Mohon tunggu...
Yudi Kita
Yudi Kita Mohon Tunggu... My life is a journey

Menulis adalah jalan cerita hidup untuk mengabadikan pikiran, pengalaman dan gagasan

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Di Sumatra, Pemadaman Listrik Sudah Tradisi

5 Agustus 2019   18:56 Diperbarui: 6 Agustus 2019   02:28 0 6 4 Mohon Tunggu...
Di Sumatra, Pemadaman Listrik Sudah Tradisi
dokpri

Bagi pulau Jawa, mati listrik mungkin sudah menjadi hal paling dikhawatirkan, sehingga pemadaman listrik belakangan ini menyebabkan kehebohan nasional, bahkan disebut sampai trending topics dunia, bagi orang Sumatera itu adalah perilaku norak, berlebih-lebihan dan kekota-kotaan. 

Bagi orang Sumatera, mati listrik sudah jadi tradisi, Aceh misalnya, yang pernah mendapatkan pemadaman listrik berbulan-bulan saat daerah itu masih didera konflik bersenjata antara Gerakan Aceh Merdeka dengan Tentara Republik Indonesia, mati listrik bagi orang Aceh memang sudah menjadi tradisi hingga kini, meski konflik antara GAM dan TNI sudah berakhir 14 tahun silam, namun persoalan listrik masih menjadi persoalan lama yang tak terselesaikan hingga saat ini.

Pasokan listrik untuk Aceh didominasi pasokan dari Sumatera Utara, sehingga energi listrik sangat tergantung dengan kondisi Sumatera Utara untuk Aceh, bahkan bagi orang Aceh sudah menganggap mati listrik adalah hal biasa, meski dikeluhkan, meski di kritik dari tahun ke tahun, namun pemerintah baik Bupati, Walikota maupun Gubernur tak mampu berbuat banyak untuk keluar dari zona mati listrik tersebut.

Apalagi jelang bulan puasa, suatu tradisi yang sudah terjadi dari tahun ke tahun, dari temurun ke temurun, tiap jelang bulan puasa, PLN selalu melakukan pemadaman bergilir, dengan dalih perbaikan dan perawatan, hal itu harus diterima dengan lapang dada oleh masyarakat Aceh. 

Namun dari sejak Indonesia merdeka, hingga sekarang, Aceh tidak pernah mendapatkan kompensasi apa-apa atas kerugian materil maupun immateriil terhadap kematian listrik yang dilakukan oleh PLN, padahal akibat pemadaman listrik yang tidak menentu tersebut, sudah banyak masyarakat yang menjadi korban, mulai dari kerugian kecil, seperti kerusakan barang-barang elektronik, hingga kerugian besar terhadap industri-industri yang bergantung pada pasokan energi listrik dengan bersumber dari PLN.

Begitu juga daerah industri seperti Batam, yang belakangan beberapa bulan ini sangat sering melakukan pemadaman listrik, padahal pulau seperti Batam ini sangat padat aktivitas industri yang masih banyak menggantungkan kebutuhan energi listrik yang berasal dari PLN. 

Keluhan-keluhan terhadap pemadaman listrik ini bukan tidak dilakukan, sudah sangat sering dilakukan kritikan maupun pertanyaan-pertanyaan hingga keluhan, namun di usia Indonesia yang sudah mau mencapai 74 tahun ini, kita masih berkutat pada persoalan kebutuhan dasar, dan dengan dalih dari PLN yang sama yaitu "Perbaikan, Perbaikan, Perbaikan".

Batam, sebagai kawasan industri, yang juga berbatasan langsung dengan Singapura, dimana sebuah negara yang berperadaban maju tentu sangat kontras dengan Batam. Batam sebagai kawasan yang dipersiapkan untuk menyaingi Singapura ini, persoalan listrik saja masih menjadi pekerjaan yang harus diurus, belum lagi persoalan air bersih yang masih sering macet-macet.

Bagi pulau Sumatera, seperti Aceh, Batam dan lainnya mati listrik mungkin sudah menjadi tradisi yang biasa, dengan dalih pihak PLN, sedang dalam perbaikan, namun padamnya listrik di Pulau Jawa, seperti bencana tsunami, yang dimana kejadiannya menjadi bahan perbincangan nasional bahkan sampai mendunia.

Tapi begitulah kontrasnya kehidupan Sumatra dan Pulau Jawa, lalu bagaimana dengan energi listrik di Pulau Kalimantan, Sulawesi dan Papua, bernasib seperti Jawa atau Sumatra?

Kita hanya punya satu jimat untuk menyelesaikan semua persoalan itu, yaitu "SABAR"