Yudhi Hertanto
Yudhi Hertanto karyawan swasta

Ketua Yayasan Berkala Widya Husada-www.akperberkala.ac.id

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Memaknai Relasi Jarak dalam Ilmu Komunikasi!

6 Mei 2018   12:13 Diperbarui: 6 Mei 2018   12:13 231 0 0

Seberapa dekat jarak Anda dengan orang lain? Hakikat fisiknya, terlihat melalui estimasi kedekatan, antara dua objek. Sementara itu, pada aspek komunikasi, melalui pendekatan non verbal, memaknai jarak sebagai tafsir atas relasi keterhubungan komunikasi.

Dengan demikian, keberadaan jarak dalam interaksi parapihak didalam sebuah proses komunikasi pun memiliki arti. Terdapat persepsi yang dapat diasumsikan dari jarak yang terbentuk dalam sebuah pola komunikasi. Perhatikan, apakah duduk ataukah berdiri? Lantas dalam posisi seperti apa? Berhadapan, menyamping ataupun bahkan melingkar?.

Lebih jauh lagi, lihat, seberapa jauh jarak komunikasi yang terbentuk?. Edward T Hall memperkenalkan pemahaman Proksemik yang mengilustrasikan konsep makna yang tersembunyi dari keteraturan atas jarak dan ruang. Terdapat konsepsi kewilayahan yang menjadi batas atas tafsir interaksi parapihak.

Teritori yang ditetapkan sebagai zona interaksi, membedakan sebuah relasi atas interaksi yang bersifat intim, personal, sosial hingga publik. Dengan demikian, tafsir jarak dapat dimaknai sebagai kehangatan, keakraban, persahabatan hingga pertentangan dan permusuhan.Anda tentu punya jarak psikologis yang membatasi ruang diri, dari pesaing bisnis Anda kan.

Area wilayah pribadi, dipahami sebagai batas otoritas yang dimiliki individu, sebelum kemudian bersinggungan dengan batas wilayah pribadi milik orang lain, dalam sebuah interaksi sosial. Mengapa jarak dan ruang pribadi, menjadi bagian penting untuk dimengerti?.

Pertama: bahwa struktur jarak dan konsep ruang tidak terjadi dengan sendirinya, Kedua: keteraturan dalam jarak dan ruang tersebut memiliki maksud dan tujuan tertentu, Ketiga: pada jarak dan ruang tersebut interaksi antar individu berlangsung.

Proksemik Politik

Bila demikian, adakah interpretasi ruang dalam wilayah publik yang berkaitan dengan teritori di kancah politik ataupun organisasi? Bagaimana seorang leader menempatkan diri atas para staf? Ataukah bilamana seorang Presiden mengatur diri diantara protokoler berhadapan dengan rakyatnya?. 

Perlu dipahami, jarak dalam prinsip Proskemik berkaitan pula dengan sekat psikologi. Dengan begitu, maka sesungguhnya upaya membangun simpati dan keterikatan rakyat pada pemimpin dapat dibentuk secara permanen dan berkelanjutan, bukan sekedar aksi simbolik atau pencitraan.

Maka ketika ada protes, atas aksi pembagian hadiah dengan cara melemparkannya melalui kendaraan dinas, tentu hal ini terkait dengan kebaikan publik itu sendiri. Diperlukan cara dan model interaksi yang bersifat organik, sehingga tidak hanya menjadi aksi Sinterklas semata.

Jika kemudian menggunakan istilah Everett M Rogers, terkait homophily dan heterophily yang menjelaskan derajat kesamaan, sebagai faktor penting dalam membangun hubungan sosial. Sejatinya, pemimpin mendorong penciptaan figur yang mampu diterima publik atas dimensi homophily yang dimiliki, didalamnya terkait nilai, sikap dan perilaku.

Penerimaan publik atas sikap elit yang masih berjarak, dalam teritori yang terpisah dan tidak membangun upaya guna membentuk entitas kesamaan ini, dapat menjadi boomerang dikemudian hari.  Apa yang tampak dipermukaan sebagai akseptasi publik akan perlakuan elit, akan bisa sangat berubah pada periode pemilihan politik, saat kursi kuasa diperebutkan.

Bagaimana pun, komunikasi menjadi bagian penting dalam kepentingan politik. Tersebab itulah, maka para pemuka negeri, harus mampu mempergunakan bahasa dan simbol yang diperlihatkan ke muka publik dengan sebaik-baiknya. Titik persinggungan kekuasaan dengan rakyat, sudah seharunya menjadi momentum dalam mendorong persepsi dan opini positif!.