Travel Artikel Utama

Gunung Sindoro dan Sepotong Roti Pemberi Semangat

16 Mei 2018   21:32 Diperbarui: 17 Mei 2018   06:53 2065 3 1
Gunung Sindoro dan Sepotong Roti Pemberi Semangat
Dokumentasi pribadi

Sebuah pesan di group whatsapp menanyakan kembali keikut-sertaan saya ke Gunung Sindoro. Setelah sebelumnya tidak ikut perjalanan mendaki ke Gunung Sumbing, kali ini saya menyatakan untuk bergabung dengan team Pecel Sosis (Pendaki Cepat Lelah Sok Narsis) untuk pendakian ke Gunung Sindoro, Jawa Tengah. 

Tapi keraguan-raguan muncul karena lagi karena kondisi anak yang sakit amandelnya dan kemungkinan perlu di operasi. Itu sebabnya teman-teman di Pecel Sosis ingin memastikannya lagi, apakah saya jadi ikut atau tidak? Dan pada akhirnya saya nyatakan ikut. Itupun karena dokter memastikan kalau anak saya masih bisa diberikan obat sambil di observasi.

Kamis, 10 Mei 2018

Tepat di hari libur, Kamis tanggal 10 Mei 2018, jam 14:00 saya dan Alfons berangkat dari rumah menuju shelter bus yang akan membawa kami menuju Wonosobo. Toto belum datang saat itu sehingga kami memutuskan untuk minum kopi terlebih dahulu sambil menunggu Toto datang. 

Selang 20 menit, wajah Toto dengan jaket dan topi rimbanya muncul. Ikut dengan kami memesan secangkir kopi, lau kami lanjutkan dengan obrolan ringan sambil menunggu jam bus datang. Rencana keberangkatan jam 16.00 terpaksa berubah. Ini disebabkan karena bus yang sedianya akan membawa kami ke Wonosobo mengalami gangguan dan entah kapan bisa datang menjemput kami. Akhirnya kami putuskan untuk mengganti bus dengan jurusan yang sama. Kamipun akhirnya bisa berangkat sekitar jam 16.45

Jumat, 11 Mei 2018

Bus Sinar Jaya yang kami tumpangi akhirnya tiba di Terminal Mendolo, Wonosobo jam 4.45. Rupanya Roni (biasa kami panggil Koh Roni) yang berangkat terpisah dengan kami dari Serang, Banten, sudah tiba satu jam lebih dulu dari kami. 

Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi
Seperti biasa, secangkir kopi dan beberapa gorengan kami lahap sambil menunggu pagi. Tidak lupa kami jalankan kewajiban kami yang muslim dengan sholat subuh disalah satu warung yang ada di depan kami. Sayangnya dua sahabat kami Doni dan Eri tidak bisa ikut pendakian kali ini dengan alasannya masing-masing.

Terminal Mendolo ini tidak begitu besar. Namun sejuk karena memang berada di kawasan pegunungan. Terminal ini sendiri sudah berada di ketinggian 783 mdpl. Sambil menikmati suguhan pagi itu, mata kami dimanjakan oleh pemandagan alam yang luar biasa. Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro terlihat tinggi besar menjulang dan saling berhadap-hadapan. Seolah mengapit kami sambil meniupkan hembusan angin nan sejuk. 

Sejenak saya lupa kalau tanggal ini adalah tanggal kelahiran Istri saya tercinta. Begitu sadar, segera saja saya hubungi Istri dirumah untuk mengucapkan ulang tahun. Dari belakang suara-suara fals ikut menghiasi ucapan saya. Ya, teman-teman Pecel Sosis ternyata ikut-ikutan mengucapkan ulang tahun walau tidak secara langsung. Terima kasih teman-teman.

Setelah menyiapkan segala sesuatunya, termasuk makan siang, kami akhirnya berangkat menuju Gunung Sindoro dengan menggunakan mini bus.

Dengan membayar sepuluh ribu per-orang, kami diantar sampai pos gerbang atau basecamp Kledung tepat jam 7.30 di Pos ini pula kami menunggu teman-teman dari Salatiga yang nantinya akan membantu kami dalam pendakian. Ternyata teman-teman kami itu: Wahyu, Nawawi dan Ari sudah sampai duluan di Pos. Namun mereka di ruang dalam. Semantara kami di warung makan (hah, makan lagi?). Itu sebabnya gak ketemu.

