Mohon tunggu...
Achmad Yudi
Achmad Yudi Mohon Tunggu... Mahasiswa aktif menulis naskah digital

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Amikom Yogyakarta

Selanjutnya

Tutup

Keamanan

Bertarung di Mahkamah Konstitusi

11 Juli 2019   16:50 Diperbarui: 11 Juli 2019   16:56 0 0 0 Mohon Tunggu...

Dalam fenomena demo pada tanggal 22 mei yang diwarnai dengan kericuhan, banyak mengundang kontroversi antara pihak berwajib/polisi,tni, serta brimob yang bertugas dan para aksi demo.

citizen journalism banyak yang mendiskusikan fenomena ini atau bercuit didalam platform media, terutama dimedia instagram dan twitter. Mereka para warga jurnalis mengemukakan pendapatnya disana, mulai dari solusi, keluhan, serta cuitan negatif.

Para massa kembali berulah ke jalanan  Slipi, Jakarta Barat, yang waktu itu sempat dibubarkan damai oleh kepolisian yang bertugas. Aksi massa dijlanan dengan bakar ban. Para massa berdemo dengan menyuarakan takbir, ada terdapat seorang pemimpin yang memprovokasi agar demo terjadi terus berlangsung, jam sudah menunjukan pukul 11:00 dan terpaksa polisi yang bertugas disana berjaga-jaga hingga massa benar benar terkendali dan kembali dirumah masing-masing.

Sebelumnya dari pihak kepolisian sudah bermusyawarah dengan warga untuk mengusir atau menahan massa agar tidak melakukan tindakan yang merugikan, bagi dirinya sendiri maupun diwilayah sekitar. Terutama warga yang berada disana sangat terganggu oleh kegiatan demo yang diwarnai dengan ricuh, dampak dari itu semua telah dirasakan warga sekitar. Mulai dari penjarahan dan juga kerugian merusak wilayah sekitar.

Massa pantang menyerah, mereka ingin pihak dari mahkama konstitusi mendengarkan asumsi yang telah dirasakan oleh pihak 02, para tim sukses 02 merasa dizalimi oleh KPU, banyak terdapat kecurangan dilapangan saat diselenggarakan pemilihan umum serentak. dari mulai pencoblosan sendiri dari oknum 01 yang videonya sudah tersebar. 

Kita sebagai para kaum akademis wajib berfikir dan menyaring terlebih dahulu terkait informasi-informasi yang bermunculan dari fenomena pilpres 2019 ini yang sangat panas, banyak video-video hoax tersebar serta asumsi-asumsi yang dapat mencuci otak kita.

Pendemo sangat brutal dengan melempari polisi dengan batu, serta melempari kayu balok, dan juga membakar ban ditengah jalan. Pada aksi demo ini berdampak pada jalan Brigjen Katamso, Kota Bambu, dan Slipi. Terdapat bebatuan berserakan sepanjang jalan, hingga ada 2 korban pengendara motor menjadi salah sasaran pelemperan.

Yang sempat viral terjadi juga dari netizen mengunggah video kepolisian yang sedang menganiyaya para aksi demo, yang dinilai tidak proporsional dan berakibat melanggar HAM. Dari unggahan tersebut banyak warga net yang mengapresiasi tindakan polisi, dari pihak kepolisian sudah menyediakan aksi demo hingga 3jam berlangsung, setelah 3 jam tetapi massa tidak kunjung bubar kerumah masing-masing, terpaksa pihak kepolisian mengingatkan bahwa massa disuruh bubar untuk pulang dirumah masing-masing, karena juga itukan jalan umum jadi untuk keperluan bersama juga.

Namun para massa aksi malah anarkis, menolak dari perintah kepolisian dan melempari batu serta bakar ban, dari pihak kepolisian sudah berjaga-jaga akan adanya kerusuhan sehingga sudah menyediakan gas air mata dan water cannon untuk membubarkan para massa yang anarkis, menurut saya wajar saja disini para massa sudah memancing emosi para pihak kepolisian, mereka berdamai tidak didengarkan, sehingga dari salah satu polisi menangkap salah satu provokasi untuk diamankan, hanya menangkap dan tidak dianiaya.