Mohon tunggu...
Yose Revela
Yose Revela Mohon Tunggu... Content Writer merangkap Karyawan Swasta

YNWA. Wonosobo, 14 Juli 1992 yoserevela@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Geliat Liga-liga Eropa di Masa Pandemi

13 Juni 2020   21:36 Diperbarui: 13 Juni 2020   22:20 28 5 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Geliat Liga-liga Eropa di Masa Pandemi
Tribunnews.com

Setelah sempat vakum selama beberapa pekan terakhir akibat imbas pandemi Corona, liga sepakbola di Eropa mulai bergulir, dengan Bundesliga Jerman sebagai pionirnya. Belakangan, liga-liga Eropa lainnya menyusul satu persatu.

Di Italia, geliat kompetisi sepak bola dimulai, dengan menyajikan leg kedua semifinal Coppa Italia, antara tuan rumah Juventus vs AC Milan. Laga di Juventus Stadium ini berlangsung tanpa penonton.

Meski berakhir imbang tanpa gol, dan diwarnai penalti gagal Cristiano Ronaldo, Tim Zebra tetap lolos ke final, berkat keunggulan gol tandang. Di leg pertama, Juventus bermain imbang 1-1 saat bertandang ke markas AC Milan.

Di Spanyol, kompetisi La Liga Spanyol mulai bergulir kembali, meski tanpa penonton di stadion. Laga pembuka masa "restart" La Liga cukup menarik, karena mempertemukan dua tim asal kota Sevilla, yakni Sevilla FC dan Real Betis.

Laga bertajuk El Gran Derby ini berlangsung di Estadio Ramon Sanchez Pizjuan, dan dimenangkan tuan rumah Sevilla dengan skor 2-0, berkat gol Fernando Reges dan penalti Lucas Ocampos. Kemenangan ini membuat tim asuhan Julen Lopetegui duduk manis di posisi ketiga klasemen sementara dengan torehan 50 poin, sekaligus menjaga peluang lolos ke Liga Champions musim depan.

Uniknya, satu pemandangan tak biasa justru terjadi di Serbia, tepatnya di babak semifinal Piala Serbia. Dalam laga bertajuk "Eternal Derby", yang mempertemukan tuan rumah Partizan Belgrade dan Red Star Belgrade, ada 25 ribu penonton menyaksikan langsung laga ini di Stadion Partizana, Kamis, (11/6, dinihari WIB).

Dalam laga ini, Partizan menang 1-0 berkat gol tunggal Bibras Natcho, pemain asal Israel. Kemenangan ini membawa Partizan lolos ke final, dengan tim asuhan Savo Milosevic (eks pemain Parma) ini akan menghadapi Vojovodina.

Suasana laga Eternal Derby (Kompas.com)
Suasana laga Eternal Derby (Kompas.com)
Tentunya ini terlihat tak biasa, terutama di masa pandemi Corona seperti sekarang. Tapi, di Serbia ini wajar, karena pemerintah Serbia memang tidak menerapkan aturan social distancing sejak awal merebaknya pandemi. Meskipun, sejauh ini ada lebih dari 12 ribu kasus terkonfirmasi dan lebih dari 200 kematian di negara Balkan ini.

Pada prosesnya, kehadiran suporter di Serbia memang bertahap. Sebelum  laga Eternal Derby,  Red Star Belgrade lebih dulu menjalani pertandingan di stadion yang hanya terisi separuhnya, saat menghajar Radnik Surdulica (klub yang saat ini dibela Witan Sulaeman) dengan skor akhir 4-1 di liga. Kemenangan ini sekaligus memastikan gelar juara liga buat Red Star, yang kini dilatih Dejan Stankovic, legenda Inter Milan.

Meski ada kompetisi liga Eropa yang sudah dinyatakan "tutup buku", seperti Ligue 1, Eredivisie Belanda, dan Liga Belgia, tentunya "restart" Bundesliga, La Liga, dan situasi "normal" yang ditampilkan di Serbia, jelas menjadi satu paket kabar baik. Belum lagi, jika ditambah dengan Liga Champions dan Liga Inggris, yang akan segera "restart".

Jika terbukti berdampak positif, bukan tak mungkin ini akan jadi satu indikator untuk penerapan "new normal" secara konsisten dan lebih luas. Tapi, kita baru akan bisa melihatnya dalam beberapa pekan ke depan.

Memang, kita masih belum tahu pasti, kapan pandemi Corona akan berakhir. Tapi, lewat "restart" kompetisi liga-liga Eropa ini, tetap ada secercah harapan di tengah segala ketidakpastian. Masih ada kesempatan untuk jadi pemenang, dan hari esok untuk pecundang, karena harapan positif yang ada, lebih kuat dari rasa takut pada virus Corona.

VIDEO PILIHAN