Wahyu, Naw dan Ari kemudian membantu kami untuk segala persiapannya. Wahyu dan Naw mem-packing kembali bawaan kami yang berat-berat untuk disatukan dalam tas ransel mereka. Sementara Ari melakukan pendaftaran pendakian untuk kami bertujuh. Selesai. 

Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi

Jam 09:45, saatnya kami berangkat dan mulai mendaki. Kamipun memilih menggunakan ojek motor sampai Pos Satu. Eitss.. jangan diketawain ya.. Kok pendaki naik ojek? Nah ini yang akan saya tekankan. Naik ojek ini (begitupun nanti pulangnya) dari basecamp ke Pos Satu merupakan pilihan tepat lho. Beneran!! Jarak, waktu dan tenaga yang bisa dihemat jauh banget.

Jarak bisa sampai empat kilo. Waktu? Bisa satu jam lebih karena jalan terus mendaki tanpa ada bonus sedikitpun. Tenaga? Apa lagi... Jadi kesimpulannya jangan gengsi. Pilihlah aku jadi pacarmu.. eh maksudnya pilih ojek deh, jauh lebih ringan :-)

Tiba di Pos Satu kami tidak beristirahat (lha iya, udah naik motor masih mau istirahat juga? keterlaluan... :-) ). Kami lanjutkan pendakian menuju Pos Dua. Jalur yang kami tempuh masih berupa tanah keras namun mendaki. Kemiringan saya perkirakan sekitar tiga puluh derajat.

Walau tidak membawa beban berat sebagaimana Wahyu, Ari dan Naw, tetap aja kami kewalahan. Tracking pole yang kami bawa rupanya cukup membantu. Tapi tetap saja kami beberapa kali harus beristirahat. Harus kami akui, kami bukan lagi "tulang lunak" yang bisa naik turun Gunung dengan mudahnya. Tulang tua kami sudah tidak bisa dibohongi. Rasanya cuma Alfons yang gak kelihatan capek. Hebat juga tuh orang, hehehe...

Di tengah perjalanan kami menuju Pos Dua, kami sempat mendapat khabar kalau Gunung Merapi meletus. Signal telepon seluler saat itu masih dapat kami tangkap dengan baik sehingga kami tahu khabar itu. Sejenak kami palingkan wajah kami ke belakang. Tampak Gunung Sumbing berdiri gagah.

Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi
Sementara tampak kecil dibelakangnya kepulan asap dari Gunung Merapi membumbung ke atas. Serempak kami berdoa agar tidak ada pendaki disana yang mengalami masalah. Termasuk rekan kecil kami, Elsa, yang memang saat itu sedang berada di Merapi. Setelah tahu Elsa aman, kami lanjutkan pendakian. 

Jam 10.20 kami akhirnya tiba di Pos Dua. Berisitrihat sejenak. Makan coklat, foto-foto dengan latar belakang Gunung Sumbing, minum dan ngemil menemani istirahat kami. Tidak lama sih, karena kami mengejar waktu untuk sampai di tempat kami mendirikan tenda nanti. 

Lanjut lagi perjalanan kami menuju Pos Tiga. Jalur semakin tidak bersahabat bagi kami. Bebatuan besar dengan jarak pijakan yang semakin lebar, sukses membuat kami semakin lambat bergerak. Kemiringanpun semakin terjal. Mungkin empat puluh sampai 50 derajat.

Saya, Roni dan Toto berlomba-lomba dalam masalah kelambatan, hahaha.. Alfons? Gak usah dibahas ya.. Tuh orang kaya gak punya udel, gak ada capeknya, ampun deh... 

Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi
Dua jam pendakian. Akhirnya kami tiba di Pos Tiga jam 12.30. Rasanya seperti melihat telaga murni dengan susu dan madu didalamnya. Itu yang saya bayangkan saat melihat tanah datar di Pos Tiga dengan sebuah warung ditutupi terpal plastik diatasnya. Sementara di sekitarnya banyak tenda-tenda berdiri.

Sebagian merapikan bawaan dan tendanya. Entah untuk turun atau lanjut ke tempat istirahat berikutnya. Saya gak begitu peduli. Saya cuma ingin istirahat sambil minum. Akhirnya kami berlima (minus koh Roni dan Ari) masuk ke warung tersebut. Toto dan Alfons langsung melahap tempe mendoan.

Sementara Wahyu dan Naw masing-masing menyiapkan kopi dan makan siang. Nasi bungkus yang sudah kami siapkan sejak di Terminal Mendolo menjadi menu yang paling nikmat saat itu. Tidak lupa kami sisakan dua bungkus untuk Koh Roni dan Ari. 

Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi
Tidak berapa lama, rombongan dari Bogor yang sempat bertemu kami di Pos Dua muncul. Mereka itu bertiga dengan satu perempuan. Yang saya ingat hanya yang wanita aja. Corry namanya. Ya iyalah.. ngapain juga inget nama yang pria, gak penting hahaha... Mereka ikut berteduh dan beristirahat di warung Bu Kuat.

Selang lima belas menit, sosok gempal dan tangguh layaknya Obelix itu akhirnya muncul juga. Koh Roni dan Ari tiba. Tanpa disuruh, langsung masuk ke warung Bu Kuat dan merebahkan badannya yang aduhai itu. 

Sama seperti kami, Koh Roni pun akhirnya menikmati makan siang di warung Bu Kuat itu. Tapi kali ini mereka berbagi dengan Corry juga. Itulah nikmatnya jadi pendaki. Tidak pernah kami menemukan musuh. Yang ada menjadi teman dan persaudaraan (Jadi inget Tita, Elsa dan Silvi di Gunung Lawu atau baca juga di sini)

Cukup lama kami istirahat di Pos Tiga. Hampir dua jam. Tepatnya baru merangkak naik lagi menuju Sunrise Camp jam 14.10. Sunrise Camp adalah tempat yang memang ditujukan untuk mendirikan tenda bagi semua pendaki Gunung Sindoro. Lokasi diketinggian 2423 mdpl itu cukup luas, terbuka, dengan udara yang sejuk dan pemandangan yang indah. 

Hampir semua tenda menghadap ke arah yang sama: Timur. Dari sana kita bisa melihat besar dan gagahnya Gunung Sumbing, serta kecil dan cantiknya Gunung Merbabu, Lawu, Merapi dan Ungaran. Belum lagi pesona dan samudra awan yang membalut semua Gunung-gunung itu. Masya Allah... semoga foto-foto dokumentasi di cerita ini bisa menggambarkan itu semua ya...

Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi

Jam 14.30 kami berlima (saya, Toto, Alfons, Koh Roni dan Ari) tiba di Sunrise Camp. Dua tenda kami sudah berdiri karena Naw dan Wahyu memang lebih dulu berangkat dari Pos Tiga. Cekatan sekali mereka. Tenda rapih serta semua alat masak berikut bekal makanan dan minuman sudah siap untuk diolah. 

Kami lebih memilih menikmati kopi dan susu jahe daripada makan. Suasana sejuk segera menghilangkan rasa penat dan lelah kami semua. Suhu udara saat itu tercatat 18 derajat celcius dan terus turun ketika malam sampai 9 derajat celcius!! Waktu malam aja saya gak kuat nahan dingin. Sampai Koh Roni mengira saya kesambet karena begitu menggigilnya. Lha iya menggigil, lha wong saya Cuma pakai base layer dibalut baju kaos. Sementara yang lain sudah berjaket ria. Duh.. sok-sok-an sih :-).

Tidak bisa kami lewati malam itu begitu saja. Selepas makan malam dan sholat, kami semua berkumpul disekitar tenda untuk saling ngobrol dan bercanda. Kentang goreng dan beragam minuman hangat jadi teman kami juga malam itu. Saya lebih banyak menikmati pemandangan malam. 

Walau gelap, Gunung Sumbing masih dapat kami lihat dengan jelas karena dibantu cahaya bulan sabit dan jutaan sinar bintang. Dari kejauhan saya melihat sebuah garis kecil yang tampak terang dan bergerak. Ternyata itu rombongan para pendaki Gunung Sumbing yang sepertinya hendak naik ke tempat mereka berkemah.

Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi

Saya membayangkan film Lord of The Ring yang salah satu adegannya menggambarkan hal serupa: ribuan obor para Orc atau Uruk-Hai yang melintasi hutan Fangorm untuk mengejar para hobbit yang sudah mendaki Gunung Doom di Mordor untuk mengembalikan cincin yang punya pengaruh jahat.

Pemandangan lainnya yang tak kalah hebat adalah ribuan lampu pijar dari setiap bangunan yang berada di kaki Gunung Sindoro. Sekilas saya melihatnya persis seperti sebuah akar Gunung yang terang yang berasal dari lampu-lampu yang hendak merangkak naik Gunung Sindoro. Sayangnya saya tidak bisa mengabadikan potret ini karena keterbatasan kamera yang saya miliki (maklum cuma pakai HP :-) ). Silahkan datang sendiri ke Sunrise Camp jika ingin melihat sendiri apa yang saya ceritakan tadi, hehehe..

Akhirnya kami putuskan untuk tidur cepat malam itu karena kami tahu kalau esok hari harus bangun jam 2 atau 3 pagi untuk mengejar sunrise di Puncak Gunung Sindoro. 

Alhamdulillah, ribuan bintang dan milky way menghiasi langit malam itu. Masya Allah... lagi-lagi kami mengagumi keindahan ciptaan Allah itu. Dan itu artinya tidak ada hujan yang turun yang mungkin saja bisa menggangu tidur kami. Termasuk irama dengkur Toto dan Alfons yang saling bersahutan sepanjang malam. Terasa merdu mengalahkan suara duet Raisa dan Isyana :-)

Terima kasih ya Allah untuk hari itu.

Sabtu, 12 Mei 2018

Toto bangun paling dulu, dan langsung membangunkan kami semua, termasuk tenda tetangga yang dihuni Wahyu, Naw dan Ari. Tanpa perlu banyak diingatkan lagi, kami semua bergegas untuk menyiapkan keperluan pendakian summit. Jam pagi itu menunjukkan 03.20 ketika kami mulai berjalan perlahan ditengah kegelapan. 

Hanya Ari yang tinggal di tenda karena memang disiagakan untuk kebutuhan kami turun nanti. Dengan bermodal senter dikepala masing-masing, kami telusuri jalan berliku dan menanjak. Sekali lagi tidak ada bonus sama sekali. Batu terjal, akar pohon, kerikil kecil yang licin jadi pijakan kami. Dan tidak seperti sebelum-sebelumnya. Bagi saya pribadi, mungkin ini track yang paling ektrim yang saya lalui. Kesulitannya diatas bayangan saya. 

Saya pikir, Gunung Lawu sudah berat (kalau baca cerita saya tentang pendakian Gunung Lawu). Ternyata salah. Ini jauh lebih berat. Saya betul-betul kepayahan untuk menjejakkan setiap langkah kaki.

Hampir setiap tiga menit atau beberapa langkah, saya pasti berhenti untuk mengumpulkan tenaga dan nafas. Ini yang membuat saya tertinggal dibandingkan Toto, Alfons dan Wahyu. Koh Roni? Jangan diceritain deh, tahu sendiri kan dia, hahaha... Untungnya ada Naw yang setia menemani teman tangguh saya itu. Persis Rexona yang setia setiap saat.

Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi
Upaya lelah saya menghasilkan juga. Walau belum sampai puncak, Pos Empat akhirnya berhasil saya pijak tepat jam 05.15 pagi. Pos ini merupakan pos terakhir sebelum menuju puncak Sindoro. Pos ini berupa tanah datar yang kalau saya ukur luasnya sekitar 15 x 7 meter dengan sebuah tumpukan batu besar di depannya.

Batu inilah yang menjadi tempat pengambilan foto-foto keren dengan latar belakang pegunungan di Jawa Tengah. Sumbing, Merbabu, Merapi, Lawu, Ungaran adalah gunung-gunung yang nantinya akan menghiasi latar belakang foto-foto di Pos Empat ini. Saya, Toto, Alfons dan Wahyu-pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Beragam sudut dan gaya pengambilan foto kami lakukan. Setelah puas baru kami mulai mendaki lagi untuk segera mencapai puncak. 

Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi
Masih dengan tenaga yang masih tersisa, saya terus mencoba berjalan meniti beragam pijakan yang ada. Kadang diselingi dengan merangkak dan memegang batu-batu yang ada disekitarnya. Jalan menuju puncak didominasi oleh kombinasi bebatuan besar dan kecil. Kadang menimbulkan debu. Dan ada pula batu-batu yang jatuh menggelinding dari atas.

Sama seperti Gunung Semeru, namun ini leih kasar bebatuannya. Dari kejauhan saya lihat Koh Roni sudah sampai di Pos Empat dan sedang asyik bergaya untuk foto-foto. Saya senyum-senyum sendiri melihatnya. Dan ketika menengok keatas, saya lihat Alfons yang gak punya udel dan capek itu terus aja jalan dengan santainya. Duh tuh orang, kakinya dibuat dari apa sih? 

Rasanya inilah puncak dari segala kelelahan saya. Bebatuan terjal, licin dan kemiringan hampir 60 derajat rupanya membuat perlawanan saya berakhir.

Pada sebuah batu saya bersandar. Sebetulnya saya sudah meilhat Sang Saka Merah Putih berkibar dengan gagahnya. Dibelakangnya ada sekumpulan asap dari kawah belerang yang terbang seolah memanggil. Itulah tanda dari puncak Gunung Sindoro. Paling sekitar 30 meter lagi dari tempat saya bersandar. Tapi apa daya, seluruh kekuatan saya sudah hilang. Wahyu yang menyadari saya duduk dengan nafas yang terengah-engah, mencoba memberikan semangat.

"Ayo Om, dikit lagi. Pelan-pelan aja, nanti juga sampai" katanya memberikan semangat sambil menyodorkan minuman. 

"Duluan deh Yu, temani Om Alfons dan bantuin dia foto-foto dipuncak. Saya disini aja, udah gak kuat" jawab saya pelan. Dan memang betul, ketika itu saya berfikir bahwa cukup sampai disini aja, gak perlu ke puncak. Toh sama aja, melihat bendera di Pucak sama dengan berada disana bathin saya.

Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi
Ketika itu pula tiba-tiba Toto datang menghampiri untuk kemudian duduk persis disamping saya. Sama halnya dengan Wahyu, saya bilang ke Toto kalau saya cukup sampai disini aja. Sudah gak kuat naik keatas. Toto hanya senyum dan kemudian bilang kalau jalan pelan-pelan aja. Nanti juga sampai. Yang akan selalu saya ingat, Toto kemudian mengeluarkan dua potong roti dengan isi coklat didalamnya. Satu diberikan ke saya. Satu lagi dia makan. Walau roti itu sempat jatuh ke tanah, tetap saja Toto nikmati roti itu. Begitu juga dengan saya.

"Biar tambah semangat bro.." kata Toto sambil mengunyah rotinya.

Dan betul saja, roti itu seperti memberikan tenaga ekstra buat saya. Ini yang saya makan sebetulnya roti atau powerbank sih? Hahahaha... Setelah habis roti itu saya makan, dengan mengucap bismillah, saya kumpulkan tenaga, berdiri dan memulai lagi langkah gontai menuju puncak.

Perlahan tapi pasti, sambil sesekali merayap, tepat di jam 07.00 pagi, akhirnya puncak Sindoro di ketinggian 3153 mdpl berhasil saya pijak. Saya mengucapkan syukur kepada Allah sambil tidak lupa saya cium bendera Negara dan Bangsaku itu. Alhamdulillah... Terima kasih ya Allah.

Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi
Sesi selanjutnya tidak lain dan tidak bukan adalah hanya foto dan foto. Termasuk mengabadikan ucapan selamat ulang tahun untuk istriku di puncak Gunung Sindoro untuk nanti saya berikan lewat whatsapp ketika ada singnal. Begitupun juga dengan Koh Roni. Si Obelix ini pada akhirnya juga sampai di puncak walau paling akhir dari rombongan Pecel Sosis...

Yeayy... Pecel Sosis berhasil sampai puncak Sindoro!

Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi
Puas berfoto ria, kami semua memutuskan turun dari puncak. Saat itu waktu menunjukkan jam 08.45. Nah kalau urusan turun, Toto sangat berbeda dengan naik. Dia dan Alfons seolah saling berlomba duluan-duluan untuk turun. Sedangkan saya dan Koh Roni? Sami mawon, lelet bin lemot. 

Ditambah lagi masalah klasik saya yaitu lutut alias dengkul yang linu atau ngilu saat turun. Beda dengan naik, lutut saya tidak masalah. Hanya otot kaki saja yang pegal-pegal. Sedangkan turun? Masalahnya jadi double, otot kaki dan juga persendian di lutut. Alhasil saya beberapa kali jatuh karena tidak kuat menahan ngilu tersebut. Salah satunya saya sempat jatuh membentur batu. Lumayan sakit. 

Tapi gak apa, asal cepat sampai. Beragam gaya jalan turun saya lakoni lho. Mulai dari jalan normal, lalu berpegangan pada batu-batu dengan satu tangan menyanggah badan, satu tangannya lagi memegang tracking pole, turun duduk alias pantat dijadikan penyanggah, turun dengan kedua tangan menyanggah batu (tracking pole sudah saya lempar duluan kebawah), jalan miring kanan, jalan miring kiri, jalan zig-zag, sampai jalan mundur. Semua saya lakuin untuk mengurangi beban dan rasa sakit di lutut. Alhamdulillah akhirnya sampai juga di Sunrise Camp

Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi
Hanya untuk berganti baju dan sedikit makan saja kami disana. Selanjutnya tepat jam 12.00 siang bolong, kami merangkak turun. Tidak berkurang sedikitpun kesulitan kami karena memang medan yang kami tempuh tidak berubah.

Curam, terjal, bahkan terkadang licin jadi teman kami. Singgah sebentar di warung Bu Kuat di Pos Tiga hanya untuk menikmati tempe mendoan dan memesan teh bekal minum di jalan, seterusnya kami telusuri lagi jalan turun menuju basecamp. Selisih jarak antara Toto dan Alfons versus saya dan Roni cukup jauh. 

Biarlah, saya gak akan memaksa untuk cepat sampai karena memang segala penderitaan sedang saya emban saat itu, hihihihi... Lho Wahyu, Naw dan Ari kemana? Oh mereka dibelakang karena memang ketika turun kami berempat duluan. Mereka bertiga mengurusi tenda dan perlengkapan lainnya. Tapi jangan ditanya dan diraguin ya. Dengan barang bawaan yang banyak dan berat, tetap saja langkah mereka pasti, kuat dan cepat. 

Mereka akhirnya berhasil menyusul kami berempat dan sampai di Pos Satu lebih dulu dari kami. Duh tahu gitu, mending tadi minta gendong ya sama mereka, hahaha...

Singkatnya, kami semua tiba di Pos Satu untuk kemudian sama-sama menaiki ojek motor yang sudah tersedia disana. Sekali lagi, naik ojek motor ini adalah keputusan yang tepat! Bayangin aja kalau kami harus jalan lagi empat kilo untuk mencapai basecamp. No way!!!! Dan akhirnya semua tiba dengan selamat di basecamp Kledung jam 13.45.

Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi

Istirahat dan merapikan kembali bawaan kami adalah kegiatan yang selanjutnya kami lakukan. TIdak lupa untuk membersihkan diri ala kadarnya agar tidak terlalu dekil mengingat kami harus mengejar Bus yang ada terminal Mendolo, khususnya yang akan mengantar Koh Roni ke Serang, Soalnya bus yang kesana jarang. Beda dengan yang ke Jakarta, Bogor, Bekasi, Depok dan wilayah jabotabek lainnya yang memang busnya sangat banyak. 

Akhirnya, perjalanan kami ke Gunung Sindoro tuntas juga. Jam 4 saya dan Alfons sudah nik bus menuju Depok / Bogor. Sementara Toto memutuskan untuk menenami Koh Roni mengambil bus jurusan Kampung Rambutan.

Terima kasih teman-teman Pecel Sosis (minus Doni dan Eri) yang sudah memberikan satu lagi pengalaman berharga buat saya.

Terima kasih untuk semangat dan kebersamaannya, khususnya Toto dengan roti pemberi semangat tadi.

Terima kasih dan terima kasih

Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi

Depok, 16 Mei 2018

-Yudi R. Irawan-