Mohon tunggu...
Yuli Anita
Yuli Anita Mohon Tunggu... Guru - Guru

Jangan pernah berhenti untuk belajar

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Tuhan Memberikan Apa yang Kita Butuhkan, Bukan yang Kita Inginkan

2 Juni 2021   10:17 Diperbarui: 2 Juni 2021   10:27 1453
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber gambar: CanStockPhoto.com

Pak Bondan memasukkan alat-alat tulis dalam dos-dos mie instant di hadapannya.  Ada bias kesedihan pada wajahnya.  Ya, tadi pagi pengurus koperasi sekolah memanggilnya.  Intinya dalam waktu dekat kios yang disewa harus segera dikosongkan karena kios akan dipakai sebagai ruang OSIS.  Pak Bondan sempat terkejut, ia tidak menduga secepat ini.  Meski sebenarnya hal itu  sudah pernah diberitahukan oleh pihak sekolah sebulan yang lalu. 

Pindah dari SMP Nusantara.  Ah,  betapa berat hatinya.  Sudah hampir sepuluh tahun ia membuka usaha di situ.  Melayani fotocopy,  print,  laminating sekaligus menjual ATK.  Tidak hanya dagangannya yang laris pertemanannya semakin berkembang.  Bawaan Pak Bondan memang lincah dan ramah. 

"Lho,  mau dibawa ke mana Pak? "tanyaku sambil membawa tumpukan berkas untuk dijilidkan.  Pak Bondan tersenyum sedih.  "Dikemasi Bu,  dalam beberapa hari ini saya harus pindah, " katanya tersendat.

"Pindah?  Lha kenapa? "tanyaku kaget.  Kalau tidak ada Pak Bondan yang melayani fotocopy dan ATK pasti akan repot.  Bayangkan saja,  untuk ulangan atau LKS kami sering membutuhkan fotocopy, dan itu bisa dilayani dengan cepat oleh Pak Bondan. 

"Ruangan ini akan diperbaiki buat ruang OSIS,Bu, " jawabnya kemudian.

"Waduh,  susah kalau tidak ada Pak Bondan,  " timpalku.  Betapa ruwetnya membayangkan sedikit-sedikit harus bersepeda keluar sekolah hanya untuk fotocopy atau menjilidkan.  Belum lagi anak-anak sering perlu membeli ATK,  entah karena bolpoin hilang,  atau buku tulis habis.

Pendek kata kehadiran Pak Bondan dan kiosnya benar-benar sangat diperlukan. Apalagi jalan di depan sekolah lumayan ramai,  sehingga agak riskan kalau anak-anak  harus keluar masuk sekolah. 

Itu adalah perjumpaan terakhirku di era sebelum pandemi dengan Pak Bondan.

Seminggu setelah itu kios yang terletak didekat parkiran sepeda motor sudah mulai dipugar.  Ada yang terasa hilang dalam hatiku.  Tiap parkir sepeda selalu ada yang menyapa lalu membantu meluruskan posisi sepedaku.   Ya,  Pak Bondan selalu ringan tangan memberikan bantuan pada siapa saja yang memerlukan.

Sebulan sesudah itu pandemi melanda dan berdampak tidak ada pembelajaran langsung.  Semua siswa belajar di rumah. Sementara renovasi kios terus berjalan, kabar tentang Pak Bondan tak pernah terdengar lagi.  Tentu saja,  kami sekarang juga jarang fotocopy. Tugas dan ulangan anak anak semua online.  Beli ATK?  Jarang juga.  Bolpoin pemakaiannya sudah tidak seboros dulu. 

***

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun