Mohon tunggu...
yulianto liestiono
yulianto liestiono Mohon Tunggu... Freelancer - perupa

Lahir di Magelang. Pendidikan terakhir ISI (Institut Seni Indonesia )Jogjakarta. Tinggal di Depok

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Antara Hikaru dan Aelita Andre

12 Mei 2018   22:30 Diperbarui: 14 Mei 2018   07:17 875
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ada yang menarik dalam dunia seni rupa anak anak di jaman now. Kita pasti ingat bahwa seni rupa anak adalah lekat dengan citra dua gunung dengan jalan desa ditengahnya, ditambah matahari mengintip diantara  gunung satu dan gunung lainnya, karya karya anak seperti ini sangat populer sampai berpuluh puluh tahun dan menjadi pelajaran menggambar "paling benar" dijamannya.

Namun zaman terus berubah, demikian pula dunia seni rupa anak mengalami perubahan dengan lahirnya pakem seni rupa anak berikutnya. Yaitu periode menggambar objek apa saja, bisa pasar, binatang dan lainnya. Jadi tidak selalu gunung dan alam pedesaan. Namun demikian karya pada masa ini tetap saja mengajarkan keseragaman, atau aturan baku untuk menghasilkan karya "baik". 

Aturan atau rumusannya ada pada teknik mewarnai yang selalu menggunakan gradasi yang umumnya memakai warna senada. Bisa biru, hijau kuning atau merah orange dan kuning atau kombinasi warna lain yang sepertinya sudah menjadi rumus mewarnai.

Konsep karya anak seperti ini mewabah, hingga yang dinilai bagus dalam karya anak adalah jika anak sudah dapat menggambar dan mewarnai dengan gradasi, tidak keluar garis dan mewarnainya rata atau tidak menyisakan warna kertas yang putih. Para gurunya sering mengistilahkan jangan sampai lukisannya beruban.  Ha ha, inilah salah kaprah dalam dunia seni rupa anak yang terus berlanjut dari jaman dua gunung berganti dengan gradasi.

Kesalahannya terletak pada keharusan anak mengerjakan karya dengan satu rumus/cara yang sama untuk semua anak dan untuk semua karya.  Karena sesungguhnya cara menggambar seperti itu adalah melatih anak untuk menjadi penghapal dan bukan pemikir. Sedangkan sesungguhnya dunia seni rupa adalah dunia "tanpa batas" yang mendorong pelaku didalamnya untuk dapat berpikir cerdas, kreatif dan unik. Minimal tiga kata ini harus digenggam sebagai modal  berkarya dalam dunia seni rupa.

Hikaru adalah seorang anak yang masih belia. Namun demikian karya seni rupanya (sketsa, lukisan serta karya tiga dimensinya) memiliki kekuatan dan keunikan yang keluar jauh dari rumusan seni rupa anak yang saya sebutkan diatas. Lihat saja sketsanya. Sketsa Hikaru yang terkumpul di rumahnya barangkali jumlahnya ratusan. Ini menunjukan ia memahami bahwa sketsanya bukanlah sekedar kertas yang dicoret coret tanpa makna dan guna. 

Hikaru sadar bahwa sketsanya adalah ekspresi dirinya yang unik artistik dan mempunyai ikatan batin yang kuat dengan perjalanan hidupnya.

Ia melihat karyanya termasuk sketsanya adalah jejak atau catatan kehidupan pikiran dan perasaanya yang ia komunikasikan kepada lingkungannya. Pemahaman terhadap karyanya sendiri yang serius seperti ini menggambarkan bahwa ia sadar dan paham akan nilai  seni rupa dalam karyanya.

Diantara karya yang saya lihat saya dapat melihat kemampuannya mengorganisir berbagai materi objek gambar atau dalam bahasa seni rupa mengkomposisikan berbagai objek gambar hingga dapat menghasilkan karya yang baik, seperti memiliki pusat perhatian, keseimbangan, irama atau harmoni dan lainnya. (lihat gambar 01 dan 01a)

Dokpri
Dokpri
    sketsa 01a
    sketsa 01a
Karya lainnya menunjukan kemampuan Hikaru mengkombinasikan warna. Dalam sketsa ini ia memadukan warna merah dan hitam, hingga karyanya menjadi lebih kuat dan berbicara.
sketsa 02  
sketsa 02  
  sketsa 02a
  sketsa 02a
Selain kemampuan di ranah teknik diatas, Hikaru juga sering menunjukan kekuatan imajinasinya, lihat saja karya sketsa 03 dan sketsa 03a.

Ia menggabungkan dua mahluk beda alam menjadi satu, dan disketsa lainnya ia memanusiakan anjing (mungkin salah satu anjing kesukaanya).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun