Yudhi Hertanto
Yudhi Hertanto karyawan swasta

Ketua Yayasan Berkala Widya Husada-www.akperberkala.ac.id

Selanjutnya

Tutup

Birokrasi Pilihan

Perang Dagang dan Pengaruh Trump

8 Juli 2018   20:29 Diperbarui: 9 Juli 2018   07:10 586 0 0

Trump sungguh-sungguh hendak membuktikan komitmen kampanyenya, dengan slogan "Make America Great Again". Membangkitkan kedigdyaan negara adikuasa itu kembali untuk tidak hanya disegani tetapi sekaligus ditakuti. Keunggulan teknologi dan persenjataan perang negeri Paman Sam adalah kekuatan yang menjadi pembeda, dengan penekanan posisi sebagai polisi dunia.

Pertumbuhan kekuatan ekonomi baru di dunia, khususnya BRIC --Brazil, Rusia, India dan China menjadi penantang baru yang kasat mata, serta menggerus hegemoni ekonomi Amerika sebagai pusat kesetimbangan ekonomi dimasa lalu. Bersifat konfrontatif terbuka secara fisik tentu bukan pilihan terbaik, tetapi bermain diruang diplomasi perdagangan masih dapat dimainkan oleh Amerika.

Dalam posisi sebagai polisi dunia, Amerika bermain peran untuk menundukan Korea Utara dan Iran terkait perihal fasilitas nuklir. Peran polisi dunia, dipergunakan oleh Amerika, untuk mengatur faktor-faktor eksternal yang dirasakan terkait dengan kepentingan prioritas Amerika itu sendiri. Prinsip "America First" dikumandangkan sebagai upaya membangkitkan sentiment nasionalisme.

Keluar dari kesepakatan Trans Pacific Partnership (PPP) yang awalnya diinisiasi sebagai upaya menangkal dominasi China, seolah mengisyaratkan implementasi arah proteksionisme baru. Penetapan kenaikan bea tarif produk China dan berbagai negara yang memiliki selisih neraca perdagangan secara positif dan besar, adalah siasat untuk mereformulasi skema transaksi dagang.  

Lebih jauh lagi, Amerika keluar dari kesepakatan iklim Paris yang sudah terjadi pada 2015. Termasuk pula, penolakan Trump atas komunike pengaturan perdagangan dalam konteks multilateral G7, yang diasumsikan mewakili 60% kekayaan global.

Lagi-lagi Trump membuat playing field berbeda. Dalam sejarah dinamika dunia, fluktuasi hubungan berujung pada letupan fisik untuk membangun kesetimbangan baru, Perang Dunia I & II adalah titik perlintasan bagi adu kekuatan sekaligus pengaruh. Prinsipnya "the winner take all", termasuk bentuk relasi, catatan histori dan regulasi transaksi, blok negara yang kalah menjadi pesakitan yang menuruti aturan dari pihak pemenang perang.

Dalam era interkoneksi perdagangan dunia, gagasan globalisasi sendiri dimulai sebagai upaya ekstensifikasi pasar bagi produk Amerika, pembukaan pasar baru dalam asumsi globalisasi, akan menjadi fair bila hambatan dagang dihilangkan, termasuk meruntuhkan proteksionisme, dimana mekanisme pasar dibuka seluasnya.

Seiring waktu, kecepatan pertumbuhan ekonomi terjadi diberbagai belahan dunia jauh melebihi kemampuan Amerika sebagai motor penggerak globalisasi. Tergerus secara ekonomi dilevel dunia, Trump mencoba membangkitkan memori kejayaan Paman Sam dengan membuat ruang gerak baru melalui gertakan.

Maka mudah dipahami, anomali kebijakan Amerika saat ini justru beralih dari kehendak globalisasi menuju proteksi, adalah bentuk gertak Trump untuk kembali membangun persepsi dan menguatkan pengaruh Amerika bagi dunia. Meski bentuk pengaruh tersebut tidak bisa langsungkan secara terbuka dalam mekanisme fisik, melalui perang seperti dimasa lalu, maka Trump mencoba menggunakan instrumen perang dagang setidaknya untuk mengembalikan arah kesetimbangan bagi penguatan posisi kepentingan Amerika.

Kekhawatiran terbesar membayangi dampaknya bagi perekonomian dunia, taktik perang dagang Amerika tentu akan direspon oleh mitra dagang yang terdampak, termasuk China yang akan membuat kebijakan serupa sebagai tindakan balasan. Walau perang dagang kali ini tidak melibatkan instrumen kekerasan, tetapi berpotensi menimbulkan ketegangan. Terlebih lagi, dampak perang dagang akan terasa ke semua sektor yang telah terkoneksi secara internasional, globalisasi adalah suatu frasa yang dulunya dimulai melalui inisiatif Paman Sam.

Kemana semua ini akan bermuara dan berujung?

Kita tentu akan menunggu, yang pasti kondisi saling gertak akan terjadi. Tidak terbayangkan konklusi yang akan dihasilkan, tetapi dapat digambarkan dampak destruktif perang dagang yang masif pada ekonomi global dan tensi relasi internasional, situasi ini ibarat bom waktu yang membutuhkan sedikit pemantik, untuk dapat menghancurkan tatanan yang telah terbentuk dalam makna sesungguhnya.