Mohon tunggu...
Yose Revela
Yose Revela Mohon Tunggu... Freelancer - Freelance

YNWA. Wonosobo, 14 Juli 1992 yoserevela@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

"Football's Coming Home", antara Harapan dan Toksisitas

5 Juli 2021   01:21 Diperbarui: 5 Juli 2021   09:39 786
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Football's Coming Home (Vectorstock.com)

"Football's Coming Home" alias "Football is Coming Home"

Begitulah narasi yang beredar di kalangan media dan suporter Timnas Inggris, seturut keberhasilan Harry Kane dkk lolos ke semifinal Euro 2020, setelah menggasak Ukraina dengan skor 4-0 di Roma, Minggu (4/7, dinihari WIB).

Sebelumnya, narasi ini juga bergaung kencang, saat Tim Tiga Singa mengalahkan Jerman dengan skor 2-0. Sebuah hasil bersejarah, karena menjadi kemenangan pertama atas Tim Panser di Euro sejak tahun 2000.

Memang, di turnamen kali ini, tim asuhan Gareth Southgate mampu mencatat performa impresif: 4 kali menang dan sekali imbang tanpa kebobolan. Catatan bertahan ini juga dilengkapi dengan performa bagus lini serang, dengan Harry Kane dan Raheem Sterling sama-sama mampu membuat tiga gol.

Mereka juga cukup beruntung, karena mampu memanfaatkan performa menurun Timnas Jerman, dan pemain Ukraina yang tampak demam panggung. Keberuntungan ini terlihat lengkap, karena tim-tim unggulan lain seperti Belgia, Italia, Spanyol dan Portugal harus saling baku hantam di fase gugur, selagi Belanda, Prancis dan Kroasia sama-sama masuk kotak.

Alhasil, selagi Italia dan Spanyol harus saling bunuh di semifinal, Inggris "hanya" bersua Denmark, tim yang sebelumnya nyaris tak lolos dari fase grup. Situasi ini kebetulan mirip, dengan perjalanan mereka di Piala Dunia 2018, saat itu mengatasi Kolombia dan Swedia, sebelum akhirnya kalah dramatis atas Kroasia di semifinal.

Di atas kertas, The Three Lions akan lebih diunggulkan, karena sejauh ini memang tampil impresif. Jadi wajar jika jargon "Football is Coming Home" kembali bergaung di media dan fans negara asal sepak bola modern ini.

Di satu sisi, ini memang menjadi sebentuk optimisme untuk meraih prestasi setinggi mungkin, sekaligus menjawab ekspektasi tinggi yang selama ini sudah ada.

Maklum, mereka sudah punya salah satu liga terbaik dunia saat ini, tapi selalu gagal melangkah jauh di turnamen mayor. Di Euro 2020, jargon itu menjadi satu harapan, melanjutkan keberhasilan mencapai semifinal di Rusia.

Ada harapan dan potensi yang mampu terus dijaga, berkat performa yang terus meningkat di tiap pertandingan. Dari situ, harapan terlihat makin dekat dengan realita.

Masalahnya, harapan dengan gaung optimisme besar ini belakangan cenderung gaduh, terutama setelah media dan sebagian fans kompak memberikan pujian setinggi langit kepada tim.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bola Selengkapnya
Lihat Bola Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun