Mohon tunggu...
Sri Wahyuni Masudah
Sri Wahyuni Masudah Mohon Tunggu... An English Teacher

Menjadi guru bukan berarti tau segalanya dan selalu benar. Guru juga manusia pembelajar yang harus selalu upgrade dan mengikuti perkembangan jaman. Long life education!

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Menulis Vs Main Games

11 Juni 2020   06:00 Diperbarui: 11 Juni 2020   06:01 78 3 0 Mohon Tunggu...

Dalam situasi pandemi Covid 19 pemerintah memberlakukan WfH, PSBB, lockdown, Physical Distancing, Social Distancing atau apalah namanya yang mengharuskan kita lebih banyak Stay at home. Istilah-istilah yang muncul belakangan ini lebih cepat dipahami masyarakat di semua lapisan karena era tekhnologi digital yang sangat dasyat, bahkan rakyat kecil di pelosok pun tahu betul apa arti istilah-istilah tersebut.

Stay at home yang panjang bagi kebanyakan orang menimbulkan kejenuhan, karena selama ini mereka terbiasa melakukan aktifitas rutin, bekerja di kantor, pabrik, toko, terminal, kuliah, sekolah dan lainnya. Untuk mengisi waktu dan mengusir kejenuhan beberapa melakukan kegiatan-kegiatan yang menurut mereka bermanfaat atau sekedar melakukan hobi lebih sering dari biasanya. Salah satunya adalah bermain games.

Saya termasuk salah satu orang yang tidak terlalu suka dengan games, namun saat saya mulai mengalami kejenuhan setelah semua aktifitas rutin sebagai ibu rumah tangga selesai, tidak ada pekerjaan dari kantor yang harus dilakukan, tidak ada jadwal kuliah online, mau membaca buku mata terasa lelah, buka-buka akun sosmed adalah rutinitas ekstra yang durasinya lebih panjang dari biasanya.

Di salah satu aplikasi yang paling sering saya buka untuk membaca tulisan-tulisan dari anggotanya dan kebetulan saya juga sedang memulai belajar menulis, seringkali saat saya kembali ke beranda akun, berseliweran status yang isinya tantangan memainkan sebuah game sebut saja Bubble shooter dan akan muncul peringkat terbaik.

Awalnya saya coba-coba karena penasaran, setelah saya buka rupanya permainan menembak bola-bola warna-warni, simple tapi bisa bikin pemainnya ketagihan, hehehe. Biasanya saya memainkannya saat mulai ada rasa bosan membaca, atau gak ada ide untuk menulis. Nah, singkat cerita kemarin sambil nge-game kok tiba-tiba terbersit di pikiran saya bermain game ternyata gak beda jauh dengan menulis.
Kok bisa? Pasti muncul pertanyaan seperti itu.

Simpelnya seperti ini, awal-awal memainkan game yang baru pasti banyak gagalnya dan skor minim banget dan jangan tanya peringkat, pastinya impossible langsung berada di urutan 10 besar. Analogi yang pas bagi kita yang baru mulai belajar menulis (sama seperti saya juga), terbata-bata dan kalaupun dipaksa diposting pasti sedikit sekali like dan komentar, lebih parah lagi tidak ada yang like dan tenggelam tergerus tulisan-tulisan yang baru.

Andai kita putus asa dan nyerah selamanya kita tidak akan pernah menang apalagi berada di peringkat/level teratas. Sama dengan menulis, kalau baru satu, dua tulisan yang diposting sepi like dan komen lantas kita putus asa, sedih, baperan dan phobia nulis lagi otomatis tamat sudah impian untuk bisa menjadi penulis.

Para gamers yang berada di peringkat 3 teratas adalah mereka yang tidak pernah mau menyerah sampai dirinya mencapai peringkat teratas, mereka seperti orang yang kecanduan dan fokus untuk menjadi pemenang. Tak terhitung berapa ratus kali mereka mencoba menaklukkan permainan. Setelah sekian kali mencoba dan berkali-kali gagal, mereka yang cerdas akan menemukan cara dan trik bagaimana bisa meraih skor yang tinggi dan menjadi pemenang. Inilah yang dinamakan mental juara, konsisten, fokus dan tidak mudah menyerah.

Tidak beda jauh dengan mereka yang sudah berhasil menjadi penulis terkenal, yang buku-bukunya selalu menjadi best seller adalah mereka yang terus menulis, belajar banyak dari kesalahan, belajar dari tulisan orang lain dan belajar tekhnik menulis dari tulisan orang-orang yang sukses duluan. 

Jangan ditanya bagaimana mereka mengalami proses penolakan. Awalnya mereka pasti mengalami banyak kegagalan, bukunya tidak laku, tulisannya banyak menuai kritik dan bully an, itu pasti. Kalau tidak percaya coba deh tanya mereka. Gak mungkin lah sekalinya menulis langsung jadi best seller. Kalaupun ada pasti itu suatu keajaiban atau anugerah dari Tuhan.

Mereka berhasil karena mereka layak dan pantas mendapatkan itu sebagai pejuang yang tangguh. Terus menulis, konsisten, fokus dan belajar melalui proses panjang tanpa sedikit pun menyerah sampai akhirnya pecah rekor sebagai pemenang. Pernah dengar kalimat “Proses tak akan menghianati hasil”? seperti itulah mereka yang melalui proses panjang dimana akhirnya mereka menemukan tekhnik yang benar, belajar dari kesalahan, yang kemudian melahirkan style atau ciri khas yang berbeda satu sama lain dan itu yang membuat mereka menjadi terkenal.

Jadi, kalau kita sudah merasa banyak nulis dan belum juga terkenal, jangan berhenti di tengah jalan dan mengeluh meratapi kegagalan. Terus saja lakukan dan terus belajar sampai kita menemukan tekhnik, trik atau apalah istilahnya yang akan menempa kita menjadi penulis yang handal dan tulisan kita bisa diterima banyak orang. Kalau belum apa-apa sudah menyerah, saya sarankan belajar main game dulu deh sampai menjadi peringkat teratas tak terkalahkan, siapa tahu dapet feel nya di situ, hehe.

Saya menulis ini adalah untuk memotivasi saya sendiri dan mudah-mudahan anda semua yang lagi belajar seperti saya bisa merenungkan analogi ini yang idenya muncul saat saya lagi getol ngejar peringkat, dan belum juga di peringkat 1. 

Pernah sekali cuma sampai di peringkat 2 setelah itu tergeser pemain lain yang lebih lihai karena mungkin jam terbang mereka mencoba memainkan game itu sudah jauh melebihi usaha saya. Asyik-asyik saja karena saya menikmati prosesnya dan sudah sedikit menemukan trik meraih skor tinggi dan gak gampang game over, tapi tetap saja masih sering gagal lagi, gagal lagi. Saya masih penasaran bagaimana bisa meraih skor sampai seribu lebih.

VIDEO PILIHAN