Yoyo
Yoyo

Tour leader. Pengamat buku, kutu buku, penggila buku dan segala hal yang berbau buku.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Papa Meninggal (Lanjutan)

9 Februari 2018   01:26 Diperbarui: 9 Februari 2018   01:47 900 0 0
Papa Meninggal (Lanjutan)
Papa meninggal dunia

"Kenapa hari ini Cindy seperti tidak bernafsu dengan puzzlenya?" tanya Mama.

"Nggak tau, Ma. Sudah beberapa hari dia bersikap begitu," sahut saya.

Kami bertiga sedang berada di rumah sakit. Mbaknya Cindy, kami tinggal supaya rumah tidak dalam keadaan kosong. Anak saya Cindy baru berusia 3 tahun dan mengidap penyakit autis. 

Cindy duduk di lantai dengan beberapa puzzle di sekitarnya. Sikapnya terasa aneh. Tidak dipedulikannya semua mainan itu. Melalui jendela, matanya menatap ke arah langit seperti sedang menatap sesuatu. Kami memperhatikan sejak tadi dia terus saja bersikap begitu.

Tiba-tiba Cindy menunjuk-nunjuk ke arah langit, lalu dia berkata dengan suara lirih, "Hari ini Opa meninggal."

"Hihihihi...dasar anak kecil khayalannya luar biasa," kata Mama geli mendengar omongan cucunya.

Saya yang sedang merasa akrab dengan Papa tentu saja tidak mengizinkan dia berbicara seperti itu. Segera saya hampiri dia, "Cindy, kamu nggak boleh ngomong begitu."

Anak itu tidak bereaksi. Matanya masih terus menatap keluar jendela dan kembali menunjuk ke arah langit. Saya ikuti arah telunjuknya tapi tidak terlihat ada sesuatu apapun di luar sana.

"Cindy! Liat Mama. Cindy, liat Mama," kata saya.

Cindy menengok tapi matanya menghindar beradu pandang. Saya pegang dagunya lalu saya paksa untuk menatap ke arah saya, "Cindy, liat mata Mama."

Dengan gerakan perlahan, Cindy mau juga menatap saya. Sebelum saya tanya, dia sudah berkata lagi, "Hari ini Opa meninggal."

"Cindy!" kata saya setengah membentak, "kamu nggak boleh ngomong begitu."

Cindy tidak menyahut. Pandangannya terasa aneh tapi dia tidak berusaha untuk melepaskan pandangannya dari saya.

"Dari siapa kamu tau Opa meninggal? Coba kasih tau Mama. Dari siapa?" kata saya lagi.

"Dari Tuhan," kata Cindy lagi dengan nada sangat serius.

"Hihihihihi..." Mama tertawa lagi. Dia nampak geli melihat kelakuan Cindy. Tapi buat saya hal itu sama sekali tidak lucu. Omongan Cindy malahan membuat saya merinding karena saya betul-betul takut akan kehilangan Papa.

Melihat saya tidak berkata apa-apa lagi, Cindy bangkit dan berjalan ke arah jendela. Seperti tadi jarinya menunjuk-nunjuk ke angkasa, mulutnya berkomat-kamit seakan sedang berbicara dengan seseorang.

"Wah, sudah hampir jam 11! Mama pergi dulu ya, Yo," kata Mama seraya melirik ke arah jam di pergelangan tangannya..

"Okay, Ma," jawab saya.

Mama menggamit lengan Cindy, menariknya dari jendela,"Yuk, Cindy. Jalan-jalan sama Oma, yuk?"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5