Yulia Sujarwo
Yulia Sujarwo

An old soul, Part time "traveller", heritage lover, history is my passion

Selanjutnya

Tutup

Wisata Pilihan

Naga Batik Akan Memeriahkan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta ke-13 Yogyakarta

13 Februari 2018   18:30 Diperbarui: 13 Februari 2018   20:47 585 1 0
Naga Batik Akan Memeriahkan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta ke-13 Yogyakarta
Barongsai. Dok : Ary Gunawan

"Color is power which directly influence the soul. Just like red color in Chinese new year, it means happiness. So let's celebrate it with warm heart"  (self quote)

Tidak lama lagi, Yogyakarta akan menyambut Pekan Budaya Tionghoa yang ke 13 kalinya di Kampung Ketandan. Jalan malioborro sudah terlihat dengan lampu-lampu merah khas imlek yang digantung di jalan. Acara ini akan digelar selama 7 hari dari tanggal 24 Februari hingga 2 Maret 2018. Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta ke 13 kali ini mengusung tema " Harmoni Budaya Nusantara". Tak hanya kesenian budaya Tionghoa saja yang akan ditampilkan namun juga akan mengahadirkan kesenian dari nusantara.

Sedari awal, event ini dilaksanakan di Kampung Ketandan. Hal ini dikarenakan Kampung Ketandan mempunyai sejarah panjang. Menurut sejarah yang pernah ditulis, Kampung Ketandan tidak lepas dari cerita sosok Kapiten Tionghoa yang bernama Tan Jin Sing yang menetap di Yogyakarta sejak tahun 1803. Sosok Kapiten Tionghoa ini sangat dihormati dan berpengaruh kala itu. Beliau juga mendapatkan gelar Kanjeng Raden Tumenggung Secadiningrat dari Sri Sultan HB III. Selain cerita  sang kapiten, Kampung Ketandan ini juga merupakan tempat kelahiran Dr. Yap. Salah seorang dokter yang berjasa di bidang spesialis mata di Yogyakarta. Kampung Ketandan juga dipilih menjadi pusat acara ini, juga dikarenakan letaknya yang strategis berada di dekat jantung kota Yogyakarta.

Gapura Kampung Ketandan. Dok : pribadi
Gapura Kampung Ketandan. Dok : pribadi
Ngomomg-ngomong soal Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta, acara ini merupakan salah satu event yang menarik dan selalu dinanti oleh masyarakat Yogyakarta. Event tahun lalu juga sukses menarik perhatian tidak hanya masyarakat Yogyakarta sendiri namun juga dari turis lokal dan turis asing. Saya pun menyempatkan jalan-jalan ke Kampung Ketandan tahun lalu bersama teman-teman dan melihat segerombolan turis sedang makan di sana dengan lahap. Kami pun berkenalan dan setelah ngobrol ternyata mereka sangat suka sekali dengan jajanan di Kampung Ketadan. Mereka bilang, "feels like in lil China Town". Saya pun menjawab "Yes , it is guys....."

Lautan manusia juga  terlihat di sepanjang  jalan Malioborro tahun lalu, pada saat melihat karnaval. Barongsai raksasa yang gagah dan berwarna -- warni dengan lincah meliuk-meliuk seiringi dengan alunan musik. Kemudian meloncat-loncat memakau masyarakat Yogyakarta yang melihatnya kala itu. Seakan-akan mata tidak mau berkedip saat barongsai beraksi.

Light dragon beraksi. Dok :Ary Gunawan
Light dragon beraksi. Dok :Ary Gunawan
Pekan Budaya Tionghoa yang akan digelar tahun ini juga tidak kalah seru jika dibandingkan tahun kemarin. Seperti yang dipaparkan oleh Bapak Jimmy pada saat press conference bersama Kjog tempo hari di West Lake, rencananya event ini akan menampilkan Jogja Dragon Festival, Barongsai, Naga Batik Raksasa, Gendhawangan (semacam ondel- ondel),dan kesenian lainnya. Wah acara ini dijamin akan mengundang lautan manusia lagi karena ada yang baru yaitu Gendhawangan setinggi 3 meter.

Foto bersama Kjog dan panitia PBTY. Dok: Riana Dewi
Foto bersama Kjog dan panitia PBTY. Dok: Riana Dewi
Selain karnaval barongsai, panitia juga sudah menyiapkan berbagai lomba yang tak kalah seru yaitu antara lain Chinese Caligraphy, Chinese Painting, Story Telling, Tongue Twister dan Jianzi. Bagi yang belum tahu Jianzi, saya akan menjelaskan sedikit. Jianzi adalah salah satu olahraga tradisional dari Tiongkok dan ditemukan pada saat Dinasti Han. Kala itu, Jianzi hanya dimainkan oleh kalangan kerajaan dan militer. Cara memainkannya pun seperti main sepak takraw. Saya pun berkesempatan mencoba memainkannya namun selalu gagal hehe..

poster lomba Mandarin. Dok: pribadi
poster lomba Mandarin. Dok: pribadi
Selain lomba Mandarin, event ini juga akan menggelar pemilihan Koko dan Cici Jogja 2018. Ada yang berbeda kali ini, acara tersebut tidak hanya untuk masyarakat Tionghoa saja namun juga untuk yang non Tionghoa. Masih ingat dengan yang saya tulis di awal tulisan ini? Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta ke 13 ini mengusung tema " Harmoni Budaya Nusantara". Jadi, acara ini bukan hanya milik para keturunan Tionghoa saja melainkan untuk semua kalangan masyarakat Indonesia. So, mas mbak jika tertarik langsung daftar saja. Siapa tahu dapat jodoh juga di event ini hehe...

Eventtahun ini juga menampilkan hal baru loh gengs, yaitu Taman Lampion "Imlek Light Festival". Yuk, tunggu apa lagi. Mari siapkan kamera, DSLR, Go Pro kalian. selfie-selfie kekinian juga boleh. Mas mbak, yang hobi karaoke boleh juga untuk sumbang suara di Pekan Budaya Tionghoa ini. Tapi lagu yang dibawakan lagu Mandarin.

Kemudian , salah satu pertunjukkan favorit saya di Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta ini adalah Wayang Potehi. Walaupun saya tidak mengikuti pertunjukan dari awal, saya selalu betah berada di depan pertunjukkan. Terkadang saya menengok bapak-bapak yang memainkan Wayang Potehi di balik panggung. Menurut pribadi saya, wayang Potehi itu lucu dan imut-imut mereka terbuat dari boneka kain dengan kepala boneka yang terbuat dari kayu.

Wayang Potehi. Dok : Ary Gunawan
Wayang Potehi. Dok : Ary Gunawan
Pertunjukan Wayang Potehi. Dok: Kukuh Bhahari
Pertunjukan Wayang Potehi. Dok: Kukuh Bhahari
Namun dari semua acara tadi, yang menjadi favorit saya adalah kulinerya. Saya lebih banyak menghabiskan waktu saya untuk membeli dan memakan bakpao, mie, sate dll. Jangan khawatir bagi teman-teman yang muslim, Pekan Budaya Tiongha kali ini untuk makanan mengadung babi akan ada tulisannya. So, come and join us, see you....