Yudhi Hertanto
Yudhi Hertanto karyawan swasta

Ketua Yayasan Berkala Widya Husada-www.akperberkala.ac.id

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Mewaraskan Nalar yang Terbelah!

12 Oktober 2018   10:11 Diperbarui: 12 Oktober 2018   11:07 482 0 0

Tahun politik masih di depan, tetapi hangatnya suasana sudah terjadi saat ini. Bila kemudian tidak dikelola, fase kulminasi ketegangan itu bisa berakhir antiklimaks bagi kepentingan demokrasi itu sendiri. Publik yang dalam orientasi demokrasi harus menjadi fokus dari upaya kebaikan, tidak jarang justru terseret dalam lingkaran keterbelahan elit untuk urusan politik.

Politik sejatinya mencerahkan serta membebaskan, bila kemudian hari-hari ini tampak kusam karena saling sengketa diantara parapihak yang akan berkontestasi hanya ada difase permukaan, belum menyentuh substansi. Pembelaan atas figur yang dijagokan masih berada pada level ikatan emosional yang bisa jadi irrasional. Kecerdasan untuk dapat memahami hakikat, itulah sejatinya yang kita butuhkan dalam upaya bernalar secara waras.

Pelibatan publik secara subordinatif, hanya menghasilkan ketertundukan baru, tanpa upaya kritis untuk memandang politik sebagai pertukaran kepentingan di dalam kekuasaan. Posisi kita yang kini seolah berhadapan atas pilihan politik yang tersedia, membuat kita saling curiga, melepaskan kenyiyiran dalam memandang argumentasi pihak lain sebagai sebuah hal sudah pasti mengandung kesalahan.

Ada baiknya, kita kembali kepada model berpikir yang tidak reaksioner, melakukan pengendapan reflektif. Dalam proses beroleh pengetahuan positif, kita akan mulai perjalanan pencarian kebenaran dengan melakukan sensing -mengindera dengan seluruh pancaindera yang kita miliki, crosschecking ada didalam prinsip tersebut. Setelah itu melakukan asosiasi -menarik relasi kejadiaan saat ini dengan pengalaman yang pernah dilewati, menempatkan cara berpikir kausalitas jika-maka, guna memperoleh pembelajaran atas masa lampau.

Selanjutnya, proses yang dilakukan dalam menemukan hakikat subtansi adalah dengan membangun persepsi -pemaknaan kembali informasi yang telah diolah tersebut. Hingga kemudian melaksanakan fungsi memori -sebagai upaya menyimpan rekaman atas makna informasi sebagai kekayaan pengetahuan, dan pada akhirnya sampai kepada kerangka thinking-merumuskan pilihan dan pengambilan keputusan sebagai sebuah kesimpulan.

Keseluruhan ini berlangsung pada situasi yang berkesinambungan dan siklik, secara berulang, sampai pada kualitas baru dalam pencerahan pemikiran. Kita perlu sadari, bahwa dalam kerangka komunikasi, terutama diranah politik sangat terkait dengan upaya memberi persuasi -pengaruh, sebagai langkah mendapatkan otoritas kuasa -power. Dimana sebuah informasi perlu juga ditinjau melalui dasar pada aspekretorika.

Pastikan ethos -kredibilitas di pembicara, lalu pikirkan ulang makna informasi yang dilekatkan pada kerangka pathos -emosi (irrasionalitas), dan lihat apakah informasi tersebut masuk dalam kerangka ketersambungan secara nalar -logos (logika rasional). Dalam sebuah persuasi yang tulus, maka ketiga aspek tersebut harus tuntas terverifikasi. Bila tidak, maka waspada ada selubung yang tersembunyi.

Berpikir di Kulit Permukaan

Pada sebuah kepentingan, kerapkali mengaburkan apa yang seharusnya menjadi sebuah kebenaran objektif, cara memandang menjadi sangat subjektif tanpa melihat ruang kebenaran lain. Tokoh semisal Lysenko menjadi menarik sebagai bahan kajian, pakar biologi era Uni Soviet ini kemudian menyimpulkan terdapat persoalan berkait solidaritas sosial yang kemudian diterjemahkan dalam bentuk aplikasi langsung berupa kerapatan jarak tanam tanaman.

Pada beberapa penelusuran lain, Lysenko juga membenarkan bila bibit yang dipanaskan sehingga berada dalam kondisi lembab akan baik ditanah tandus, situasi tersebut selaras dengan filosofi bahwa kemampuan untuk memiliki kualitas terbaik hanya diperoleh melalui tantangan lingkungan yang keras, walhasil bibit tangguh ala Lysenko gagal dan menyebabkan kemunduran pertanian di Uni Soviet.

Ketidakmampuan berpikir secara mendalam membuat kita lebih banyak tersegerak karena stimulus emosional, reaksioner dan bersumbu pendek. Model berpikir yang hanya sampai pada taraf permukaan, adalah objek manipulasi para pencari kuasa -power seeking. Kita tentu berharap, keberadaan kontestasi adalah bentuk kompetisi atas kompetensi, alias kemampuan memberi solusi, bukan menambah masalah.

Lysenko gagal karena memaksakan realitas objektif tertutup ruang ketidaknetralan atas kebenaran yang diyakininya, tidak ada yang paling benar kecuali saya, mungkin begitu pikirnya. Hati-hati, bila itu sudah mulai merasuki cara berpikir Anda, karena kebenaran diri saya bisa diperdebatkan secara berbeda oleh pihak lain. Kemampuan menghargai, bertoleransi dan membiarkan proses adu argumentasi masuk ke subtansi adalah hal terpenting, bukan saja semata mengurai permasalahan tetapi sekaligus memformulasi jawaban.

Mari tegakkan kewarasan kita dari nalar yang kini tengah terbelah ini, agar dapat menjadi kekuatan bersama, tentang kita sebagai bangsa yang merdeka!