Mohon tunggu...
Yudhi Hertanto
Yudhi Hertanto Mohon Tunggu... Penulis - Simple, Cool and Calm just an Ordinary Man

Peminat Komunikasi, Politik dan Manajemen

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Memahami Irasionalitas Kekuasaan di Sosial Media

3 Desember 2018   09:25 Diperbarui: 3 Desember 2018   09:30 225
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Kehadiran sosial media, membawa wajah Janus bersamanya. Dewa yang bermuka dua, adalah bentuk dari kompleksitas persoalan atas keseluruhan sisi kehidupan kita. Efek baik internet dan sosial media tentu menjadi tujuan yang hendak dicapai, tetapi secara bersamaan kita sulit untuk dapat melepaskan dampak turunan negatif yang terkait.

Apakah kemudian adopsi teknologi, selaras dengan perkembangan serta kemajuan teknologi itu sendiri, atau justru menjadi ancaman bagi kemanusiaan? Jawabannya tentu sangat dinamis, bisa ya bisa juga tidak, bergantung kita selaku end user bersikap terhadapnya.

Prinsip paling sederhana, pisau tidak membunuh manusia, tetapi manusialah yang membunuh manusia. Maka aspek man behind the gun, mengungkapkan peran penting manusia dalam mempergunakan alat bantu yang pada awalnya dipergunakan untuk kebaikan dirinya. Komunitas berjejaring, sesungguhnya telah hadir sebelum internet dan sosial media muncul.

Pembedanya, dulu kerangka pembangunan jaringan dilakukan secara manual, tidakrealtime, sedangkan kini menjadi sangatupdate. Proses pertukaran informasi sedemikian cepat, meringkas ruang dan waktu. 

Kini jejaring itu juga sama efektifnya dipergunakan dalam kepentingan negatif, pada berbagai hal, persoalan kriminalitas, moralitas hingga integritas. Terbayangkan bagaimana pada kasus didunia maya, persebaran informasi bohong alias hoaks, seolah merembet dalam kecepatan cahaya diruang hampa tanpa ada filter seleksi.

Pertanyaannya lantas, bagaimana mereduksi dampak negatif dan memperbesar muatan positif? Tentu perkara yang tidak mudah, dan penekanan yang dibuat bagi aspek negatif adalah reduksi bukan eliminasi, karena keburukan bersifat melekat secara permanen dalam sebuah entitas. Secara filosofis, hal ini dimaknai sebagai sisi gelap dari sebuah kondisi terang, malam disebagian wilayah adalah pagi yang cerah pada bagian wilayah lain.

Jika efek residual menjadi senyawa yang homogen bersamaan dengan keberadaan suatu substansi, maka yang perlu dilakukan adalah menguatkan pemahaman untuk menghindari efek residual yang tidak diinginkan tersebut. Bagaimana caranya? Tegakkan kemampuan berpikir kritis dan reflektif, akankah konsumsi isi sebuah media menjadi penting, dirasakan perlu dan memiliki nilai bermanfaat dalam menambah kemanusiaan kita? Atau hanya berpotensi menghadirkan ruang kontroversi bahkan konflik yang tidak berkesudahan? Sekali lagi pilihannya ada ditangan kita.

Dibutuhkan kemampuan untuk melakukan konsumsi -pembacaan media, termasuk didalamnya sosial media tentu membutuhkan kekuatan daya nalar, (1) hegemonic -menerima tanpa syarat, (2) negosiasi -bisa bersepakat dan dapat pula tidak sependapat, atau (3) oposisional -membangun posisi yang berlawanan.

Media sebagaimana Mc Luhan nyatakan adalah perpanjangan tangan dari indera manusia, dengan demikian upaya menggunakan media, ditujukan untuk dapat memanusiakan keberadaan kemanusiaan itu sendiri. Apa jadinya bila kehadiran media justru mendekonstruksi eksistensinya sendiri? Ini adalah realitas kita saat ini, yang tengah koyak karena hoaks melalui media sosial.

Kuasa yang Hegemonik

Kenapa berita buruk mudah menyebar? Kita kerap menaruh simpati, memberikan dukungan bagi hal-hal yang memberikan dampak dramatik dan justru lengah untuk melakukan verifikasi pembuktian.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun