Mohon tunggu...
Yudhi Hertanto
Yudhi Hertanto Mohon Tunggu... Penulis - Simple, Cool and Calm just an Ordinary Man

Peminat Komunikasi, Politik dan Manajemen

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Pagebluk dan Momen Kebangkitan

8 Juli 2021   15:01 Diperbarui: 9 Juli 2021   07:50 564
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
ilustrasi lawan corona. (sumber: ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT via kompas.com)

Pagi sehat, sore gebluk terjatuh, dan mati. Pagebluk dikenal sebagai istilah pengganti pandemi Flu Spanyol 1918 di tanah air. Situasinya serupa dengan yang terjadi saat ini, saatnya membangkitkan kekuatan bersama.

Berdasarkan sejarah, pandemi hadir bersama spirit kebangkitan, dibutuhkan semangat yang sama hari-hari ini untuk keluar dari kesulitan akibat pandemi. (Siti Hasanah, Kebangkitan Dokter Pribumi dalam Lapangan Kesehatan, 2020.)

Pelajaran penting pandemi di awal abad 20 di tanah bumiputera adalah kemunculan kelompok intelektual sebagai lapisan tercerahkan, berhadapan dengan realitas kesenjangan sosial yang terjadi dalam kerangka kolonialisme.

Sentimen kebangsaan muncul ketika berhadapan dengan wabah pes, lepra hingga influenza. Bidang Kesehatan berkaitan dengan kebijakan dan format politik. Saat itu, kebijakan rasial memperburuk kemampuan pelayanan kesehatan.

Para dokter Jawa, sebutan lulusan STOVIA saat itu, meski menjadi dokter kelas dua dari dokter-dokter Belanda, tetapi mereka menjadi ujung tombak penting penanganan wabah secara langsung di masyarakat.

Tetapi memang pandemi tidak bersifat tunggal, banyak dimensi bersisian yang saling berkaitan. Sesuai Heri & Hendra, Pagebluk dan Perilaku Irasional di Vorstenlanden Abad XIX, 2020, ada persoalan pengetahuan publik dan mitos yang berkembang dalam kehidupan masyarakat.

Lebih jauh, Ghana & Yenita, Reaksi Penduduk di Wilayah Minim Akses pada Fase Awal Pandemi Covid-19, menyebut ada kesenjangan informasi yang membuat masyarakat memiliki persepsi risiko yang rendah atas penularan wabah, ditambah dengan keberadaan kapasitas sistem kesehatan yang terbatas di daerah.

Persepsi publik atas pandemi tidak seragam, hal itu menyebabkan perilaku yang dihasilkan berbeda. Dalam perbedaan itu, potensi konflik horizontal maupun vertikal menjadi terbuka, karena cara bertindak yang diambil berlainan.

Dalam kekacauan situasi, akibat kegagapan berhadapan dengan pandemi, serta berlimpahnya informasi liar mengenai wabah, membuat kita sangat mungkin berhadapan dengan kegagalan dalam upaya menyelamatkan nyawa masyarakat.

Kemampuan menangani pandemi melibatkan dua entitas yang saling berhubungan, yakni pemangku kekuasaan dan publik. Pertalian antara keduanya adalah rasa saling percaya.

Publik memberi legitimasi bagi kekuasaan untuk bertindak, sementara itu pemangku kekuasaan perlu segera mengambil berbagai kebijakan serta tindakan yang dibutuhkan untuk segera memecahkan permasalahan publik.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun