Mohon tunggu...
Yuni Retnowati
Yuni Retnowati Mohon Tunggu... Biarkan jejakmu menginspirasi banyak orang

Dosen komunikasi penyuka film horor dan thriller , cat lover, single mom

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Nasib Orang Sakit di Masa Pandemi

12 Mei 2020   02:09 Diperbarui: 12 Mei 2020   02:29 23 2 0 Mohon Tunggu...

Setelah lebih dari seminggu menahan rasa sakit di kaki kanan , saya  terpaksa berkunjung ke klinik.  Ini menjadi kali pertama  berurusan dengan sistem pelayanan kesehatan di masa pandemi . Begitu masuk  klinik , saya menyaksikan protokol standar Corona.

Di depan meja petugas telah dipasang garis pembatas untuk menghindari kontak langsung dengan pengunjung. Itu artinya saya tidak boleh menghampiri petugas. Sebuah meja kecil sudah menunggu begitu pintu masuk saya buka. Di atas meja itu ada  buku  dan bolpoin untuk mencatatkan diri sebagai pasien dan sebuah kotak untuk menaruh kartu BPJS.  Kursi-kursi tunggu  ditempeli kertas yang  diberi tanda  silang besar  berwarna merah. Saya paham kalau  kursi bertanda silang itu harus dikosongkan sebagai syarat  physical distancing.  Kalau biasanya pengantar pasien boleh ikut masuk, kali ini diminta menunggu di luar .  Tentu saja ini juga sebagai langkah  preventif mengurangi kerumunan orang.

Sebelum menemui dokter, suhu badan dicek dan sederetan pertanyaan diajukan. Mulai dari apakah mengalami demam, sesak nafas dan pernah bepergian  ke luar kota atau tidak. Sesudah itu barulah dicek tensi . Untunglah tensi saya normal berkat rutin mengkonsumsi amplodhipin 10  mg    sehari sekali sesuai resep dokter. Sebenarnya baru bulan ini saya memaksakan diri untuk  rutin minum obat hipertensi. Meskipun masih belum konsisten minum sebelum atau sesudah makan. Saya sering lupa kalau harus minum satu jam sebelum makan. Petugas apotek menyarankan minum obat pada saat perut kosong agar lebih cepat terserap tubuh. Kalau lupa minum sebelum makan bisa juga minum satu setengah jam sehabis makan. Pada waktu puasa seperti ini pilihan ke dua tersebut lebih mudah dilakukan. Belakangan ini satu jam sebelum sahur saya  sudah  minum obat . Sebelumnya saya lebih suka minum sekitar jam delapan atau sembilan malam.  Setelah kenyang dan memberi jeda satu setengah jam jadwal minum obat itu saya tunaikan.

Sekarang tiba waktunya bertemu dokter. Saya tidak tahu akan bertemu dokter yang mana. Di klinik ini  dokter praktek biasanya dokter-dokter muda yang baru lulus . Klinik menjadi ajang praktek karena kebanyakan pasien hanya membutuhkan surat rujukan untuk mendapatkan pelayanan BPJS di rumah sakit .  Saya juga sering memanfaatkan jenis layanan seperti ini ketika harus mulai rutin mengkonsumsi obat darah tinggi setahunn terakhir ini. Saya tidak berharap bertemu dokter yang mana, semuanya sama. Mereka berganti-ganti dengan cepat. Hanya ada satu dokter yang beberapa tahun ini masih praktek di sana ketika teman-teman dokter yang lain sudah pindah ke tempat lain.

Betul juga ternyata saya tidak mengenal dokter yang duduk di ruang periksa. Tidak kelihatan wajahnya dengan jelas, tetapi yang pasti dia laki-laki. Dia berkacamata di balik face shield yang dikenakan dan sebagian wajah tertutup masker. Tangannya pun menggunakan sarung tangan yang agak panjang hingga ke sepertiga tangan. Warnanya abu-abu. Bukan sarung tangan karet yang biasa saya lihat digunakan dokter gigi.  Satu hal yang tidak biasa adalah jarak kursi pasien dengan dokter bisa mencapai satu meteran.  Agak canggung juga berbicara dalam jarak selebar itu. Rasanya ingin menghampiri dokter itu dengan menarik kursi mendekat ke mejanya supaya lebih leluasa mendeskripsikan gajala-gejala sakit yang sedang saya alami. Namun segera saya meyadari situasi apa yang  kami hadapi saat ini. Corona telah menjadi penghalang jarak kami. Baiklah  harus saya patuhi jaga jarak yang disarankan .

Setelah mendengarkan penuturan saya, dokter menyarankan saya ke apotek untuk cek gula darah sederhana. Memang klinik ini tidak punya fasilitas pemeriksaan laboratorium sehingga jika penanganan lebih lanjt dibutuhkan akan dirujuk ke laboratorium rekanan. Hanya saja di masa seperti ini antrian panjang dan prosedur pemeriksaan lab dinilai lambat karena harus mengikuti prosedur baru. Oleh karena itu saran ke apotek dirasa lebih mudah dilakukan. Sebenarnya saya mempunyai satu pack alat periksa gula darah, kolestrol dan asam urat tetapi sudah lama tidak digunakan dan tidak memiliki strip-strip untuk pengeceknya. Kalau harus membeli ini rasanya lebih mahal dibanding cek darah ke apotek yang biasanya dikenai biayai sekitar lima puluh ribu. 

"Ibu besok  cek gula darah ke apotek sekitar jam 2 siang. Itu sudah  10 jam puasa.  Sudah cukup menjadi dasar diagnosis saya sebelum merujuk ke dokter spesialis penyakit dalam di RS " dokter itu berkata sambil menuliskan resep . " Ini saya beri obat untuk penghilang nyeri dan vitamin. Kalau sudah ada hasil tes darahya kembali lagi ke sini !"

Keesokan harinya, pada jam yang disarankan meskipun hujan deras saya ke apotek yang tak jauh dari rumah. Tak sabar rasanya ingin segera mendapatkan jawaban atas  sakit di kaki yang sangat mengganggu aktivitas dalam seminggu ini.

"Mbak saya mau  cek darah ," begitu yang saya katakan kepada petugas di apotek.   

"Maaf Bu, di masa seperti ini kami tidak boleh melakukan pemeriksaan darah," kata Mbak berjilbab. "Mungkin ada lagi yang dibutuhkan, Vitamin atau obat ?"

"Nggak Mbak. Saya disuruh dokter klinik untuk cek  gula darah di apotek."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x