Yudhi Hertanto
Yudhi Hertanto karyawan swasta

Ketua Yayasan Berkala Widya Husada-www.akperberkala.ac.id

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Reuni dan Perang Pengaruh di Dunia Digital

8 Desember 2017   09:03 Diperbarui: 8 Desember 2017   09:41 729 2 2

Kehebohan pembahasan tentang reuni, mendadak sontak menjadi trending topic pada linimasa berbagai media sosial. Maklum, reuninya dari sebuah gerakan massa yang sempat mengguncang diakhir tahun lalu, yang bertepatan dengan periode pemilihan kepemimpinan daerah di Ibukota.

Pada sebuah acara telivisi bertajuk ILC dan bukan ILK, semua pihak yang ditengarai terkait baik dalam posisi pro maupun kontra diundang dan dimintakan pendapat yang saling bersilangan, maka kearifan dari pemirsa acara tersebut yang akan memutuskan bentuk kesimpulan akhir diskusi yang panjang tersebut.

Tulisan ini tidak hendak masuk kepada pokok persoalan, karena masing-masing berhak untuk memiliki perspektifnya tersendiri. Hal yang menarik adalah forum tersebut selayaknya ruang diskusi penuh perdebatan, sekaligus menjadi gelanggang transmisi pengaruh dunia digital.

Kita melihat para pemimpin formal dan pemimpin opini yang sama memiliki modal sosial, yang pertama pemimpin formal terbentuk disebabkan karena posisi serta kedudukannya, sedangkan yang kedua pemimpin opini ditunjuk dikarenakan kemampuan individual untuk membawa buah pemikirannya ke tengah public.

Pemimpin perubahan pada berbagai studi kasus, memang seorang pemberi pengaruh alias influencer. Hal tersebut sebagaimana konsep yang diformulasikan Joseph Grenny, at all dalam buku Influencer sebuah Ilmu Baru dalam Memimpin Perubahan. Kelihaian dan keahlian menghadirkan pendapat kemuka adalah sebuah hasil dari praktik berlatih berkesinambungan.

Disisi lain, penciptaan pengaruh adalah bentuk dari kombinasi hadirnya motivasi individual, yang terhubung dengan kemampuan dalam aspek kepribadian serta mendapatkan persetujuan pada banyak pihak diluar lingkup dirinya. Karena itu, statement tentang akseptasi kelompok pengaruh, juga akan semakin memiliki dampak bila jumlah persetujuan akan sebuah gagasan terjadi secara meluas.

Selamat Datang di Klikorasi

Dalam dunia digital dan media massa, aspek kuantitas tercermin pada jumlah like, share and follower. Pada saat yang bersamaan, aspek kuantitas yang meluas tersebut akan menciptakan kualitas baru, terutama ketika timbul viralitas, menjadi bahan pembicaraan public dan trending topic dalam kurun waktu tertentu. Era digital, memfasilitasi bentuk relasi sosial baru yang maya.   

Seperti layaknya didunia nyata, panggung digital pun menciptakan pro-kontra, ruang like and dislike, membentuk lapisan followers and haters. Sekalilagi hal itu adalah konsekuensi normal. Bagi sebagian pihak yang memilih jalur kontroversial, maka haters adalah bentuk publikasi yang bagus untuk menciptakan ketenaran sebuah popularisme digital.

Problemnya secara moral adalah, apakah Anda menikmati keterkenalan yang disebabkan karena tindakan eksentrik dan abnormalitas tersebut? Bila jawabnya iya, maka motivasi yang diangkat dari kehadiran Anda didunia maya, jelas bukan persoalan menegakkan suatu masalah atas nilai benar atau salah, melainkan menginginkan perhatian berlebihan melalui tindakan yang berbeda.   

Di dunia yang terhubung secara online, maka individu yang eksentrik mendapatkan ruang tersendiri. Karena perilakunya yang tidak lazim, maka banyak orang yang terus akan berposisi menjadi haters, dan sang individu menikmati popularitas negatif hal tersebut. Orang perorang yang berperan seperti ini akan terus membentuk dirinya, sekaligus menebarkan pengaruh.

Narsisme dan kepercayaan diri yang keliru, membuat seseorang diranah digital juga tetap akan memiliki followers. Tapi perlu diingat, mungkin saja dari sekian banyaknya followers yang dimiliki, bahkan bisa jadi seluruhnya hanya stalkers yang menunggu tingkah dan sensasi, yang akan dibuat oleh sang tokoh untuk kemudian bilang, "nah inilah contoh yang tidak boleh ditiru".

Pada latar digital, individu memang kerap tampil secara anomali. Menjadi personal dalam dunia nyata, sementara berubah menjadi bersifat komunal didunia maya. Tampak garang di sosial media, tidak lantas mengungkapkan kesejatian dirinya. Memang dunia digital, adalah hutan entah berantah, semua pihak bisa memproyeksikan dirinya sesuai dengan kehendaknya, serta bisa jadi berbeda dari karakter aslinya, layaknya psikopat.  

Kehadiran para figure seperti ini di jagad media sosial, memang tidak dapat ditolak, tetapi dari mereka pulalah kita akan menjadi lebih banyak berlatih untuk melihat sisi dunia dari kehidupan ini. Ketika demokrasi menjadi semudah klikokrasi, yang cukup dengan sekali tombol klik mengubah segalanya, maka kemampuan untuk mereduksi paparan negatif adalah dengan meningkatkan kapasitas diri melalui literasi media, untuk berlepas dari pengaruh tersebut.

Reuni ini memang sekali lagi spesial, bukan reuni biasa. Dan seperti pada sebuah reuni, maka membangun kesan dan kenangan, sebagai bagian dari keterlibatan pengaruh jelas diperlukan.

Yuk mengamati dan menganalisa. Salam hangat.