Mohon tunggu...
Yuli Anita
Yuli Anita Mohon Tunggu... Guru - Guru

Jangan pernah berhenti untuk belajar

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Kereta Api, Menyimpan Banyak Cerita dan Kadang Juga Drama

29 September 2022   21:46 Diperbarui: 30 September 2022   06:13 915
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Stasiun Kiaracondong Bandung, Sumber gambar: Ayo Bandung

Kami duduk di depan stasiun kereta sambil melihat lalu lalangnya manusia. Semua sibuk. Ada yang datang, ada yang siap berangkat. 

Ada yang berwajah sedih karena akan melepas kepergian seseorang, atau bahkan dirinya sendiri yang akan pergi. Ada pula yang wajahnya tampak berseri karena telah kembali dari perjalanan jauh dan kini saatnya untuk kembali melepas rindu dengan orang-orang tercinta.

"Tiket tidak lupa? " tanya saya. Yang ditanya sejenak meraba saku jaketnya.
"Sampun, "
"KTP? "
Yang ditanya tersenyum.
"Sampun, Buk, "
Ya, tiket dan KTP selalu saya ingatkan ketika anak-anak akan naik kereta api karena di dalam kereta selalu ada pemeriksaan.
"Jaga kesehatan ya Le.., jangan lupa makan, sering wa Ibuk ya.. "
"Tidurnya jangan malam-malam.., " tambah saya lagi.
Anak saya tersenyum sambil mengangguk.
"Ibuk selalu menganggap aku masih kecil, " mungkin seperti itu yang ada dalam benaknya.

Dan beberapa menit kemudian lagu kedatangan kereta api terdengar. Melodinya begitu khas.

Kami segera berdiri. Sekali lagi kami berpelukan dan anak saya pun masuk ke dalam. Saling melambaikan tangan, tersenyum, memberi semangat, meski begitu badan saya balikkan selalu mata saya sedikit basah. 

Ya, kereta api Malabar  akan membawa anak saya berangkat ke Bandung.

Stasiun Kiaracondong Bandung, Sumber gambar: Ayo Bandung
Stasiun Kiaracondong Bandung, Sumber gambar: Ayo Bandung
Kereta api selalu menyimpan banyak cerita.Di masa kecil naik kereta api adalah sesuatu yang sangat istimewa bagi keluarga saya. 

Saya ingat ibuk selalu berjanji pada kami anak anaknya. "Nanti kalau Rioyo (lebaran) naik sepur ke Surabaya, kita ke kebun binatang., "

Aha, sebuah janji yang manis dan selalu kami nanti.

Suatu saat hal tersebut terlaksana. Kereta api saat itu jauh berbeda dengan sekarang. Yang saya ingat penumpangnya berjubel, ada beberapa yang berdiri dan penjual bebas keluar masuk. Yang dijual bermacam-macam mulai dari kacang, permen, kue-kue kecil, rokok bahkan obat anti mabuk.

Suasana begitu ramai, ditambah suara anak-anak kecil yang menangis karena kegerahan. Pengalaman pertama naik kereta api kurang menyenangkan bagi kami. Saya dan ibuk mabuk. Mungkin karena padatnya manusia dalam kereta api.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun