Yulia Ratnasari
Yulia Ratnasari

Simply Yulia, currently working as an executive during the day and painting&/writing during the night. You'll either find her wandering around the CBD looking at the moody sky or stealing plants by the street to bring them home.

Selanjutnya

Tutup

Wanita Pilihan

Budaya Suit-suit Perempuan

10 Januari 2018   11:09 Diperbarui: 10 Januari 2018   15:10 1067 1 0

Seperti tumbuhan, saya suka (butuh) cahaya matahari. Seperti binatang liar, saya jalan di jalanan ke suatu tujuan. Tidak seperti domesticated hamster di roda berputar untuk generate listrik; saya tidak akan bertahan lama diatas tread mill. Saya binatang bebas.

Sebagai orang kantoran di daerah Kuningan, setiap hari, saya jalan dari Gang Karet Pedurenan, belok ke Jalan Rasuna Said sampai ke gedung. Ini rute terbaik dan ternyaman. Saya mencoba potong jalan, lebih cepat 2 menit melalui Gang Masjid Pendurenan dan di-suit-suit warga. Sudah biasa. Se-Indonesia juga begitu, dari kakek-kakek hingga tole-tole.

Mencoba memahami, maksudnya apa? Mau ditemani? Hanya iseng? Gitu? 

Yang perlu diketahui, saya wanita biasa, tidak berpakaian aneh-aneh yang 'mengundang' untuk digoda. Seringkali baju saya lebih muslim daripada yang berhijab (karena yang berhijab jarang digoda). 

Rok maxi super panjang dan tidak ketat, cullotes panjang kombor, celana panjang hitam tidak sobek-sobek, baju berlengan tidak transparan. Kulit saya hanya dari leher ke muka, pergelangan tangan dan kaki ke ujung. Sangat tidak 'mengundang'. Hanya saja saya Cina. Gosong tetap kelihatan Cina.

Bagi pembaca pria yang tidak mengerti macam-macam digoda, ini contohnya:

  1. Disiul-siul seperti suit suit, ataupun bentuk panggilan seperti: cece, meme, neng, mbak, cewek, dsb. Dengan nada tinggi dan mendayu-ndayu.
  2. Dilihat dengan tatapan tajam menusuk hingga menembus baju. Saya di belakangnya pun dilihat terus tanpa kedip. Rambut saya hitam, bukan ungu atau hijau. Jadi, saya sama sekali tidak aneh dan tidak perlu ditoleh berkali-kali.
  3. Merekam atau mefoto, hp ikut noleh seperti kepala yang nomer 2. Bukannya ke-gr-an merasa-rasa, tapi sangat-sangat obvious.
  4. Menyolek, menoel. Kurang ajar.

Mendengar saran 'jangan berpakaian yang mengundang', saya sebenarnya tidak terima. Apakah tidak bisa, tidak membatasi lingkup gerak perempuan sehingga kami bebas berkarya?

Saya juga pingin menggunakan rok, karena alasan kerjaan (lebih formal dan descent), alasan Indonesia panas, dan alasan untuk variasi saya model baju ganti-ganti. Walaupun tidak biasa melihat perempuan jalan-jalan sendiri, tak bisakah tidak meresahkan sesama?

Saya bukan feminist, hanya warga yang ingin merasa aman dan bisa menikmati perjalanan sebagai pedestrian. Dimana jalan penuh orang idealnya lebih terasa aman dan menyenangkan daripada jalan besar yang sepi. Bagi yang tahu cara supaya tidak digoda, tolong share.

Salam.

Cyber 2 Tower, 10 Januari 2018.