinya itu untuk menikah. Bahkan sempat calon istrinya itu meludah ketika Kesot menyampaikan keinginannya. Hehe pipinya yang seperti bakpia Bantul itu yang menarik hatiku. Oalah bakpia.

"Terus nanti gimana mas ....aku kuatir terjadi apa apa sama mas Kesot...."

"Hahaha ....peyan kuwi koyo lagi wingi ae ambek awakku. Biasa ae lah. Ini seperti masalah masalah kita kemarin .... Kelingan Hegel tho... wingi aku ngethokne thesis, terus wong wong dho antithesis .... Nah nanti kita ketemu untuk sistesis". Tesis, Antithesis, dan Sintesis. Fikih, Ahklaq, dan Taqwa. Wah kudhu sinau maneh ki. Risikone duwe bojo penyair, pikir sang istri.

Mereka berbincang agak lama. Si istri merasa pernyataan mas Kesot mengandung sense of humour yang sangat tinggi. Namun dia agak kuatir ke pernyataan pernyataan Kesot sebelumnya. Memang ndhagel sih, tapi apa semua orang memiliki sense of humour yang sama.

Perbincangan berlanjut sambil menunggu maghrib tiba. Bayangan istri Kesot mengembara ke puluhan tahun yang lalu. Mengalami sendiri naik turunnya kehidupan. Suatu saat Kesot divonis mati, karena ada semacam "barang" yang hinggap di perutnya. Badannya kurus kerontang lemah lunglai saat itu. Ajib. Kesot tetap hidup dan dokter pada heran, mungkin hanya satu manusia ini yang masih bisa bertahan hidup meski dihinggapi penyakit macam itu.

Namun  yang namanya "garwo" tetap sigaraning nyowo, ketika sebagian nyawa optimis, separuhnya lagi penuh rasa kuatir. Walaupun si istri merasa itu memang passion suaminya. Waktu jaman pak Harto dulu, saat Kesot mendekati usia 40-an, masa masa itulah sang suami belajar didekati Ratu. Namun pelan pelan mas Kesot-ku juga mempersiapkan batu nisan untuk pak Ratu. Walau katanya biar "husnul khatimah".

Zaman pak Rudi, mas Kesot nulis di Suara Merdeka, kalau pemimpin Islam tapi ngucapne salam (assalamu alaikum waroh matullahi wa barokatuh) saja "ora teteh" atau tidak bisa lancar. Tidak patut pemimpin ICMI kayak itu. 

Eranya pak Kiai Durahman, yang disebut sebagai orang terdekat mas Kesot, itu saja suamiku gak pernah mendekat ke istana. Sekali datang, ketika kia Durahman udah siap siap lengser dari kantornya.  

Zaman yu Wati jadi lurah, dia nyanyikan lagu gundul gundul pacul, yang menggambarkan saat lagu "wakul glimpang segane dadine sak latar" .... Namun bagi yu Wati, nasi itu tidak tumpah karena sudah dicicip sambal jalan. Nasinya udah dicicil dimakan sendiri, secara pelan pelan.

Zaman pak Susi, yang berasal dari Jawa Timur, ibukota SBY alias Surabaya, passion untuk ngritik tetap jalan. Mas kesot menggambarkan saat pak Susi mengalahkan yu Wati (juga prof Raisa) inilah kemenangan hamburger atas tempe -yang selama ini jadi presiden Indonesia. Pemilu dengan cara pemilihan langsung sangat mementingkan fisik. Menurut Kesot, sebenarnya prof Raisa yang lebih cocok jadi Lurahsaat itu. Lalu berikutnya zaman si Dodo jadi lurah, dia gambarkan bahwa "Petruk dadi ratu" yaitu ketika Ketua Karang Taruna bisa menjadi lurah.

Intinya mas Kesot-ku menempatkan dirinya menjadi ulama, yang berseberangan dengan umaro. Tapi sebentar, sebentar,  sebentar, lik Dodo wingi-wingi kae lak cukur rambut bareng wong-wong Garut. Apa Gusti Alloh nyindir mas Kesot-ku supaya rajin potong terhadap kegondorongannya selama ini. Saat istri masih mbathin, si Kesot jauh berpikir, "Aku potong rambutku yang gondrong, sedikit demi sedikit. Kok besoknya  masih mimpi Bercukur lagi. Padahal rambut ini adalah mahkotaku yang paling berharga." Masih lanjut Kesot, apa musti ke Garut ... ke tempat mantanku dulu. Oalah jabang bayik. 

cukur-jokowi-1789484952-5cdd30253ba7f773201e76d2.jpg
cukur-jokowi-1789484952-5cdd30253ba7f773201e76d2.jpg
Gambar: https://nasional.kompas.com/read/2019/01/19/10100511/cukur-massal-di-garut-presiden-jokowi-ikut-pangkas-rambut

Kesot pernah mengatakan ke istrinya, analogi dari sunan Kalijogo itu ngeheks banget. Soal lagu gundul  gundul pacul tadi, kemudian satu lagi soal Punakawan. Punakawan (dengan ayah: Semar) ngabdi ke satria pandawa -dalam hal ini Arjuna. Arjuna tunduk patuh ke Kresna. Kresna menaruh hormat tinggi ke Semar. Hla Semar ini kan rakyat. Siklus itu yang perlu dipahami rakyat, bahwa pemimpin itu pelayan alias abdi masyarakat. Mereka itu jongos kita. Blaik, kok malah dipolisikan tho ....

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2