Yuniandono Achmad
Yuniandono Achmad Dosen

Cita-cita dan harapan, itu yang membuat hidup sampai saat ini

Selanjutnya

Tutup

Bulutangkis Pilihan

Mengapa Bukan yang Muda (Sudirman Cup 2019)

2 Mei 2019   02:57 Diperbarui: 2 Mei 2019   03:12 182 1 0
Mengapa Bukan yang Muda (Sudirman Cup 2019)
sumber gambar: olahraga.kompas.com

PADA hari Rabu, 1 Mei 2019 (bertepatan dengan Rebo Legi 25 Syaban 1440 H ) pengurus pusat PBSI telah merilis 20 atlet putera/ri untuk terjun dalam ajang Piala Sudirman 2019. Seperti kita tahu bahwa perebutan lambang supremasi beregu campuran ini akan dilangsungkan di Nanning, Tiongkok, pada tanggal 19-26 Mei 2019.

Tim terdiri dari 12 pemain putra dan 8 (delapan) pemain putri. Tunggal putra, ganda putra dan ganda campuran masing-masing membawa tiga wakil. Sedangkan tunggal putri membawa 2 (dua) wakil, bahkan di nomor ganda putri hanya membawa 1 (satu) wakil yaitu pasangan Greysia Polii/Apriyani Rahayu. Atau lebih tepatnya 1,5 karena terdapat nama Ni Ketut Mahadewi Istarani. Sepertinya tim berharap Ketut suatu saat bisa diturunkan dengan Greysia atau Apriyani.

Selengkapnya susunan pemain kita adalah

  • PUTRA: Jonathan Christie
  • Anthony Sinisuka Ginting
  • Shesar Hiren Rhustavito
  • Kevin Sanjaya Sukamuljo
  • Marcus Fernaldi Gideon
  • Hendra Setiawan
  • Mohammad Ahsan
  • Fajar Alfian
  • Muhammad Rian Ardianto
  • Tontowi Ahmad
  • Praveen Jordan
  • Hafiz Faizal
  • PUTRI: Gregoria Mariska Tunjung
  • Fitriani
  • Greysia Polii
  • Apriyani Rahayu
  • Ni Ketut Mahadewi Istarani
  • Gloria Emanuelle Widjaja
  • Melati Daeva Oktavianti
  • Winny Oktavina Kandow

(keterangan: 12 orang putra, dan 8 orang putri). Kita anggap ini adalah pemain-pemain terbaik Indonesia yang siap turun untuk menang di sudirman cup nanti. Kita yakin PBSI banyak pertimbangan dalam membuat susunan tim dan dengan melihat kebutuhan ke depannya (dalam rangkaian menuju Olimpiade 2020).

Terlihat bahwa PBSI memperkuat di sektor putra --dibandingkan putrinya. Mungkin karena faktor skala prioritas karena  sektor putra memiliki peluang untuk mengambil poin lebih besar. 

Namun seandainya memang "melepas" sektor putri (terutama ganda putrinya), pertanyaan selanjutnya: mengapa tidak memberi peluang kepada yang lebih muda. Selain Ketut, kita punya Rosyita Eka Putri Sari yang pernah bermain dengan Apriyani. Atau mungkin Della/ Rizki yang lebih muda dibandingkan Greysia Polii. 

Dengan menambah pemain ganda putri, berarti ada pemain di sektor lain yang dikorbankan. Saya pikir Hendra Setiawan mungkin bisa diistirahatkan dari ajang ini, toh si Mohammad Ahsan juga bisa (atau: pernah) bermain berpasangan dengan Kevin Sanjaya. Dan uniknya, meski Hendra ini sering juara untuk ajang individu kelas olimpik dan Asian games, namun belum pernah (apes(?)) untuk sektor beregu. 

Kita harap tahun ini bertuah, artinya tahun ini mungkin kesempatan terakhir bagi Hendra bermain beregu, dan kita harap menjadi juara secara tim. Kemungkinan lain adalah mengurangi pemain untuk sektor ganda campuran. PBSI musti lebih percaya kepada pemain muda --dalam hal ini cukup Hafiz/ Gloria dan Praveen/ Melati- dengan menghilangkan sosok Tantowi Ahmad.

Selain itu melihat komposisi tim, sepertinya PBSI tidak berani menurunkan pemain rangkap. Berbeda dengan Jepang dan Cina yang kemungkinan akan "berjudi" atau spekulasi dengan memainkan pemain rangkap seperti Yuta Watanabe (Jepang) dan Zhang Nan (Tiongkok) untuk ganda putra dan ganda campuran. 

Terakhir Indonesia berani memainkan pemain rangkap adalah pada sosok Lilyana Natsir pada ajang Sudirman Cup 2013, saat perempat final melawan tim Tiongkok saat itu. Keuntungan pemain rangkap adalah, tim bisa meminta privilege dengan menaruh pemain rangkap tersebut pada partai pertama dan terakhir. Tim Korea menerapkan taktik ini 2 (dua) tahun lalu saat melawan tim China di final, dan Korea menang. Sosok pemain saat ini yang bisa bermain rangkap adalah Ricky Karanda Suwandi, yang sayangnya telah keluar dari pelatnas.

Tim Indonesia ada di urutan unggulan 3-4 di piala Sudirman 2019. Manajer tim, Susy Susanti, menyebutkan bahwa Indonesia kali ini memiliki peluang untuk juara. Menurut saya kalau peluang jelas ada, namun melihat perhelatan ajang ini di Nanning China dan kemudian unggulan pertama Jepang tampil dengan kekuatan penuh, rasanya bisa melaju ke semifinal saja tim kita sudah bagus. 

Kita ingat pengalaman buruk Sudirman dua tahun lalu, saat pertama kalinya Indonesia tersisih di penyisihan grup (kalah melawan India 1-4 dan hanya menang 3-2 melawan Denmark), semoga tidak terulang.

Artinya kalau mau realistis, sebaiknya PBSI menargetkan juara piala Sudirman nanti dua tahun lagi (tahun 2021) saat tunggal putra dan putri kita sudah beranjak senior atau dewasa. Maka memberikan kesempatan yang muda untuk tampil tahun ini adalah keharusan, demi kejayaan di piala sudirman dua tahun lagi.

Tapi sekali lagi, pengurus PBSI telah memilih 20 pemain terbaik, kita harapkan manajer Susy Susanti turun juga sebagai coach di lapangan nanti --artinya duduk di kursi pelatih tepat di belakang pemain. Memori "super susy" pada tahun 1989 --saat kita pertama dan satu satunya sampai saat ini yang bisa menjadi juara Sudirman- semoga memberi aura kepercayaan diri bagi tim kita, dan "keder"-nya tim atau pemain lawan saat melihat keberadaan Susy di kursi coach. Good Luck our Sudirman Team