Mohon tunggu...
Yuliana
Yuliana Mohon Tunggu... KPM IAIN LANGSA

KPM IAIN LANGSA

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama

Tantangan Beragama Remaja Milenial

21 April 2021   05:44 Diperbarui: 21 April 2021   05:59 42 0 0 Mohon Tunggu...

"Menjadi individu yang agamis di era digitalisasi merupakan tantangan tersendiri bagi setiap orang, tak terkecuali para remaja di Desa Bandar Baru. Dapatkan mereka menjawabnya?"

Oleh:
Yuliana. Mahasiswi Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Langsa

Satu hal yang menjadi sorotan dalam pergaulan remaja saat ini yaitu ketaatan dalam menjalankan ajaran agama yang tercermin dari prilaku dan tutur kata. bagi seorang muslim, menjalankan shalat lima waktu adalah kewajiban dan pondasi dari seluruh amalan yang dilakukan.

Fase remaja merupakan fase dimana seseorang senang mendapatkan perhatian dari lawan jenis maupun teman-temannya sendiri, senang mendapatkan respon positif dari lingkungannya walaupun yang dilakukan merupakan hal negatif. Inilah yang menjadi masalah bagi perkembangan remaja saat ia tak mampu mengontrol dirinya. Pemahaman beragama yang benar merupakan satu-satunya cara agar remaja dapat terhindar dari semua perbuatan di atas.

Kenyataan yang kita lihat saat ini, pergaulan remaja semakin tidak terkendali, perilaku remaja semakin tak dapat dinalari dan akibat yang ditimbulkan membuat malu dirinya serta keluarganya sendiri. 

Menjadi hal umum jika remaja hamil di luar nikah, kehilangan perawan ketika masih usia sekolah dan terjerembab dalam pergaulan yang salah dengan pemakaian narkoba, pesta miras dan perbuatan melanggar hukum agama. 

Kenyataan ini sungguh mengiris hati. Selain aspek psikologis, aspek pengasuhan, dan lainnya,  pemahaman agama yang minim juga salah satu penyebab kerusakan moral remaja saat ini.

Pengaruh-pengaruh negatif tersebut bersumber dari apa yang dilihat dan diterimanya dari lingkungan. Lingkungan dalam hal ini bukanlah berarti lingkungan sekitar tempat tinggalnya, melainkan lingkungan dimana ia banyak menghabiskan waktu, seperti didepan televisi dengan tontonan yang bukan untuknya, penggunaan gawai yang melebihi batas kewajaran bagi anak remaja hingga pergaulan yang tidak dikontrol oleh kedua orang tuanya.

Sebagai contoh, pada suatu diskusi dimana terjadi perbedaan pendapat dalam menentukan kegiatan apa yang akan dilaksanakan untuk memeriahkan Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Bandar Baru. 

Mereka tak lantas bersitegang satu sama lain untuk menguatkan pendapatnya, melainkan mendengarkan serta menyimak bersama pendapat teman lainnya. 

Ketika ada pendapat yang baik untuk dilaksanakan, maka mereka menerima dengan lapang dada dan menjalankan dengan sukarela. Mereka memahami bahwa perbedaan itu hal yang lumrah dan yang terpenting adalah bagaimana kita menerima hal tersebut tanpa perselisihan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN