Yose Revela
Yose Revela Penulis Lepas

YNWA. Wonosobo, 14 Juli 1992

Selanjutnya

Tutup

Bola

Menyoal Dikotomi Suporter Sepak Bola di Indonesia

13 Juli 2017   15:33 Diperbarui: 13 Juli 2017   15:57 178 3 1

Jika bicara soal sepak bola, tentu tak lepas dari suporter. Suporter memang menjadi nafas semangat sebuah pertandingan. Dengan gaya masing-masing, mereka mampu menghidupkan suasana. Tak jarang, suporter rela berpenampilan unik, meski disorot banyak orang, demi menunjukkan rasa cintanya, kepada tim yang ia dukung. Sebuah hal yang sebetulnya positif.

Pada prakteknya, rasa ciinta suporter kepada klubnya, justru menghadirkan satu ungkapan;"seorang suporter sejati, adalah mereka yang pernah menonton langsung tim pujaannya di stadion". Ungkapan ini, juga berlaku di Indonesia. Berangkat dari ungkapan ini pula, muncul cap "Suporter layar kaca", untuk mereka yang hanya setia menonton tim pujaannya di televisi atau gawai.

Sekilas, tak ada yang salah dengan ungkapan ini. Tapi, jika dilihat lagi, ungkapan yang memunculkan dikotomi (penggolongan) pada suporter sepak bola ini adalah sesuatu yang sebetulnya sangat picik. Karena, hanya memandang dari satu sudut pandang saja.

Kepicikan itu terlihat jelas, dari fakta yang ada, khususnya pada klub dengan jumlah suporter yang sangat banyak (misal jutaan suporter). Normalnya, sebuah stadion hanya mampu menampung puluhan ribu orang. Itupun masih dikurangi, dengan alokasi tiket untuk suporter lawan, jurnalis, aparat keamanan, dan jumlah maksimal penonton, yang direkomendasikan pihak aparat keamanan. Karena, jika jumlah suporter terlalu banyak, potensi terjadinya masalah keamanan akan makin besar. Jika terjadi masalah keamanan, pihak aparat keamanan akan sulit mengatur ketertiban.

Sebagai contoh, jika memakai jumlah laga kandang satu klub klub Liga 1 dalam semusim, (17 laga), dengan rerata suporter tim tuan rumah yang datang sebanyak 40.000 orang, maka jumlah orang yang datang ke stadion dalam semusim ada 680.000 orang. Jumlah ini, sudah termasuk para pemegang tiket terusan (musiman), pemegang tiket 'gelap' (membeli tiket lewat calo), dan mereka yang memang rutin menonton langsung, tanpa membeli tiket musiman. Di sini, kita menemui fakta, meski sebuah klub memiliki jutaan suporter pun, jumlah suporter yang bisa masuk ke stadion masih sangat terbatas.

Selain itu, kepicikan para suporter pemberi 'cap' ini memperlihatkan, mereka tidak peka dengan situasi yang ada. Untuk konteks Liga Indonesia saat ini, menonton laga di stadion masih menjadi hal yang menyeramkan, terutama saat tim tuan rumah gagal menang. Karena, potensi kerusuhan akan membesar. Di sini, sering timbul korban luka, bahkan meninggal dunia. Belum lagi, masih banyak suporter, yang harus bekerja keras demi menyambung hidup. Dalam situasi semacam ini, menonton lewat layar kaca (TV/ streaming) adalah opsi paling rasional. Lagipula, sekarang adalah era kemajuan teknologi.

Dari segi aksesibilitas, dan infrastruktur pun, stadion-stadion di Indonesia belum seluruhnya memadai. Di saat stadion-stadion di luar negeri sudah menyediakan tempat khusus untuk suporter difabel, perawatan rumput, dan aksesibilitas transportasi menuju stadion yang baik, kita masih disibukkan dengan masalah kembang api, lapangan becek, dan lampu stadion. Ini jelas memprihatinkan.

Menonton langsung tim kesayangan di stadion memang membanggakan. Tapi, itu bukan alasan, untuk seseorang dapat memberi cap dikotomis (membedakan), atau bahkan 'merendahkan', kepada mereka, yang setia menonton tim pujaan di layar kaca, atau sekadar mengikuti lewat berita. Karena, seperti halnya mencintai pasangan hidup, mencintai sepak bola, yang bersifat universal (lintas batas) hanya memerlukan ketulusan tanpa syarat.

Bukan begitu?