Mohon tunggu...
Yuli Anita
Yuli Anita Mohon Tunggu... Guru - Guru

Jangan pernah berhenti untuk belajar

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Artikel Utama

Pembelajaran Tatap Muka 100 Persen, Antara Harapan dan Kekhawatiran

14 Januari 2022   12:30 Diperbarui: 14 Januari 2022   17:11 1145
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Berdoa bersama sebelum belajar | dokumentasi pribadi

Ada yang terasa berbeda di jalan raya sejak hari Senin kemarin. Sejak kota kami melakukan uji coba Pembelajaran Tatap Muka (PTM) 100 persen untuk SD dan SMP, jalan raya menjadi ramai kembali di pagi hari.

Anak-anak berseragam yang dibonceng sepeda motor atau naik mikrolet mulai banyak berseliweran di jalan, ojek online mulai ramai beroperasi lagi. 

PTM 100 persen membuat suasana serasa hidup kembali. Harapan untuk kembali hidup normal seolah mulai tergambar di depan mata.

Sementara itu pelaksanaan PTM 100 persen di sekolah disiapkan dengan penuh kehati-hatian. Sekolah menyiapkan alat-alat prokes dibantu oleh paguyuban sekolah. 

Tisue dan hand sanitizer adalah barang wajib di setiap kelas. Masker cadangan disiapkan di UKS untuk siapa saja yang memerlukan. Barangkali tiba-tiba ada yang maskernya rusak atau talinya putus.

Peduli lindungi | dokumentasi pribadi
Peduli lindungi | dokumentasi pribadi
Begitu datang, siswa dan guru harus cuci tangan, melakukan cek suhu badan, penerapan aplikasi Peduli Lindungi pun dilakukan di sekolah. Semua dilaksanakan agar PTM berjalan lancar meski masih dalam bayang-bayang kekhawatiran atas penyebaran Omicron.

Hasil studi yang dilaksanakan menunjukkan bahwa pembelajaran daring yang dilaksanakan sejak awal pandemi banyak memberikan dampak negatif, di antaranya penurunan kemampuan belajar siswa, kesenjangan pendidikan antara masyarakat miskin dan kaya yang mencapai 10 persen, juga angka putus sekolah siswa SD yang meningkat 10 kali lipat. 

Dengan dilaksanakannya PTM diharapkan dunia pendidikan bisa dipulihkan kembali dan pembiasaan baik di sekolah bisa mulai dilaksanakan kembali, seperti pelaksanaan doa bersama sebelum masuk kelas, pembiasaan saling memberi senyum, salam dan sapa, gerakan literasi, juga kesadaran untuk menjaga kebersihan lingkungan. Meski pelaksanaannya masih dengan berbagai pembatasan, namun setidaknya geliatnya sudah mulai terasa.

Sebagai contohnya di sekolah saya, dulu pelaksanaan kegiatan doa selalu dilaksanakan bersama kelas 7, 8, dan 9, kini dilaksanakan secara bergiliran. 

Satu angkatan berdoa bersama sementara dua angkatan yang lain melaksanakan kegiatan literasi dengan membaca buku fiksi ataupun non fiksi di kelas dengan didampingi wali kelas.

Literasi | dokumentasi pribadi
Literasi | dokumentasi pribadi
Peran wali kelas sangat penting di sini, dengan ditunggui wali kelas, siswa melakukan kegiatan literasi dengan sungguh-sungguh dan yang terpenting adalah pelaksanaan prokes dalam kelas lebih terawasi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun