Mohon tunggu...
Yudhi Hertanto
Yudhi Hertanto Mohon Tunggu... Penulis - Simple, Cool and Calm just an Ordinary Man

Peminat Komunikasi, Politik dan Manajemen

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Ben Bland diantara Kontradiksi dan Kontroversi

14 September 2020   04:09 Diperbarui: 14 September 2020   04:10 573
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Kontroversial. Buku karya Ben Bland menimbulkan keriuhan. Tidak hanya menyangkut judul dan isi, tentu saja juga terkait dengan beragam tanggapan atas hadirnya buku tersebut.

Keberadaan buku berjudul, "Man of Contradictions, Joko Widodo and the Struggle to Remake Indonesia" dalam 180 halaman itu, menjadi sebuah upaya untuk menafsir dan mendeskripsikan arah kepemimpinan nasional.

Sebelum masuk ke dalam pembahasan terkait isi buku yang terbagi ke dalam enam bab yang saling bersinggungan tersebut, kita harus memahami konteks sosial yang terjadi dalam gelanggang politik di Indonesia. Peta politik berubah pasca pemerintahan SBY, dalam dua gelombang besar pada 2014 dan 2019 Joko Widodo -Jokowi menjadi pemenang dari kontestasi demokrasi secara berturut-turut. 

Bersamaan dengan itu, terbentuk pula kelompok besar barisan pendukung dan penentangnya. Bagi pemuja Jokowi, maka buku Ben Bland tidak ubahnya sebagai pamflet gelap yang mendiskreditkan, bahkan dianggap mendelegitimasi kepemimpinan Sang Presiden. Sementara itu, untuk kubu penentangnya, hasil penelitian Ben Bland adalah durian runtuh, sebagai amunisi tambahan dalam menilai periode kepemimpinan yang berlangsung.

Diantara realitas pecinta -lovers dan pembenci -haters, sesungguhnya rasionalitas harus tegak, agar kita mampu mencerna secara utuh tawaran teks yang diajukan dalam tesis Ben Bland.

Sekali lagi, kita perlu melihat Ben Bland, pada kriteria sebagai seorang peneliti, maka hasil penelusuran memperlihatkan Ben Bland adalah selaku Direktur proyek Asia Tenggara di Lowy Institute.

Sementara itu, Lowy Institute merupakan sebuah lembaga kajian kebijakan tentang isu-isu politik, strategis dan ekonomi internasional dari perspektif Australia, berpusat di Sydney secara non partisan. 

Sebagai seorang peneliti, Bland memiliki gelar akademik dalam Studi Asia Tenggara dari School of Oriental and African Studies di University of London, serta mendapatkan gelar sarjana dalam bidang ilmu Sejarah dari University of Cambridge.

Dengan begitu, kita tentu mampu melihat kapasitas dan kompetensi Ben Bland dalam merilis hasil kajian yang dibukukan ini, sebagai produk akademik yang dapat dipertanggungjawabkan .

Lebih jauh lagi, dalam pilihan judul buku, Bland menempatkan posisi "Man of Contradictions" sebagai tajuk utama, hal tersebut menjadikan susunan buku yang dicetak pada medio September 2020 ini selayaknya biografi politik Joko Widodo pada tahun awal di periode kedua pemerintahannya. 

Judul utama tersebut ditambah dengan anak judul, "Jokowi and the Struggle to Remake Indonesia", yang memberikan gambaran dari upaya keras Jokowi selaku pemimpin Indonesia, untuk membawa perubahan bagi negaranya. Dengan begitu, maka makna kontradiksi tidak menjadi sebuah label negatif.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun