Mohon tunggu...
Yudi Kurniadi
Yudi Kurniadi Mohon Tunggu... Tukang Las Setengah Hati

Menulis apa saja yang dilihat, didengar, dibaca dan disukai, dari sudut pandang amatir dan medioker. Here We Go!

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Merindukan Kemenangan dan Ujian Kesetiaan Suporter PSGC Ciamis

4 April 2020   14:56 Diperbarui: 4 April 2020   15:01 45 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Merindukan Kemenangan dan Ujian Kesetiaan Suporter PSGC Ciamis
Suporter PSGC Ciamis, Balad Galuh. (Dokpri. Balad Galuh)

Pemain boleh datang dan pergi, pelatih dan manajemen juga silih berganti, tapi para suporter akan tetap setia menanti. Kami akan tetap menyisihkan tabungan, mengenakan jersey ungu, melintasi ratusan kilometer, dan bernyanyi tiada henti di dalam stadion.

Ya, barangkali sepak bola memang diawali dari kesetiaan suporter, bukan dari gelimang kejayaan sebuah klub. Sepak bola tidak dimulai dari berapa juta rupiah kontrak dan gaji para pemain, tapi dimulai dari rasa cinta dan kesetiaan para penggemar. Jutaan rupiah kontrak dan gaji itu tak ada apa-apanya bila dibandingkan kesetiaan dan kecintaan teman-teman saya di Balad Galuh kepada PSGC Ciamis.

Kita semua, para Balad Galuh, menghayati betul perjalanan PSGC Ciamis di kompetisi Liga Indonesia. Salah satunya yang terasa begitu berat pada dua musim terakhir ini (2018 dan 2019). Pada 2018 lalu saat berkompetisi di Liga 3, PSGC Ciamis harus susah payah untuk bisa promosi ke Liga 2.

Gimana ga susah payah, dari komposisi pemain yang alakadarnya karena pada musim tersebut berlaku regulasi yang mengharuskan setiap tim peserta memiliki 3 pemain senior dan selebihnya skuat dengan kuota umur 23 kebawah. Apalagi banyak pemain yang belum berpengalaman di sebuah kompetisi.

Meski sempat terseok-seok di babak pendahuluan, namun klub yang memiliki julukan Laskar Galuh itu tampil moncer di babak nasional dengan merekrut pemain-pemain yang benar-benar bisa diandalkan dan meyakinkan.

Saya lebih suka menyebut "gerbong Tangerang" dimana para pemain yang direkrut adalah separuh dari kekuatan tim Persikota Tangerang yang gagal lolos ke putaran nasional seperti Khairunnas, Ardi Ramdani, Akbar Eka Putra, Dean, Ari Eka dan Ivan Juliandri.

Para pemain ini menjadi kunci PSGC Ciamis di babak nasional, menambal kekuatan pemain yang mayoritas di isi oleh para pemain lokal Ciamis. Kolaborasi ini membuahkan hasil yang kita harapan, kemenangan demi kemenangan di raih dengan poles taktikal dari coach Heri Rafni Kotari. Kita bersyukur pada akhir musim 2018 lalu, PSGC bisa promosi ke Liga 2 2019.

PSGC Ciamis Musim 2019: Emosional!

Namun, perjuangan pada 2018 tersebut terasa sia-sia. Dimana saat tampil di Liga 2 2019 mereka malah seperti kehabisan bensin dan kesulitan bersaing dimana sebuah kemenangan begitu menjauh dan tak pernah beranjak dari posisi tiga klasemen terbawah, yang pada akhirnya pada akhir kompetisi harus kembali terdegradasi ke Liga 3.

PSGC Ciamis mengakhiri kompetisi Liga 2 musim 2019 tersebut dengan berada di posisi dua terbawah (posisi ke-11) dengan meraih 19 poin dari 6 kali menang, sekali imbang dan 15 kekalahan. Sungguh hasil yang jauh dari harapan.

Di tengah badai kritik, PSGC Ciamis mencoba membangun citra positif dengan mengatakan sederet kegagalan pada musim 2019 menjadi berkah dan modal bangkit pada tahun mendatang.

"Target kami sudah jelas, yakni melaju kembali ke Liga 2 tahun 2021. Sekali lagi, kami ingin memiliki tim kuat. Sepanjang perjalanan ke sana, kami akan terus membenahi apa saja yang kurang di tim ini," kata Heri Rafni Kotari, Direktur Teknik PSGC Ciamis, seperti dikutip dari laman Galuh.id.

Kegagalan PSGC Ciamis bertahan di Liga 2 menjadi pembelajaran untuk tak main-main dalam membentuk sebuah tim. Seperti diketahui PSGC hanya mempunyai persiapan satu bulan dalam membentuk tim pada awal musim 2019 lalu. Entah kenapa bisa begitu, padahal teman-teman di Balad Galuh sudah teriak-teriak di medsos agar tim dipersiapkan lebih awal.

Tentu, tidak ada kesebelasan di seluruh dunia yang ingin terdegradasi ke kompetisi strata bawah. Situasi ini tentu, menjadi sebuah ironi, terutama bagi PSGC Ciamis.

Bak roda yang berputar dari posisi yang semula paling bawah, menuju poros yang paling atas. Kini poros itu sedikit demi sedikit kembali menuju ke bawah (lagi). Itulah yang dialami oleh PSGC Ciamis. Tentunya ini menjadi sebuah cerita membanggakan sekaligus mengharukan dari sebuah kesebelasan kebanggaan warga Tatar Galuh tersebut.

Kami sadar, perjuangan bukan seperti sebentang garis lurus di peta. Tak ada yang mudah, tapi kami tak pernah dan tak akan pernah jera. Kami hanya ingin pelatih dan para pemain paham satu hal: betapa kami merindukan kemenangan itu.

Tapi toh selama perjalanan satu musim kemarin kita tetap setia menanti. Kita tetap setia di pinggir lapangan, memasang spanduk raksasa, mengibarkan bendera, bertempik-sorak, meniup terompet, dan bernyanyi sampai serak.

Perjalanan away yang berkesan

Jika ada perjalanan tandang yang tak bisa dilupakan para pejuang tandang Suporter PSGC, niscaya perjalanan menyeberangi Selat Sunda 25-26 Agustus 2018 lalu adalah perjalanan yang tidak akan pernah dilupakan oleh siapapun mereka yang ikut ke Lampung. Termasuk juga kekalahannya yang menyakitkan, iya PSGC Ciamis kalah 4-0 dari Lampung Sakti pada pertandingan putaran kedua Nasional Liga 3 di Stadion Sumpah Pemuda, Lampung (26/8/2018).

Saya dan para pejuang tandang dari Balad Galuh maupun suporter lainnya tidak pernah hitung-hitungan materi ketika mengawal Kebanggaan. Tidak ada bagi kami omongan, "jauh-jauh nonton ka Lampung, eh eleh. Ka Lampung teh make duit," atau komentar sejenisnya. Please kami tidak se-karbitan itu. Walaupun iya kami terlalu bangga bisa berteriak di tribun kandang tim lain demi mendukung PSGC kebanggaan kami. Maka bertebaranlah poto-poto kami di berbagai platform media sosial.

Untuk merencanakan perjalanan away ke Lampung ini sebenarnya tidaklah mudah, apalagi dengan biaya yang tak murah belum lagi buat makan, ngopi dan rokok selama diperjalanan. Namun kami bersyukur, dari pihak PSGC Ciamis melalui Teh Ani Idoel Clothing yang telah memfasilitasi keberangkatan kami walaupun hanya 1 bus saja.

Dalam perjalanan kami menuju Lampung, saya ikut berduka cita atas tragedi Goyang Nasi Padang yang membuat dompet beberapa Balad 'kebakaran jenggot'. Ternyata makan di Sumatera itu mahal! Dan saya pun termasuk korbannya, apalagi ditambah harus membayar 3 porsi karena kedua teman saya tak bawa uang lebih, kami langsung rindu Ciamis dimana makan 6.000 rupiah saja sudah kenyang.

Itu sekilas cerita tentang kesetiaan Balad Galuh, meski kesetiaan tersebut tahun harus harus dihadapkan pada kekecewaan yang bertubi-tubi. Saya kecewa, tapi saya sadar: justu dalam kondisi terjal seperti saat ini, cinta dan kesetiaan mendapat ujian yang paling sulit.

Tujuannya hanya satu: melihat PSGC bermain cantik dan mendekap kemenangan. ***

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x